Hari ini langit diselimuti oleh awan mendung. Menambah suasana kelam yang terjadi di dunia saat ini. Kata macet, ramai, dan semua hal yang biasa disebutkan pada sebuah kota atau jalan raya kini telah tiada.
Sunyi...
Mungkin, itu kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan bumi saat ini. Bumi seperti tidak berpenghuni. Meski sebenarnya, bumi ini seluruh penghuninya masih ada. Karena separuh lebih dari penduduknya telah tertidur di ranjang dan entah kapan akan bangun. Mereka menyebutnya Schlaf Tod dalam bahasa kerennya yang berarti Tidur Kematian. Ya, mereka memang tertidur nyaris seperti orang yang sudah tidak bernyawa lagi.
Tidak terkecuali Kota Jakarta.
Kantung mata terbentuk di setiap mata semua orang. Tidak ada yang berani untuk tidur, karena kemungkinan terbesarnya mereka akan ikut tertidur selamanya seperti kebanyakan orang saat ini.
Tetapi, ketakutan untuk tertidur itu tak berlaku untuk seorang Makaila Cyrinda Annelsa. Orang-orang biasa memanggilnya Kai.
Kai selalu ingin tertidur dan menyelamatkan orang-orang yang tidak dapat bangun itu. Dia berpikir, mungkin jika ia ikut tertidur bersama mereka, ia dapat mengetahui apa yang terjadi saat mereka tertidur.
Sudah berulang kali dia mencoba untuk tertidur lama. Tetapi, semua usaha itu tetap saja tidak berhasil ia lakukan. Dia selalu terbangun, berbanding terbalik dengan keadaan semua orang.
Saat ini, sama seperti hari-hari sebelumnya Kai mencoba untuk tertidur lagi. Berulang kali ia telah memejamkan matanya. Tetapi, sepertinya matanya tidak sedang dalam masa mengantuk.
"Uhh, sial! Kenapa cuma gue sih yang nggak bisa tidur lama kayak mereka!" umpat Kai entah kepada siapa.
Tokk!! Tokk!!
Terdengar suara ketukan dari arah pintu kamar Kai.
"Siapa?" balas Kai malas.
"Kai, Papa boleh masuk?" sahut orang yang berada dibalik pintu itu.
Dia Yifan Alfazair, Papa Kai. Terlihat kantung mata di kedua matanya, menandakan bahwa dia tidak tertidur selama beberapa hari belakangan ini.
"Boleh, Pa. Masuk aja," jawab Kai.
"Kamu masih mencoba tidur lagi?" tanya Yifan.
"I-iya, Pa."
"Kamu ini aneh ya. Di saat orang lain, mati matian untuk tidak tertidur. Kamu malah kepingin tidur."
"Tapi Pa, aku kan penasaran. Apa penyebab semua ini terjadi? Mengapa bisa? Kalau aku juga tidur seperti mereka, nanti aku juga bisa tahu penyebab dan cara mengatasi masalah ini."
"Tapi kalau tidak bisa? Bagaimana kalau kamu tidak bisa bangun seperti yang lain? Apa kamu mau mengalami kejadian seperti Ibumu?" tanya Yifan dengan sedikit membentak. Terlihat raut khawatir di wajahnya.
"Papa tidak mau kehilangan kamu, Kai. Saat ini, hanya kamu dan Papa yang tersisa di keluarga kita," sambungnya.
"M-maaf Pa. Aku hanya ingin menyelamatkan Mama, Pa." Kai menunduk, teringat akan Ibunya.
"Mulai saat ini, Papa tidak mau melihat kamu tertidur lagi!" ucap Yifan dengan nada tegas.
"Tapi, Pa. Sekuat apapun kita mencoba tidak tertidur. Pada akhirnya, kita juga akan tertidur seperti yang lain kan? Mana mungkin ada orang yang bisa bertahan jika tidak tidur selama berhari-hari?"
"Kai, mungkin ini sulit untukmu. Tapi, inilah kenyataannya. Jika kita tertidur, kita akan tidur selama-lamanya." Yifan mencoba untuk bersuara lebih lembut.
YOU ARE READING
Traumwelt
Fantasy"Gue udah janji, Al. Gue akan membawa mereka semua kembali, apapun yang terjadi." Makaila Cyndra Annelsa. Janjinya kepada semua orang, seakan telah terpatri dalam lubuk hatinya. Tak peduli, apabila nyawa dapat pula menjadi taruhannya. Dapatkah dirin...
