Now

247 29 34
                                        

Allena POV

Aku juga gak tau. Aku juga gak tau kenapa aku bisa sejatuh ini. Rasanya sakit, sangat sakit. Kalian mungkin pernah merasakan ini juga. Saat perasaan ini sudah terbang setinggi langit, dengan seenaknya dbanting begitu saja. Sakit bukan? Apalagi ini pertama kalinya aku merasakan apa yang namanya cinta. Yang kata orang, itu adalah perasaan yang membahagiakan. Namun, justru bagiku adalah perasaan yang begitu menyakitkan.

"Len, Lena!" suara itu membangkitkan kesadaran ku. Aura, sahabatku, human diary-ku. "Lu mau sampe kapan kayak gini terus, Len?"

Aku tersenyum simpul, "Maafin gue, Ra.." hanya itu yang bisa ku ucapkan. Aku pun memeluk Aura yang berdiri disampingku. "Maafin gue yang selalu ngerepotin lu ini,"

"Cowo yang satu itu..." Aura mengelus kepalaku, "Udah menyia-nyiakan cewek sebaik lu, Len.. Dia bakal nyesel deh..". aku hanya bisa tersenyum mendengar kata-kata Aura. "Udah ah, Len! Lu jangan galau mulu, enggak enak nih, mendng sekarang kita ke kantin, gue yang traktir deh!"

"Really? Thank you!" seruku penuh senyum, berusaha menghilangkan rasa pedih yang terus mengerayangi hatiku.

Aku dan Aura pun berjalan keluar kelas menuju kantin, tempat yang sudah lama tidak aku kunjungi. Bukannya enggak punya duit atau apa, hanya saja kelas menjadi tempat bersemayamku. Karena hanya di kelas lah aku bisa leluasa, tanpa harus bertemu dengan cowok itu. Tempat lain disekolah harus diberi lampu waspada, karena aku bisa saja bertemu dengannya.

"Heh, jangan gitulah, gue yakin lo punya duit lebih kan?" terdengar suara yang mengintimidasi. Aku mendongak, mencari sumber suara.

Suara itu berasal dari ujung lorong. Terdapat cowok itu bersama kawanannya yang jelas-jelas sedang mem-bully. Pria itu, memang ini lah wajah aslinya, wajah seorang 'anak kesayangan guru BK'. Hah, padahal dulu dia memasang topeng yang begitu manis. Saking manisnya, aku sampai terlena.

Mataku panas melihat murid lain yang hanya bisa melirik tidak peduli dan berani akan kejahatan yang terjadi tepat di mata mereka sendiri. Apa salahnya membantu? Takut di-bully? Takut dipandang rendah? Karena sudah kelewat kesal, aku memutusan untuk melangkah maju.

"Len, lo mau ngapain?" tanya Aura sambil menahan tanganku dengan tatapan khawatir.

"Menurut lo gue mau ngapain, Ra? Ya jelas, tuh cowok enggak bisa seenaknya sendiri! Harus ada yang bertindak!" jawab ku setengah emosi.

"Tapi, Len.. Lu.."

"Gue tau lu khawatir sama gue, tapi gue bisa Ra.. Percaya sama gue oke?" aku merendahkan suara dan melepas genggaman tangan Aura. Walaupun jantungku berdegub kencang, kakiku tetap melangkah maju. Memang ada secercah ragu yang kurasakan, tapi mau apa lagi? Kalau tidak ada yang menghentikan cowok itu sekarang, dapat dipastikan ini akan terus berlanjut.

"Kalian bisa berhenti sekarang?" tanyaku dingin. Kini tubuhku sudah berada dibelakang kumpulan itu.

Salah satu dari mereka menoleh, Davin. "Wah? Cewe lu, Rak!" ucapnya, membuat kawanannya ikut menengok "Ngapain disini, Allena?" tanyanya mengintimidasi.

"Gue tanya, bisa kalian berhenti?" aku menekakan setiap kata yang keluar.

"Berhenti ngapain?" sahut Radit, salah satu anggota kawanan yang memuakkan ini.

"Menurut lu? Bukannya udah jelas-jelas lu lagi malak alias nge-bully dia?" jawabku marah sambil menujuk korban mereka kali ini.

"Emang lu ngerasa di-bully?" tanya Radit menatap korbannya. Namun Dika, sang korban justru hanya diam terpaku. "Lu tuli? Gue nanya, lo ngerasa di-bully apa kagak?!" bentak Radit sambil menendang betis Dika sampai tersungkur.

"Eng... Enggak kok, Allena lu pergi aja.. Gue gak apa-apa.." ucap Dika bergetar sambil membenarkan kacamatanya.

"Nah tuh, lu denger sendiri kan, Len? Mending sekarang lo pergi aja dah!" usir Alvin.

Aku tak berajak dari tempatku, menatap tajam empat cowok berengsek itu. Tak sengaja, mataku bertemu dengan ketua kawanan mereka yang sedari tadi hanya diam. Dapat kurasakan rasa itu kembali berdesir. Ah, aku tidak bisa seperti ini, pertahananku bisa saja goyah.

