Berumur 5 tahun, kecil memang. Tapi, aku bisa apa? Tinggal di dalam hutan yang hingga sekarang belum dikenali oleh orang tuaku. Disini, tidak ada apa-apa. Gelap, liar, buas, sepi, dan... misterius. Diujung jalan setapak ini ada jalur yang memang sengaja di block dengan kayu bakar yang bertumpuk-tumpuk sampai tinggi menjulang, cocok sebagai penghalang anak kecil. Sampai sekarang pun, aku belum sempat bertanya pada kedua orang tuaku akan hal ini. Akan tetapi, hati kecilku berkata agar aku tetap diam hingga tiba saat yang tepat.
Semua serba kurang ini dapat ku kesampingkan sebagai layaknya buku-buku cerita yang dilapisi dengan debu tipis. Ini adalah imbas yang kudapatkan karena tidak bersekolah, ketika aku dalam waktu senggang yang kulakukan hanya membaca buku tematik yang dibeli ayahku di perkotaan dekat dengan hutan belukar ini. Oh ya, rumahku belum kuberitahu, rumahku hanyalah gubuk kayu yang masih dianggap kokoh oleh kami bertiga, Aku, Ayah dan Ibu.
Untuk saat ini kami hampir diujung tanduk. Usaha ayahku yang hanya menebang kayu bakar setiap harinya tidak dapat menopang hidup kami sekeluarga. Ibuku sedang mengandung adikku, sudah 6 bulan lamanya. Aku yang masih hijau dipaksa untuk mengangkut kayu bakar dari dalam hutan demi memudahkan pekerjaan ayahku. Hingga kemudian...
"Darren, tolong ambilkan kapak itu, nak"
...........
"Darren?? Ayah bilang, tolong ambilkan kapak ayah"
..........
Ayahku menoleh ke belakang. Aku tidak disana waktu itu. Waktu itu memang saatnya aku mengantar kayu bakar. Diriku yang masih dini untuk bekerja secara kasar, sungguh menyulitkan ku untuk mengangkat ataupun menelusuri jalan kembali.
Plang! Plang!
"Aduh! Kayunya jadi berserakan.. bikin kesal saja..."
Keluhku memang tidak akan membantu, tetapi setidaknya dapat menyalurkan emosi ku yang sedang memenuhi isi kepalaku ini.
" Kayunya kok malah kurang ya?? Perasaan tadi banyak.."
"Ah sudahlah, aku harus mengantar ini"
Ketika aku membalikkan badan seraya melihat jalan, aku terkejut. Kayu-kayu ini membuatku tersasar dari jalan yang harus kutempuh. Jujur saja, hutan belukar ini tidak jauh berbeda dari gulungan benang kusut.
"Seingatku, jalannya ada pohon yang sering jadi tempat aku beristirahat. Mana yaa??"
Kebingungan. Hal yang wajar bagi anak 5 tahunan. Berpikir memang tidak mustahil, namun menghafal jalan pulang masih terlihat sulit bagi seorang Darren.
Situasi yang tidak jauh berbeda dialami oleh ayahku. Hari sudah mulai petang, aku tidak kunjung kembali. Ayahku memutuskan untuk meninggalkan hasil tebangnya, untuk mencariku di hutan belukar ini.
"Darren! Darren! Ini ayah! Jawab ayah!"
Semakin rumit. Jalan di hutan ini membelah menjadi banyak jalur yang memusingkan, bahkan untuk seorang penebang kayu. Untungnya, ia sering menandai jalan, dan mengetahui jejak kaki anak laki-lakinya yang sering menjatuhkan kayu secara tak sadar.
"Seharusnya jalan yang ini.. Darren! Darren!"
Teriakan yang serupa tertangkap oleh telingaku. Aku beranjak dari tegak ku dan bergegas menuju sumber suara. Ketika aku tiba, yang kudapati hanya setumpuk kayu bakar yang sama tingginya dengan kayu yang berada di jalan setapak di dekat rumahku. Ya, yang menghalangi jalan setapak itu.
Aku terdiam.
YOU ARE READING
Resplendence
Mystery / ThrillerStory Inside Story Entah berawal darimana, tapi hal inilah yang membawaku beranjak lebih jauh dari sekedar rumah dua tingkat. Dengan mu, bersama mu, oleh mu, aku menelusuri tempat yang bahkan orang tua ku tidak sempat percaya. Aku selalu melakukan i...
