First Oppa

177 34 24
                                        

Aku terbangun saat mendengar musik No More Dream BTS yang yaampun ribut banget. Memang sengaja sih dijadikan musik alarm karena sifat kebo yang melekat dan intro depannya saja suka bikin jantungan.

Tanpa alarm hidupku tidak lengkap dude. Sebagai anak kelas duabelas begadang itu sudah dijadikan pola hidup. Alasannya bukan buat belajar pastinya. Tapi buat begadang nonton youtube, drakor, sama ngechat.

Aku bukan tipe anak nerd yang suka belajar tiap saat. Gila aja dah. Tapi aku juga bukan tipe yang pemalas. Dari pagi sampai siang belajar di sekolah itu sudah biasa. Sore-sore les tambahan. Malam-malam baru me time. Gitu terus siklus hidupnya dari januari—semester 2 kelas duabelas.

Dan yeah hari ini hari terakhir tryout sekalian dibagikannya jadwal UAS.

Kata guru UAS ini yang menentukan kelulusan. Tapi bukan berarti UN tidak penting. Sayangnya sebagai anak kelas duabelas, melakukan test yang tidak ada hubungannya di masa depan itu terasa sia-sia.

Pinginnya demo ke pemerintah, tapi takut dipenjara. Karena itu cuman bisa ikuti alur kelulusan. Dengan mengerjakan serangkaian test.

Aku pun melangkah ke kamar mandi, bersiap-siap, makan dan berangkat sekolah. Kak Wewen—sebenarnya namanya Wendy—tadi berpesan untuk membelikannya nasi bu kembar identik. Dan karena aku adalah adik baik, maka sekalian jalan ke sekolah, mumpung lewat, aku mampir ke nasi si ibu.

Sesampainya di sana, ruangannya masih sepi. Hanya ada lauk-lauk tertumpuk rapi di pinggir jendela seperti resto nasi padang. Kepalaku celingak-celinguk, nyari ibu yang kembar itu.

"Ibu." Aku manggil-manggil, tapi tak dijawab. Karena itu sekali lagi aku memanggil tapi dengan nada lebih keras.

Akhirnya si ibu muncul dengan satu panci besar ditangannya. Segera ia menaruh panci itu di kumpulan lauk depannya.

Pinginnya nanya dimana kembarannya tapi takut gak sopan. Jadi aku cuman tersenyum.

"Mau beli apa dek."

"Nasi campur 15 ribu buk. Bungkus ya"

Dan sang ibu mengangguk. Aku menunggu seperti biasa. Melihat sang ibu mengambil bungkus nasi, melipatnya sedemikian rupa, memasukkan berbagai macam lauk yang ada hingga menjadi satu bungkus nasi yang terlihat sempurna.

Ketika aku menyerahkan uang, tiba-tiba dari pucuk mataku, ada seorang lelaki turun dari motor dan melangkah masuk.





Seumur-umur aku beli nasi di sini belum pernah ngeliat lelaki itu. Rambut kelam, dengan kulit putih dan rahang yang tegas.

Kalau bondan bilang, mak nyus. Karena emang serius teman-teman. Lelaki ini benar-benar sedap dipandang mata.



Gak boong.



Seandainya aku pekerja lepasan. Tak tungguin dia, pura-pura makan disana padahal modus. Tapi sayang, sekali lagi, menjadi anak remaja kelas duabelas itu enggak enak. Tryout dan jadwal UAS sudah menunggu. Dengan segera aku naik motor dan ngegas pergi ke sekolah.

Berharap-harap pasti si cowo adalah jodohnya. Kita semua tahu, jodoh pasti bertemu.











"Dek.. dek.. nasinya dek ketinggalan" si ibu lari ngejar motorku.

"E-eh iya bu."

Malu.

7 Basic LogicStories to obsess over. Discover now