Lelaki yang menjabat sebagai orang paling berkuasa itu melangkah maju mendekatiku. Matanya terkunci padaku. Entah apa yang didalam pikirannya sekarang, tapi perasaanku tidak enak.

"Apa?" tantangku keras dan berani. Membuat orang-orang disekitar mulai berkerumun mengitari kami..

"Lo mau apa kalau gue ga berhenti sekarang?" tanyanya dingin.

"Menurut lo? Well, gue bisa bilang ke guru tentang semua kebejatan lo selama ini.. lo pikir lo bisa sembunyi selamanya dibalik kuasa bokap lu itu?"

"Lo tega?" sahutnya pelan.

"Apa kata lo?" aku tidak begitu mempercayai telingaku saat ini.

Ia menyeringai, "Gue sih terserah lo mau laporin perbuatan ini ke siapa, tapi apa lu tega? Gimanapun caranya, Allena Zhafira, lo tuh punya perasaan sama gue, mana bisa lo laporin gue?" ucapnya kalem tapi dengan intonasi menusuk.

"Lu.. lu kira gue ga bisa? Gu.. gue..." aku tergagap seketika. Jauh di dalam hati, aku membenarkan kata-kata Raka. Walaupun sudah terhitung tiga bulan putus, perasaanku masih tertuju pada lelaki yang berdiri dihadapanku ini.

"Ah, gue lupa, lo kan cuman cewek murahan yang bisa gonta-ganti cowok setiap harinya! Mana bisa stay sama satu orang?" Raka mengembangkan
senyum liciknya, "By the way, lu udah ganti berapa cowok sejak udahan sama gue? Satu? Dua? Atau mungkin sepuluh? Wah gampang, ya, jadi cewek murahan? Untungnya.."

PLAK!

Tanganku dengan cepat menampar pipi cowok berengsek itu, "Raka! Lo sadar diri dong! Siapa yang ngebuat gue kelihatan murahan?! Wait, gue salah, lebih tepatnya lo yang murahan, Rak! Mana ada cowok mahal yang mau ama bekas temen-temennya? Mana ada cowok mahal yang mau aja tukeran cewek sama sahabatnya? Enggak ada!"

"Maka dari itu, lo cuman cowok murahan yang ngejadiin mantan sendiri sebagai pelindung! Gak ada yang lebih buruk dari itu, Rak! Harap ngaca ya! Katanya orang kaya dan berkuasa, masa punya kaca aja kagak?" Jawabku menohok.

Susah payah aku menahan air mata yang hendak keluar, hanya karena aku tidak ingin terlihat lemah dihadapan si berengsek ini. Tampak jelas dari matanya kemarahan karena sudah kujatuhkan harga dirinya keras-keras. Tatapan tajamnya menusuk.

"Radit," panggilnya dalam.

"I..iya.." sahut Radit melangkah mendekat. Dalam hari, aku sudah takut sendiri, mereka bisa saja melakukan sesuatu padaku.

"Kita cabut, sekarang!" Ucapnya keras dan memerintah. Ia pun berlalu pergi meninggalkanku dan Dika, diikuti oleh kawanannya.

Dan detik berikutnya aku sudah terduduk dilantai dingin koridor. Jantungku sudah nyaris meledak sedari tadi. Air mata yang tadi kutahan pun satu persatu jatuh. Tubuhku bergetar, antara takut, sedih dan kecewa akan Raka yang sekarang. Bagaimana tidak? Dia yang sekarang menjatuhkan harga diriku. Padahal dulu dia tidak seperti itu, dia...

"Len.. Lena? Lo gak apa-apa?" tanya Dika bergetar mendekatiku, namun aku tak menjawab.

"Allena!" terdengar suara Aura mendekat. Lalu tak butuh lama untuk merasakan rangkulan Aura, tangisanku makin keras. Membuat semua orang makin merapat.

Dadaku terasa sesak, sangat sesak. Ingin rasanya aku mati sekarang, agar rasa sakit ini tidak terus menerus mengerayangi hati. Aku terkadang bingung, masih saja aku bisa mengeluarkan air mata. Padahal setiap malam telah kuhabiskan untuk meratapi hubungan yang telah tidak ada artinya. Hah, aku lelah menangis seperti ini terus.. aku ingin istirahat sejenak saja.

Dan kesadaranku menuruti permintaan yang barusan kuucapkan dalam hati. Teriakan panik Aura akan tubuhku yang melemas berganti dengan suara dengingan panjang. Warna putih abu-abu seragam yang dipakai murid yang sedang mengelilingiku berganti dengan warna hitam dan gelap.

***

Hi guys! Jadi ini ceria pertama aku, maklum ya kalau masih dasar sama pemula banget. Oh ya, don't forget to vote, comment and follow cerita dan akun ini yaaaa....

Shuffle RomanceMga kuwentong kahuhumalingan mo. Tumuklas ngayon