PROLOG

87 8 3
                                        

SELAMAT MEMBACA

Kami berjalan beriringan di samping toko - toko minuman dan makanan cepat saji. Memperhatikan orang - orang yang berlalu lalang tanpa berniat membuka suara. Keramaian yang dirindukan, begitulah kami menyebutnya.

Langkahnya terhenti, membuatku mau tak mau ikut berhenti juga. Laki - laki itu menoleh kesamping, menatapku dengan senyum penuh arti.

"Mau segelas kopi?"

Aku hanya mengangguk, kurasa tak terlalu buruk minum kopi dimalam hari.

"Ayo!"

Laki - laki itu menggenggam tanganku, menuntunku ke sebuah cafe sederhana. Tak banyak pengunjung di cafe itu, hanya beberapa yang kuyakin telah lama berada disana walaupun hanya memesan segelas minuman. Mereka hanya berbincang santai, menikmati alunan nada yang entah darimana datangnya.

Kami memasuki cafe bernuansa gelap itu, hawa dingin menyeruak dan aroma khas kopi menyerang indera penciuman kami. Ia menuntunku ke meja yang terletak di dekat kaca transparan yang berhadapan langsung dengan keramaian kota pada malam hari, kemudian mempersilahkanku duduk.

"Mau pesan apa?" kata seorang pelayan menghampiri meja kami. Ia tak terlihat ramah.

Aku melihat - lihat menu minuman yang berada di atas meja, memutuskan satu yang menarik perhatianku sejak tadi.

"Americano satu, kakak pesan apa?"

"Samain aja,"

"Kalau begitu, Americano dua," kataku sambil tersenyum.

"Baik, pesanan akan segera diantarkan," ucap pelayan itu, lalu pergi menyiapkan pesanan kami.

Suasana hening kembali tercipta, masing - masing dari kami selalu saja sibuk memperhatikan. Kali ini, aktivitas orang - orang di luar sana yang menjadi sasarannya.

"Karan, hari ini kamu ulang tahun, kan?"

Suara tegas itu menghentikan lamunanku.

Aku diam, sejenak berpikir. Apa benar hari ini ulang tahunku?

"Bagaimana adik kakak ini bisa lupa ulang tahunnya sendiri?"

Kakak tersenyum, mengusap lembut kepalaku.

"Hehe, sepertinya begitu," aku terkekeh pelan, namun membenarkan. Ternyata kakak tidak lupa.

Dia. Bintang. Tidak. Namanya Bintang, satu - satunya harta berharga milikku. Hanya ia yang kupunya setelah ayah dan ibu meninggal. Ia benar - benar segalanya bagiku. Perbedaan usia kami hanya setahun, namun ia jauh lebih dewasa, bahkan sebelum waktunya.

Terkadang, aku malu pada diriku sendiri. Ada banyak saat dimana aku ingin berhenti, berhenti berlari lalu memutuskan untuk jatuh. Bodoh, disaat orang lain sama sekali tak menginginkannya aku justru memilihnya.

Namun, ia mengatakan jalanku masih panjang, aku tidak boleh terjatuh disini.

Terkadang, aku berpikir hidupku seperti lumpuh. Diam, tak berjalan dan tanpa harapan. Apa lebih baik aku mati saja?

Namun lagi - lagi dia mengatakan tidak. Aku sama sekali tidak lumpuh, aku hanya terluka di sebuah jalan yang berduri.

Benar, kan?

Ia punya keyakinan luar biasa, dan aku ingin seperti dirinya.

"Karan," panggil kakak.

"Ya, kak?"

Kulihat tangannya meraba saku jaket, mengeluarkan sesuatu dari dalam lalu menaruhnya diatas meja.

"Apa ini?" tanyaku penasaran.

"Ini..," kakak menyodorkan benda itu padaku. Aku diam tak bergeming.

"Surat. Ayah bilang kamu harus membukanya saat ulang tahunmu yang ke enam belas," lanjutnya.

Aku mengernyit, menebak - nebak apa sebenarnya isi dalam surat ini.

"Coba dibuka," pinta kakak.

Tanganku bergerak perlahan meraih amplop usang yang sudah di depan mata. Aku masih ragu, mengapa harus tepat ulang tahunku?

Perlahan tapi pasti, jemariku membuka perekat pada bagian atas amplop. Mengeluarkan secarik kertas yang terlihat bersih tanpa noda.

Penasaran. Aku membuka surat ini. Membaca kata demi kata dalam tiap baitnya. Membuatku semakin rindu pada sang pemilik tulisan tangan.

Sampai pada bait terakhir, dimana aku harus menerima takdir hidupku. Tentang dusta yang tak utuh.

Aku terisak tanpa suara. Menggenggam surat seperti meredam kerinduan. Bukan marah, tidak juga kecewa. Hanya saja, ayah, aku rindu.

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA

with love,

regina

I am KaranStories to obsess over. Discover now