[REVISI SETELAH TAMAT]
Di bawah langit, tak beratap. Gadis itu memeluk lututnya. Menggambarkan suasana hatinya yang tak terlalu baik.
Semenjak cowok itu tak sengaja memergoki seorang gadis keluar dari sebuah rumah di malam hari, kini tempat persembu...
"Lah enak aja. Yakali gue nonton begituan sambil nyediain tisu."
Gadis itu menarik ujung bibirnya ke samping. sedikit, tapi manis.
"Nongol aja gitu di instagram. Makanya tau. Bagus kata-katanya hehe."
Menatap, lalu tersenyum.
Cowok itu sengaja datang. Eh sebenarnya bukan datang, karena ia tidak diundang. Lebih tepatnya, cowok itu menguntit ke arah dan sampai mana gadis itu mendaratkan kakinya dari motornya.
Dan di sinilah tempat di mana segala gundah mampu tercurah. Dimana lara yang mendera, meninggalkan jejak air mata.
Menutup diri tak selamanya menyenangkan, ujar gadis itu. Terkadang dianggap lemah itu perlu. Berkata kau sedang tidak baik-baik saja, lakukanlah jika kepalamu dan hatimu tak mampu lagi menampung banyak beban. Karena akan menyenangkan jika mengetahui bahwa ada yang peduli akan dirimu.
Gadis ini bimbang. Di mana hatinya berlabuh? Apakah kepada seseorang yang masih terjebak pada masa lalu yang mengurungnya, kepada seseorang yang menolongnya saat gadis itu nyaris mati, atau kepada seseorang yang selalu membawa foto ukuran 3x4 yang terdapat wajah gadis entah siapa.
Cowok itu memetik gitarnya, sambil mengingat kunci gitar dari sebuah lagu yang akan ia mainkan. Rupanya ia sudah lama tak bersenandung dengan lagu itu, buktinya ia lupa akan kuncinya. Atau mungkin, ia baru saja akan menghafal. Entahlah, intinya cowok itu hanya ingin menghibur gadis di sampingnya.
Dan kini, malam bertemankan suara merdu sang putri dan petikan gitar sang pangeran.
Oups ! Cette image n'est pas conforme à nos directives de contenu. Afin de continuer la publication, veuillez la retirer ou mettre en ligne une autre image.