Pukul enam kurang lima belas pagi.
Mentari masih sungkan untuk menampakkan wujudnya. Bersembunyi di balik awan kelabu yang tak kunjung pergi, meskipun semalaman penuh telah menampakkan diri ditemani air hujan yang mengucur deras. Bahkan aroma hujan masih dapat tercium dengan jelas. Juga jejaknya yang menggenang di sana-sini.
"Lo kemarin dicari Boy lagi." Celetuk Ryan setelah berhasil merebut bola basket dari Reinina. Dengan lihai, lelaki bertubuh tinggi itu melakukan lay up dan berhasil mencetak satu lagi angka.
Reinina hanya mendengus pelan. Tanpa memberi tanggapan, ia mengambil alih bola kemudian melakukan tembakan tiga poin. Dan bola oranye tersebut melesat masuk ke dalam ring basket dengan mulus. Membuat segaris senyum pongah hadir di wajah Reinina.
"Cih. Dasar tukang pamer." Cibir Ryan kemudian mengikuti jejak Reinina, namun sayangnya tidak berakhir mulus.
Tampaknya Dewi Fortuna tengah memalingkan muka ketika Ryan melakukan tembakan. Padahal kapten tim basket tersebut terkenal dengan tembakannya yang jarang meleset. Baik dalam urusan basket maupun wanita.
Ryan Jayden adalah tipikal siswa yang biasa disebut sebagai cowok populer. Tampan. Atletis. Friendly. Tidak ada yang tak mengenali sosoknya yang mencolok. Tubuhnya tinggi dengan kulit berwarna sawo matang cenderung putih. Rambutnya yang sedikit menyalahi aturan sekolah selalu tertata t rapi. Sepasang lesung pipi yang dalam akan terlihat setiap kali ia mengulum senyum. Sebuah senyuman yang telah mencuri hati begitu banyak wanita. Hingga membuatnya pantas disebut sebagai playboy yang paling diidamkan.
Di tribun penonton lapangan indoor sekolah, Eva dan Junior memasang muka serius di hadapan sebuah buku. Telunjuk kurus Junior menunjuk-nunjuk beberapa gambar bangun ruang sembari memberi penjelasan singkat. Sementara gadis di hadapannya berusaha keras untuk mencerna apa yang disampaikan oleh Junior.
Di antara empat sekawan tersebut, Junior bisa dibilang paling normal. Lelaki berkacamata ini memiliki kulit putih nyaris pucat dan tubuh jangkung cenderung kurus. Membuatnya mendapat julukan tengkorak berjalan dari Reinina. Penampilannya boleh terlihat seperti seorang kutu buku. Dan kenyataannya dia memang seorang kutu buku yang selalu menjadi nomor satu dalam urusan pelajaran.
"Sepertinya aku harus rela ikut remidi lagi." Desah Eva dengan tampang depresi.
Junior menjitak pelan ujung kepala Eva, membuat gadis itu mengaduh lantaran kaget. "Lo harus belajar dua kali kalo remed. Mau ketemu lagi sama kubus dan kawan-kawannya?"
Tak bisa membantah lagi, Eva hanya memajukan bibirnya, lalu kembali memaksa otaknya untuk berpikir keras. Salah satu hal yang sangat jarang ia lakukan.
Evanna Poldi bisa dibilang sebagai siswi paling cantik seantero SMA Wijaya II. Rambut panjang bergelombang membingkai wajah kecilnya yang jelita. Bulu matanya lentik, memayungi sepasang mata berbentuk almond. Hidungnya yang mancung menggantung di atas bibir berwarna merah muda.
YOU ARE READING
Face Yourself
Teen Fiction"Terbelenggu kami dalam lubang masa lalu. Terjerat kami oleh sulur memori yang enggan beri kebebasan. Ini bukan kisahku. Namun sepenggal kisah tentang seorang gadis yang terombang-ambing dalam gemuruh badai penyesalan. Mencari sebuah jawaban atau m...
