Prolog

134 13 15
                                        

"Aku adalah gelap yang mendambakan terang.
Aku adalah mendung yang mendambakan indahnya langit biru. Aku adalah pendamba yang tengah mendamba tawa dalam tangis,
memimpikan bahagia dalam duka."

Kiranya sudah berapa lama aku menetap bersama luka? Bersama rasa yang kerap kali menyakiti diriku sendiri. Aku masih menyimpan rasa ini untukmu, Kha. Masih sama seperti sejak terakhir kali kamu mengatakan bahwa kamu sudah memiliki dia yang kamu pilih sebagai rumahmu. Perasaanku tidak pernah berubah.
 
Aku tahu mencintaimu memang menyakitkan, tetapi aku memang tidak pandai dalam perkara melupakan, tidak sepertimu, Kha. Bagimu mungkin amatlah mudah, namun tidak bagiku. Tidak pernah kukira bahwa mencintaimu adalah hal yang begitu amat menyenangkan sekaligus semenyakitkan ini.

Kamu tahu, Kha? Setelah hari itu, hari dimana kamu pergi dan memporak-porandakan semua alur kisahnya, menyisakan aku dengan luka yang yang tak pernah usai. Aku rebah dalam tangis merasa begitu hancur sehancur-hancurnya. Kini aku hanya dapat merelakanmu tanpa kata, kembali mencintaimu dalam diam, menatapmu dalam pejam, dan menitipkanmu pada semesta. Akan kucoba untuk menerimaa meski nyatanya akan terasa sulit. Karena melupakanmu tak semudah yang di kira.

Bahkan aku masih tidak percaya. Apakah kisah ini memang sudah benar-benar berakhir? Aku tahu itu adalah sebuah pertanyaan konyol, yang jika ditanyakan berkali-kali jawabannya akan tetap sama. "Kamu dan dia memang sudah berakhir, Za." Ya. Aku memang benar-benar bodoh dengan menanyakan pertanyaan seperti itu. Padahal keadaanya memang nyata sudah berbeda, aku sudah berakhir dengannya, dan aku harus menerima. Aku tidak bisa menyalahkan keadaan yang mengatakan bahwa aku sudah berakhir dengannya. Karena pada dasarnya semesta tidak mengizinkan aku dengannya untuk bersama. Dan kamu sudah memilih dia sebagai rumahmu.

Meski merelakanmu memang tak mudah, akan kucoba melepaskan hal yang kukira akan mempersulit hari - hariku, juga yang mungkin tak baik pula untukmu. Tentang aku dan kamu yang begitu rumit.

~..~


"Yud, aku sudah mencintaimu."

Yuda mengalihkan pandangannya padaku. Rooftop sekolah, tempat yang Yuda katakan bahwa ini adalah tempat yang paling tepat untuk membolos pelajaran karena pemandangannya yang cukup indah entah mengapa jadi terasa lebih sejuk dari sebelumnya.

"Berhenti mengatakan hal itu, Za. Matamu tidak pernah bisa berbohong, mulutmu memang bisa mengatakan hal itu beberapa kali, tapi matamu.. ia selalu jujur apa adanya perasaanmu, Za," Kini Yuda menatapku amat lembut, walau begitu, namun aku bisa melihat ada luka disana. Benar, mata memang sulit menipu. Senyum tidak pernah luntur dari kedua sudut bibirnya, senyuman manis yang selalu ia berikan padaku, senyuman yang selalu membuatku sering merasa bersalah dibuatnya.

"Dengar Za, aku memang jatuh cinta padamu. Tapi aku tidak pernah meminta bahkan memaksa kamu untuk membalas perasaanku. Aku akan menunggu, Za."

Aku mengalihkan pandanganku, tidak berani menatapnya. Perkataanya barusan membuatku semakin merasa bersalah. "Kamu memang pandai untuk membuatku semakin merasa bersalah, Yud."

Yuda malah membalasnya dengan tertawa walau hambar.

"Kamu tidak perlu merasa begitu, Za." aku menatapnya, lagi-lagi dia tersenyum lembut padaku, seperti kesabarannya tidak pernah habis dalam menghadapiku.

Seandainya aku bisa dengan cepat melupakannya, dan bisa dengan cepat jatuh cinta pada orang sebaik Yuda. Seandainya waktu itu aku jatuh cinta pada Yuda, dan bukan kepada Sakha. Semuanya memang sudah berlalu, rasanya percuma juga untuk aku berharap dengan kata 'seandainya' dan berharap semuanya dapat kembali seperti semula.

Semesta memang tidak bisa ditebak, kita tidak bisa menduga apa yang akan terjadi pada detik berikunya.

SAKHAWhere stories live. Discover now