Lee Ji Eun menderita tepat di hari pernikahannya karena pria yang seharusnya menjadi suaminya telah pergi meninggalkannya begitu saja. Di saat kesedihan mendalamnya, datang seorang pemuda tampan yang mengorbankan diri untuk menjadi pengantin pria. P...
Lee Ji Eun menatap pantulan dirinya di cermin sambil tersenyum sempurna. Cantik. Ia menilai dirinya sendiri dalam balutan busana pengantin. Hari ini adalah hari pernikahannya dengan kekasihnya Jeon Wonwoo. Mereka telah menjalin cinta selama 6 tahun lamanya.
Hari ini adalah hari yang telah ia tunggu. Hari yang selalu ia nantikan dengan hati berdebar. Ia sungguh bahagia untuk hari ini.
"Aigo, mau berapa lama kau bercermin putriku?" Sang Ibu datang, menatapnya dengan lembut.
"Akhirnya hari ini tiba..." genangan air mata mulai muncul dikelopak matanya namun Ji Eun segera menahan gerak laju air mata itu.
"Tidak, Eomma tidak boleh menangis hari ini. Sebaliknya, aku ingin kita semua tertawa bahagia. Harus!" ucapnya penuh keceriaan. Sang Ibu akhirnya tersenyum.
"Baiklah, ayo kita berangkat. Jangan biarkan calon suamimu menunggu terlalu lama" Ji Eun mengangguk penuh semangat.
Dengan di dampingi Ibu, Ayah, Bibi Kim dan 2 orang periasnya, ia berjalan keluar rumah dengan hati yang luar biasa bahagia. Tetapi senyumnya memudar saat pintu rumah dibuka lebar. Ji Eun terpaku di tempat. Ia manatap lekat seorang pemuda asing di halaman rumahnya.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Si Pemuda menegakkan dirinya berhadapan langsung dengan Ji Eun.
Dengan suara yang tidak terlalu keras, pemuda itu berseru dengan tegas. Ia menyatakan sesuatu yang membuat jantung Ji Eun menyusut hingga ke tanah.
"Menikahlah denganku!"
Tatapan pemuda itu seolah menusuk langsung ke arah sasaran. Ji Eun tidak tahu siapa dia. Seumur hidup, ia belum pernah bertemu dengan pemuda kurang ajar yang ingin mencuri penganting wanita orang lain.
Tapi akhirnya, teka-teki tentang pemuda itu terungkap saat 2 orang turun dari mobil hitam di belakangnya. kedua orang itu adalah orangtua Jeon Wonwoo. Mereka datang tanpa pemeran utama pria hari ini. "Ada apa ini?" Ji Eun bertanya dalam hati. Lidahnya terasa kelu dan hatinya mulai gelisah.
Ibu Wonwoo menghampirinya dengan berlinang air mata. Sepucuk surat tanpa amplop segera ia serahkan pada Ji Eun tanpa mengatakan sesuatu apapun.
Ji Eun membaca singkat, belum semuanya. Tidak perlu membaca semuanya, Ia sudah tahu inti dari surat itu. Kedua tangannya terkulai lemas, bunga yang sedari tadi di genggamnya jatuh ke lantai. Keceriaan di wajah gadis itu telah lenyap seutuhnya, tergantikan dengan kesedihan sempurna. Air matanya keluar, dengan sukses merusak make up yang tadi sempat ia puji karena membuat wajahnya bertambah cantik.
"Putriku ada apa?" Ayahnya bergerak panik, tangannya menarik kertas itu dari tangan Ji Eun. Sang Ibu, meskipun belum membaca surat itu, ia sudah menangis. Instingnya terlalu kuat untuk membaca situasi yang ada.
Ayah Ji Eun meremas kertas itu. Tubuhnya bergetar seperti ingin meninju seseorang, emosi besar menggelayut di hatinya.
Melihat ke tiga orang di depannya sedang hancur, pemuda yang sedari tadi memperhatikan mereka melangkah maju, lalu melipat kedua kakinya ke tanah. Pemuda itu mengajukan permohonan.
"Ku mohon maafkanlah kakakku"
Ji Eun memberanikan diri menatap pemuda yang tengah berlutut di tanah di depannya. Wajah pemuda itu menampakan penyesalan mendalam.Ini bukan kesalahannya namun seolah menimpakan semua kesalahan kepada dirinya.
"Enak saja meminta maaf. Jika pernikahan ini batal, kami semua malu!" Tegas sang Ayah. Ji Eun menatap wajah Ayahnya sekilas, tak menyangka bahwa ia lebih mengkhawatirkan rasa malunya di banding perasaan putrinya sendiri.
"Anda tidak akan malu" Ji Eun kembali memerhatikan pemuda itu. Ia tampak menelan ludah dalam-dalam.
"Pernikahan ini akan tetap berlangsung"
"Hah...bagaimana mungkin!" Cela Ayah Ji Eun.
"Aku...yang akan....menggantikan pengantin pria. Aku, akan menggantikan hyungku!"
Mulut Ji Eun terbuka saking terkejutnya. Bukan hanya dirinya tetapi juga orangtua Jungkook sendiri.
"Ji Eun Nuna" Ia kemudian menatap ke arah Ji Eun. Ia memanggil Nuna karena Ji Eun lebih tua 4 tahun darinya
"Menikahlah denganku!"
Untuk waktu yang lama, mereka saling tatap tanpa suara.