Seorang remaja laki-laki, tengah duduk di sebuah ayunan yang berada di halaman depan panti asuhan. Tubuh kecilnya mengayunkan permainan itu dengan perlahan, ia terlihat sangat menikmati udara sore hari yang terasa hangat. Rambut gondrongnya diterpa angin, kalau saja ia bukan seorang yang pendiam dan terlihat tidak ramah, mungkin akan banyak gadis-gadis yang memujanya. Ia terlihat sangat tampan juga keren.
Seperti saat ini, ia hanya duduk sendiri, menatap anak-anak panti yang sedang bermain bersama. Bukan ia tidak ingin bergabung bersama mereka, tapi tidak ada yang mengajaknya bermain. Bahkan, jika ia mendekat, mereka pasti membubarkan diri menghindarinya.
Tiba-tiba, anak-anak yang tadi bermain berlarian saat mendengar suara pintu gerbang dibuka. Anak-anak itu melihat sebuah mobil SUV yang asing di mata mereka memasuki pelataran panti asuhan, hal itu tentu membuat mereka senang, karena setiap ada orang asing yang berkunjung ke panti sudah pasti akan ada anak yang diadopsi.
Berbeda dengan anak lainnya, anak laki-laki tadi hanya melirik sebentar ke arah teman se-pantinya yang berkerumun, ia sudah tahu kalau dirinya tidak akan diadopsi, usianya yang sudah menginjak lima belas tahun menjadi salah satu penyebabnya, karena rata-rata setiap pasangan yang datang pasti mencari anak berusia dibawah sepuluh tahun untuk diadopsi. Ia pun sejak awal masuk ke dalam panti ini, tidak pernah direkomendasikan untuk diadopsi, bahkan setiap pasangan yang datang tidak ada yang meliriknya sama sekali.
Di dalam panti asuhan bukan hanya dia, ada juga beberapa anak yang seusianya, berbeda dengan anak itu yang tidak pernah dilirik atau direkomendasikan oleh panti, anak-anak lain yang seusianya menolak diadopsi karena sudah nyaman berada di panti asuhan.
"Dean!" seruan dari pengurus panti memanggil salah satu anak yang bermain di taman. Seluruh anak menatap anak kecil yang bernama Dean, tak terkecuali anak tadi.
Dean terlihat sangat senang, dan berlari menuju pengurus panti yang memanggilnya.
~~~
Floren Xavier Mahardika, sejak usia enam tahun ia sudah harus kehilangan ibunya, karena serangan jantung. Sementara sang ayah, tewas di tangannya sendiri, hal itu yang menyebabkan panti tidak pernah merekomendasikan Flo untuk diasuh oleh siapapun, takut-takut suatu saat tangan kecilnya melakukan tindakan kriminal lagi.
Flo lolos dari hukuman penjara karena ia masih sangat kecil untuk mendekam di jeruji besi, dan juga alasan membunuh ayahnya karena memiliki alibi yang diterima oleh pihak pengadilan. Sang ayah yang hilang arah setelah kematian ibunya, menjadi seseorang yang tidak ia kenali. Flo sering kali menerima tindakan kasar dari sekedar hardikan hingga serangan fisik, meskipun ia sama sekali tidak melakukan kesalahan. Flo sama sekali tidak melawan, karena ajaran dari ayahnya untuk tidak melawan pada orang tua saat keluarga mereka masih sempurna dan harmonis.
Namun, kesabaran Flo kecil ada batasnya. Bukan, bukan karena ia lelah disiksa oleh sang membuatnya membunuh ayah kesayangannya yang sangat ia hormati. Tapi pada suatu malam, ia melihat ayahnya itu menyerang adiknya yang terpaut setahun di bawah Flo. Jika saja Flo tidak datang dengan cepat, ayahnya yang dalam kondisi mabuk sudah pasti memperkosa anak gadisnya yang saat itu masih berusia enam tahun, bahkan kondisi adiknya saat itu sudah hampir telanjang dengan lebam di pipinya.
Flo sebagai seorang kakak tentu tidak tega melihat keadaan adiknya yang tidak berdaya. Ia berlari menuju dapur, mengambil sebilah pisau dan menikam tepat di punggung ayahnya sebanyak lima kali hingga tergeletak tidak berdaya di atas kasur milik adiknya.
"Flo, ayo masuk!" Flo mendongakkan kepalanya ke langit, yang warnanya kini sudah berubah menjadi jingga. Wajar saja, jika pengurus panti menyuruhnya masuk.
Suara adzan maghrib berkumandang saat kaki Flo baru saja menapaki pintu masuk. Flo memejamkan mata, menikmati lantunan adzan yang selalu menenangkan hatinya. Ia terdiam di depan pintu selama bermenit-menit hingga adzan selesai berkumandang. Kedua tangannya menengadah, mulutnya mengucap do'a lalu diakhiri dengan mengusap wajah.
Sejak kecil Flo memang sudah diajari hal-hal baik oleh kedua orang tuanya. Namun sayang, kisah pembunuhan anak pada ayahnya merusak nama baik Flo di mata orang-orang dan menganggapnya sebagai anak yang berkelakuan buruk meski Flo memiliki alasan ia melakukan hal itu.
