Chapter 18 (Lost You Again)

2.6K 177 0
                                    

{Abel POV}

   Hari ini adalah hari kedua di dalam masa ujian kelulusan untuk angkatanku. Sudah satu mata pelajaran yang aku lalui untuk hari ini, masih ada satu pelajaran lagi yang harus aku kerjakan. Ini adalah waktu istirahat, jadi aku bisa meluangkan pikiranku sejenak. Aku berdiam di depan kelas seorang diri. Tanpa siapapun, teman, sahabat, bahkan Niall.

   Aku merasakan ada seseorang yang mendekat, tapi aku tidak tergerak untuk melihat siapa orang itu. Dan lebih parahnya lagi, sekarang dia berada tepat di sampingku. Seketika aku malah membayangkan adegan-adegan horror. Tapi tenang saja, aku itu termasuk orang yang konsisten, tidak menoleh ke arahnya, aku hanya melihat ke bawah, tepatnya ke lapangan sekolahku yang cukup luas, hanya menatap itu sedari tadi. Memang, itu tidak menarik. Mengapa aku harus menatapi lapangan sekolahku, iya kan? Padahal masih ada banyak hal yang bisa aku lihat selain itu. Mungkin, seseorang yang di sampingku saat ini? Tapi aku tidak menginginkannya.

   "Bel" sapa orang itu. Astaga, aku bingung, kenapa dia tau namaku? Cukup ngeri, karena aku baru saja memikirkan hal-hal horror yang biasa aku lihat di tv.

   "Ya?" suaraku terdengar sedikit takut. Ah entahlah, kenapa menjadi seperti ini keadaannya. Ayolah, Abel kenapa kau harus membayangkan wajah seorang hantu. Dia manusia, buktinya dia tau namamu. Oh c'mon, kalau hantu itu tahu namamu, dia tau dari mana? Menanyakan kepada guru? Atau teman-temanmu? Itu tidak lucu, sungguh…

   "Can you look at me now? Please" Dia menyuruhku untuk menengok? Yang benar saja! Aku menjadi benar-benar takut, Apa yang aku pikirkan! Hantu? Itu mustahil. Aku mencoba menengok, dengan mata tertutup. Takut, ya sedikit. Aku kembali berpikir dengan logika, tidak mungkin ada hantu. Lagi pula, aku sangat mengenal suara orang itu. Tunggu! Ya aku mengenal suara itu. Tapi siapa?

   "Hei! Kenapa kau menutup matamu? Bukalah, aku bukan hantu. Aku tahu apa yang kau bayangkan! C'mon, it's me!" lagi-lagi orang itu memaksaku. Terlalu kejam. Firasatku mengatakan, aku sangat mengenal orang ini. Aku mencoba menebak siapa orang ini.

   Aku membuka mataku perlahan. Mengintip sedikit, aku melihat dari bawah. Sepatunya, aku kenal sepatu itu. Ya, supra shoes berwarna putih. Sekarang aku memberanikan diri untuk melihat wajahnya langsung. Deg! 'Sudah kuduga'. Refleks, aku kembali menjadi 'normal people'. "Niall? What happen?"

   Sekarang Niall, dia terlihat bingung dan takut. "Um.. I... I wanna tell you something"

   Yap, itulah yang dia katakan. Tapi entah mengapa, sekarang aku merasakan ada yang aneh dari diriku. Terutama pada hidungku. Ada apa ini? Aku menyentuh bagian bawah hidungku. Darah? Hidungku berdarah lagi? Aku juga kembali merasakan hal yang sudah biasa, pusing, pusing yang sangat menyerang kepalaku. Sesegera mungkin aku mencoba menutupi hidungku dengan tisu, hanya ada satu tisu dalam saku bajuku. "Wanna tell me about what?" tanyaku, mungkin sekarang suaraku terdengar aneh, karena hidungku yang kututupi dengan tisu.

   Niall terlihat sedikit panik. Atau mungkin aku saja yang terlalu kegeeran? "Hey, are you ok? But your bleeding.." Niall menunjuk ke arah hidungku. Niall merogoh saku celananya, "Pakailah, mungkin ini bisa membuatmu lebih baik" ucap Niall sambil menyodorkanku sapu tangannya yang berwarna biru.

   "Maybe no, thanks. Aku takut sapu tanganmu kotor, hanya karena darah dari hidungku ini". Aku berusaha menolak sesopan dan sehalus mungkin.

   "Please, pakailah. Aku tidak mempermasalahkan sapu tanganku yang akan kotor". Niall memohon-mohon, yaa karena aku tidak ingin mengecewakannya, aku akhirnya menerima sapu tangan itu dan membuang tisu yang sudah penuh dengan darah dari hidungku. "Kau boleh mengembalikannya kapanpun kau mau" ucap Niall menambahkan.

   Aku begitu merepotkan orang lain. Tapi Niall benar-benar perhatian, apa maksud dari semua perhatian yang dia berikan? Aku baru ingat, dia kan sahabatku. Wajar, jika seorang sahabat mengkhawatirkan sahabatnya sendiri. Ya, just bestfriend, no more. "Thanks, maaf aku selalu merepotkanmu" ucapku akhirnya. Sapu tangan Niall kupakai untuk mengusap sedikit sisa darah yang ada di hidungku. "So, apa yang ingin kau katakan Niall?" tanyaku.

Loved You First (Niall Horan love story)✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang