Aku bergeser ke samping kanan karena lenganku ditepuk-tepuk cukup keras entah oleh siapa yang sangat mengganggu tidurku. Tak puas dengan usahanya, kini giliran selimut tebalku yang ditarik dengan paksa lalu sesaat setelahnya terdengar teriakan seorang perempuan yang menggetarkan alam semesta--siapa lagi kalau bukan Mama.
"MILLEN BANGUNNN!!"
"Hmm...," sahutku dengan mata yang masih terpejam sambil berusaha untuk menutupi tubuhku kembali dengan selimut tebalku.
"Bener-bener kamu tuh ya!" ujar Mama sambil menjewer telingaku dan sontak aku meringis. Demi apa pun, jeweran Mama itu benar-benar bikin sakit, serius.
"Aduhh... ampun, Ma!" dengan sangat terpaksa aku membuka mataku lalu mengelus daun telingaku yang mungkin memerah karena jeweran maut Mama--inget bukan memerah gara-gara ketahuan lagi ngelirik doi terus doi ngelirik balik ya! Ini beda kasusnya!
"Mana yang katanya mau bantuin Mama beresin rumah? Udah amnesia kali ya tuh orang. Cih." ujar Mama dengan ekspresi wajah yang jijik seperti melihat kecoak di depannya.
Got that sarcasm.
Aku hanya cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalaku. "Hehe... Millen ingat kok, Ma. Serius!" tandasku. "Tapi kan ini masih pagi banget, Ma. Kayaknya masih subuh kalo dikira-kira."
"Heh!" serunya. "Subuh, subuh ndas mu! Ini udah jam sembilan pagi! Subuh dari mananya coba?"
"Ah masa sih, Ma?" sontak aku melihat ke arah jendela. Benar kok, masih gelap. Lalu, mataku berhenti di jam dinding yang jarum panjangnya di angka 9 dan jarum pendeknya di angka 7.
"Di luar emang lagi mendung," celetuk Mama yang seolah membaca pikiranku. "Udah cepet bantuin Mama sekarang!"
Aku bangkit dari magnet terkuat di dunia dengan ogah-ogahan. Yah memang, aku sudah berjanji pada Mama untuk membantunya membersihkan rumah agar terbebas dari kecoak. Mama tiba-tiba jadi kayak semangat banget buat bersihin rumah setelah kejadian kemarin. Alasan kuatnya cuma satu: memusnahkan kecoak yang katanya suka sama tempat-tempat yang kotor.
Jujur, kami sekeluarga memang takut sekaligus jijik dengan yang namanya kecoak demi kerang ajaib Spongebob! Apalagi ditambah kejadian kemarin yang menggegerkan seisi rumah.
Jadi, aku, Mama dan kedua kakakku sedang menonton acara kesukaan kami: WIB yang dibawakan oleh Cak Lontong. Kami dengan semangat ikut menjawab pertanyaan TTS dari Cak Lontong--terutama aku yang sangat berambisi bisa menjawab TTS Cak Lontong lalu mengalahkannya (Aku bahkan mendownload aplikasi TTS Cak Lontong di smartphoneku) itu semua demi satu tujuan--eh bukan satu juga sih sebenarnya: menjawab TTS dengan tepat dan cepat juga tentunya... pamer kepada Mama dan juga kedua kakakku karena aku bisa dengan mudahnya menjawab soal TTS!
"Ada di saat susah dan senang....," cetus Kak Sasha membacakan pertanyaan TTS kali ini. Ia lalu mengetuk-ngetukkan jari telunjuk ke dagunya dengan mata yang memandang ke atas berusaha mencari jawaban yang tepat.
"Tujuh kotak menurun, huruf ke enam A." Kak Birai ikut bersuara, lalu melakukan hal yang sama dengan Kak Sasha--berpikir untuk mencari jawaban yang tepat.
"Kalau jawaban orang normal sih: sahabat." celetuk Mama. "Hmm... kira-kira apa ya jawabannya....."
Aku pun melakukan hal yang sama persis dengan mereka. Tujuh kotak menurun, huruf ke tiga A. Kira-kira apa ya???
"Len, kaki lo ga sopan banget sih! Sana geli tau!" celetuk Kak Sasha yang duduk di sebelahku.
Sontak aku menoleh, lalu mengerutkan dahiku. "Apaan sih. Orang gue nggak ngapa-ngapain juga."
YOU ARE READING
ROTASI
Teen FictionSuatu hari, Millen bertengkar hebat dengan keluarganya. Di saat-saat seperti ini ia rindu akan sosok Papanya yang paling dekat dengannya dari sekian banyak umat manusia yang ada di muka bumi. Namun, realita memang seringkali mengkhianati. Begitu yan...