~~~
Waktu beranjak malam, setelah acara perpisahan Dean yang langsung dibawa oleh orang tua barunya, anak-anak panti langsung masuk ke dalam kamar mereka masing-masing. Berbeda dengan Flo, ia tidak berjalan menuju kamarnya, melainkan ke lorong yang mengarahkan ke satu kamar yang berada di paling ujung panti. Satu-satunya kamar yang berada di ujung lorong dekat gudang. Kamar yang jauh dari kamar-kamar lainnya.
Flo mengetuk pintu berwarna coklat tua itu, sebelum membukanya perlahan.
"Dek," panggil Flo pelan setelah pintu terbuka sedikit.
Seorang gadis menatap ke arah pintu yang terbuka, ia langsung turun dan menyambut kedatangan Flo dengan sebuah pelukan hangat.
"Kak Flo kemana aja. Freya kesepian!"
Freyana Bellatrix Mahardika, adik dari Flo. Dari semenjak tiba di panti asuhan, Freya hanya hidup di dalam kamarnya, makan dan minum pun dibawakan oleh petugas panti ke dalam kamar, atau sesekali Flo yang mengantarkannya langsung. Freya hanya keluar kamar saat ia ingin buang air dan mandi, setelah itu, ia akan kembali ke kamar dan menikmati waktunya sendiri.
Freya masih memendam trauma akibat perbuatan kejam ayahnya, ia akan menjerit ketakutan saat melihat ada laki-laki yang mendekatinya. Pernah sekali waktu ia mencoba keluar dari dalam kamar, saat melihat ada penjaga kebun mendekat ke arahnya, Freya berteriak histeris meski jaraknya masih cukup jauh.
Freya sama sekali belum pernah merasakan yang namanya sekolah, tapi Freya merupakan gadis yang cerdas. Flo selalu mengajari adiknya itu ilmu-ilmu yang diajarkan di sekolah dan membelikannya buku untuk belajar juga buku bacaan agar adiknya lebih bisa melihat dunia meski hanya dalam gambar dan tulisan.
Freya menarik tangan Flo, membawanya menuju kasur tempatnya tidur.
"Udah diminum obatnya, Dek?" tanya Flo sambil mengelus puncak kepala Freya.
"Udah, Kak. Kakak udah makan?"
"Udah, Dek. Tadi sekalian perpisahan Dean."
Keduanya lalu berbincang-bincang ringan, tepatnya Flo yang menceritakan kegiatannya selama seharian tadi.
"Kakak mau ke Adu Bagong lagi, Dek." ucap Flo tiba-tiba dan membuat Freya menegakkan badannya.
"Kakak mau nonton lagi? Ikut, Freya pengen keluar dari kamar, keluar dari panti. Freya jenuh, Kak!"
Freya memang tidak pernah tahu bagaimana Adu Bagong itu, ia hanya mendengarkan cerita dari Flo. Gadis itu selalu senang saat kakaknya berbagi cerita, meski menurut orang lain cerita Flo banyak yang tidak menariknya. Tapi hanya itulah hiburan Freya, dan caranya melihat dunia luar meski tidak dengan mata kepalanya sendiri.
Flo menggeleng, "Enggak, Kakak sekarang bakalan jadi Bagongnya."
Ucapan Flo membuat Freya terdiam. Gadis itu tau, jadi bagong berarti menyerahkan nyawa.
Adu Bagong, dalam artian sebenarnya adalah tradisi masyarakat Jawa Barat, mempertarungkan bagong (babi hutan) dengan anjing. Namun dalam hal ini, yang menjadi bagong dan anjing adalah manusia.
Tempat itu sudah pasti bukan tempat yang baik untuk Flo, remaja tanggung yang masih mendahulukan egonya tanpa berpikir panjang akibatnya. Memang, masa lalu Flo yang merupakan seorang pembunuh, membuatnya tidak takut mati dan berani menghadapi apapun. Ditambah, Flo mengasah dirinya, belajar bela diri setiap hari senin dan kamis pada malam hari.
"Kakak boleh pergi, tapi tetep Freya ikut!"
"Frey...."
"Kalau Kakak pergi tanpa Freya, Freya mending mati aja, nyusul Ibu!" Flo panik, mendengar ucapan Freya yang berteriak kencang. Ia langsung memeluk erat adiknya itu sebelum Freya menjadi lebih histeris.
"Oke ... oke, Freya ikut. Sekarang, kamu tidur, ya. Udah malem." Freya mengangguk di pelukan Flo. Ia lalu merebahkan badannya, tersenyum menatap kakak laki-laki yang selalu ada untuk melindunginya.
"Selamat tidur, Freyana." Flo mencium kening adiknya yang sudah memejamkan mata sebelum beranjak keluar dari kamar.
Freya kembali membuka matanya saat mendengar suara pintu kamar tertutup. Pikirannya melayang jauh ke depan, bagaimana nanti nasib dirinya jika Flo mati dalam pertarungan itu.
~~~
R.
29/05/2022
YOU ARE READING
A Little Piece of World
ActionKita hanyalah serpihan debu di luasnya dunia! ~~~~~ Disclaimer Mohon bijak dalam membaca. Cerita ini hanyalah karya imajinasi penulis semata.
