1

9.5K 140 0
                                        

Dengan tergesah aku berlari keruang pertemuan. Sebenarnya aku tidak mau datang kesini tapi karena diancam oleh orang tua bangka itu dengan terpaksa aku harus menghadiri pertemuan yang membosankan ini.

Aku Eri, anak dari seorang pengusaha sukses. Umurku baru beranjak 20 tahun tapi aku sudah memegang salah satu usaha ayah tua bangka itu. Karena hobiku bergulat dengan buku ayah tua bangka itu memberiku salah satu toko bukunya.

Akhirnya sampai juga di tempat pertemuan. Kurapikan jas yang sudah berantakan terlebih dahulu sebelum membuka pintu.

Krek. Bunyi pintu membuat semuanya menatap kearahku tapi hanya seseorang yang tidak memandangku dan hanya menatap handphone dengan serius membuatku mengeryit.

"Kamu lama sekali!" Mulai lagi orang tua bangka itu begitu cerewet.
"Ah ini anakmu? Dia begitu muda." Ujar wanita yang tampak masih muda yang duduk dihadapan ayah.
"Maaf atas keterlambatan saya." Ujarku dengan sopan sambil menyungging senyum.
"Dia juga sangat tampan seperti kamu waktu muda." Puji Bapak disamping wanita yang tentu saja istrinya. Aku memang tampan sih, hehehe.
"Jangan kebanyakan memujinya. Wanita saja tidak pernah dikenalnya. Ketampanannya sia-sia saja." Ingin kubantah perkataan tua bangka itu tapi kutahan karena ada mereka disini. Tunggu saja kau tua bangka!
"Dia hanya tahu isi buku saja. Bagaimana aku bisa punya cucu yang lucu nanti." Wajahku sudah mulai berkerut. Sial! Lagi-lagi cucu yang diungkit. Aku masih muda loh, belum ada niat punya anak. Dasar tua bangka!.
"Makanya kita sekarang berada disini. Mel, berhenti main Handphonmu." Tegur tante itu pada perempuan yang sejak tadi tidak menghiraukan kedatanganku.
Aku beranjak duduk dikursi samping ayah. Kulihat dia mengangkat wajahnya yang sedikit ditutupi rambut hitam panjangnya. Diikat rambut itu kebelakang hingga wajahnya terpampang jelas. Cantik. Tapi ada yang ganjil darinya.
"Maaf om, bisa kita selesaikan sekarang pembicaraan ini?" Ujarnya yang membuat semua orang terkejut.
"Mel, tidak sopan berkata seperti itu pada ayah Eri." Ujar tante itu denan lembut pada perempuan yang bernama Mel. Tapi tidak dipedulikannya.
"Aku setuju dengan perjodohan ini. Selesai." Ujarnya yang langsung bangkit dari kursi. Aku tahu sih pertemuan ini tentang perjodohan tapi apa dia kebelet kawin ya? Sampai bisa memutuskan hal seperti ini dengan mudah.
"Apa-apaan kamu ini. Sopan sedikit pada orangtuamu!" Ujarku yang muak dengan sifatnya. Dia beralih menatapku untuk pertama kalinya. Cantik sekali. Hatiku tidak bisa berbohong saat melihatnya tapi demi harga diri aku bisa menyembunyikannya.
"Kamu sudah menyita 1 jam latihanku. Dan aku sudah tidak punya waktu lagi." Aku baru menyadari pakaian yang dipakainya membuatku terkejut bukan main. Seorang tentara?

"Ini handphoneku." Dia meletakan ponsel itu didepan ayahnya.
"Maaf om, tapi aku harus pergi."
"Ah tidak apa-apa." Orang tua bangka itu tampak tidak mengeluhkan apapun tenang perempuan itu.

"Baiklah, jadi mulai dari mana kita putuskan tanggal pernikahannya?" Whattttsss???? Aku hanya bisa berteriak dalam hati.

Istriku Seorang Tentara [End Part 7]Stories to obsess over. Discover now