Bagian satu
***
"Ocha... buruan, lama bener elah... gue juga mau mandi" teriak Sandra di depan wc, karana dari dua puluh menit lalu belum ada tanda tanda Ocha bakalan keluar.
"Bentar... gue lagi nyetor, mules bener" Jawab Ocha setengah berteriak tak mau kalah.
"Dari tadi?" Tanya Sandra
"Iya"
"Yaampun... Cha.. dua puluh menit lo cuman nyetor doang?, terus kapan lo nyuruh gue mandi?" Kesal Sandra.
Rossaliana Wardini. Temen satu kosan yang paling sok sibuk, yang paling rempong, di antara Dira, Kia, sama Iren.
"Ren.. Ren.. lo liat kaos kaki gue nggak?"
"Nggak"
"Dasi! dasi!... Dasi gue kemaren siapa yang makek?"
"Kia.. kaos kaki lo masih di mesin cuci"
"Yaudah, gue pinjem punya lo ya"
"Kalian nggak sarapan dulu?"
"Nggak usah mbak kita sarapan di kantin aja"
"Ren, pelajaran buk Metti jam keberapa?"
"Jam pertama"
Hening.
"Siapa yang udah bikin tugas?"
"Dira, lo udah belom?"
"Lah.. gue kira yang bikin elo"
"Sandra lo udah belom?"
"Udah, ambil aja di atas meja"
Tiinn.. tiin..
"Ren, ren, lo bawak bukunya Sandra ya, kayaknya kak Aldo udah di depan"
"Mbak, semuanya, gue berangkat duluan ya, kak Aldo udah nunggu di depan"
"Eh, eh, kia, jagain gerbang belakang ya, kayaknya gue bakal telat soalnya kudanil lagi berendem" titip Sandra masih dengan nada kesal."
"Enak lo mah ada yang ngabter jemput" tambah Sandra
"Mangkannya, cari pacar sono" ledek Kia
Nggak. Bukan cuma Ocha yang rempong, semua orang di rumah ini rempong.
Kita anak Bandung, yang ke Jakarta buat nerusin SMA. Dan di Jakarta kami tinggal di rumahnya mbak Karin, mbak Karin ini kakak kandungnya Iren, udah kayak kakak sendiri, kita juga kenal udah lama.
Kita ber-lima udah bareng dari SD dan sampai sekarang. Dan ya, di setiap cerita itu ada susah sedih nya, nggak semudah yang orang bilang juga bareng sama mereka dari SD itu enak enak aja.
***
Sandra melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Dan sekarang hari telah menunjukan pukul 06:50.
"10 menit, gue udah harus di dalem sekolah" batin Sandra.
Dan kini gadis itu tengah berjalan mengendap-endap di balik pagar sekolahnya, menuju gerbang belakang.
"Ssstt"
Iren menoleh kebelakang, ia langsung menangkap tas yang hendak di lempar oleh Sandra.
"Gimana aman?"tanya Sandra setengah berbisik.
Iren mengangkat ibu jari tangan kanan nya sebagai jawabannya.
Hal ini sudah biasa mereka lakukan. Jika salah satu di antara mereka belum samapai di sekolah mereka langsung mengambil posisi untuk mengamankan jalan temannya itu.
"Kalian duluan aja, gue mau masang ni dasi dulu" ucapnya sambil mengambil dasi dari tas yang di bawa Iren.
"Nitip tas, ya?" Ucap Sandra yang langsung melempar tasnya, dan dengan sigap di tangkap oleh Kia.
"Ra..." panggil Iren.
Sandra hanya bergumam menjawab panggilan Iren.
"Ra... belakang lo" ulangnya dengan nada ketakutan.
Sandra bisa menebak orang di belakangnya, dengan melihat wajah gadis di depannya.
" 'pak Susilo?" Tebaknya
'Atau Arya'. Tapi kalo emang benar Arya kenapa wajah Iren sampai pucet gitu?" Batin Sandra.
Sandra berusaha bersikap biasa biasa saja, lalu dengan santai iya memutar tubuhnya.
Matanya terbuka lebar, saat melihat tiga orang pria berseragam yang sama dengannya sekarang malah menatapnya dengan tatapan kaget. Hening menyelimuti mereka beberapa saat.
"Lo ngapain di sini?" Tanya Sandra memecah keheningan.
"Lo, ngapain di sini?" Pria di barisan paling depan malah balik bertanya.
"Dika" Seru seirang pria di belakang Sandra. Suara itu tak asing baginya.
"Arya" ucap Sandra saat Arya berdiri di sampingnya.
Arya ini salah satu temen cowok Sandra yang paling deket.
"Loh, Ra? Lo ngapain di sini?" Tanya Arya kaget saat melihat Sandra.
Sandra melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya
"Wah... pagi ini aja udah ada dua orang yang nannya kayak gitu ke gue" ucap Sandra terkekeh pelan.
"Dia temen lo?" Tanya Sandra sambil menunjuk pria di hadapannya
"Iya"jawab Arya singkat.
"Ar, lo kenal cewek ini?" Kali ini salah satu dari pria itu bertannya.
Arya mengangguk.
"Gini, gue percaya sama lo, karna lo temannya Arya, gue punya kesepakatan" ucap Sandra dengan nada serius.
"Apaan?" Tanya Dika juga mewakili teman temannya.
"Hari ini gue sidang poin, jadi kalo lo sama temen temen lo nggak ngasih tau soal ini ke pak Susilo, gue juga nggak bakalan bocorin soal ini." Jelas Sandra.
"Tenang aja gue nggak bakala ketahuan, ni bocah juga nggak ember kok, aman" ucap pria yang berdiri di barisan paling depan yang Sandra tau namanya 'Dika', sambil menunjuk ke due temannya.
"Nih orang omongannya bisa di pegang nggak sih?" Batin Sandra.
Sandradika.
Jangan lupa vote & coment ya...
Typo bertebaran, maafkanlah.
YOU ARE READING
SANDRADIKA
Teen FictionSandra Altair putri. Kapten ekskul seni lukis, wakil ketua OSIS, anak olim, siapa yang nggak kenal Sandra anak langganan ruang BP. Rajin ngevote & coment, Rajin juga update♡
