Sendiri dan sepi sudah menjadi teman terbaikku. Seakan mereka tahu bahwa hidupku tak jauh-jauh dari kata pilu. Takut memulai lagi perasaan cinta, takut disakiti untuk kesekian kalinya. Entah bagaimana rupa hatiku saat ini. Jahitan sana-sini seadanya, tak kunjung kering malah tambah robekannya. Hancur. Kata paling tepat untuk menggambarkan diriku. Menggambarkan betapa nelangsanya kisah cintaku.
Sebenarnya, apa salahku sampai dirimu tega menyakitiku? Tega menambah luka, yang luka lama saja belum berhasil kusembuhkan. Seberapa jahatnya aku sampai membuatmu tega meninggalkanku? Meninggalkan kenangan indah tentangmu. Namun, seberapa sedikitnya kenangan yang kau buat, aku tak mungkin bisa melupakannya jika itu dari seseorang yang kucinta, dirimu. Aku memang benar-benar mencintaimu tanpa alasan. Kamu, sesosok manusia yang sangat berarti bagiku. Yang bahagiamu adalah bahagiaku, dan lukamu tentu saja lukaku. Walalupun kau menganggapku sebagai pelampiasan di saat hatimu baru saja tersakiti oleh perempuan lain, entah mengapa aku tak bisa membencimu.
Kau datang dengan segala cerita sedihmu. Aku merangkulmu, berhasil menyembuhkan lukamu. Namun, apa yang kau lakukan padaku? Sudah bahagia, lalu tiba-tiba saja meninggalkanku. Seakan aku bukan apa-apa untukmu. Tak apa, aku tidak masalah. Bodoh memang, namun aku benar-benar tak bisa membencimu. Amarahku seketika luluh saat aku melihatmu, walaupun saat itu kau sudah menemukan yang baru. Tak usah kau tahu betapa sakitnya hatiku, betapa lebarnya luka yang kau tak mau tahu.
Katamu dulu, aku adalah satu-satunya perempuan yang kau cinta setelah ibumu. Katamu dulu, kau akan setia bersamaku setelah kau selesai dengan kuliahmu. Nyatanya, semua lelaki itu sama saja. Berbicara sangat manis, namun kenyataannya justru membuat banyak wanita menangis. Menangis pilu bersama luka yang ditinggalkan tanpa mau bertanggungjawab atas apa yang telah dilakukan.
Aku tahu ini sakit. Namun, apalah aku yang tak bisa marah kepadamu. Jika saja sabarku ini dibayar, mungkin aku sudah jadi orang terkaya di dunia. Dan mungkin akan banyak lelaki yang mendekatiku karna kekayaanku, bukan karna hatiku. Siapa peduli? Aku tidak mau cinta karna harta. Aku hanya ingin cinta yang sesungguhnya, yang bisa membuatku tertawa sepertimu dulu. Tertawa dengan segala tingkah konyolmu, namun tetap membuat hatiku berdebar ketika ada di dekatmu.
Aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku masih mencintaimu dan aku akan berusaha untuk tetap mencintaimu. Aku tidak peduli dengan apa yang sudah dan akan kau lakukan kepadaku. Seburuk apapun itu, sesakit apapun itu, aku memang tak bisa membencimu. Maaf, sudah berapa kali aku mengatakan bahwa aku tak bisa membencimu. Kuharap, kau tak bosan untuk mengetahuinya. Aku harap kau selalu baik-baik saja dengannya. Karna aku tahu, cinta sejati adalah dia yang mampu merelakan tak peduli bagaimana sakitnya ia dikhianati lalu ditinggalkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pudar
Fiksi RemajaAku mencintaimu, tak peduli denganmu yang akhirnya menyakitiku. Aku mencintaimu dengan segenap luka yang ku biarkan menganga, yang belum sempat kau sembuhkan namun sudah kau tambah dengan luka baru. Aku mencintaimu, walaupun aku tahu bahwa aku tak b...
