Namaku Azzahra Salsabila Fatiha, biasa dipanggil Zahra. Usiaku 15 tahun. Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Kakakku, perempuan ,bernama Fatimah Azkia Fatiha. Dia sudah berkeluarga dan tinggal diluar kota. Adikku, laki-laki , bernama Fathir Zayn Al Fatih. Dia berusia 7 tahun.
Hari ini adalah hari pertamaku menjadi siswi Sekolah Menengah Atas. Setelah 1 minggu melewati MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Dulunya bernama MOS (Masa Orientasi Siswa), tapi sekarang sudah ganti. Era baru katanya.
Aku sudah bersiap mengenakan seragam putih abu lengkap dengan dasi. Dan juga kerudungku. Aku berkerudung sejak SMP, tetapi masih belum istiqomah.
"Zahra ayo kita sarapan, nanti ketinggalan angkot loh." Ibuku (Hana) memanggil dari arah ruang makan.
Aku bergegas menyambar tas dan segera ke ruang makan.
"Katanya Ayah datang pagi ini Bu?"
"Dia kena macet, katanya siang baru bisa pulang." Jawab Ibu sambil menuangkan susu ke gelas ku.
"Fathir kemana?" Tanyaku, karena sedari tadi aku tidak mendengar suaranya. Biasanya, adikku itu paling berisik.
"Dia masih tidur, demam semalam."
"Ya ampun, sekolah baru aja seminggu udah ga kuat dia." Aku terkekeh pelan.
Setelah selesai sarapan, aku pamitan kepada Ibu. Lalu aku segera ke depan gang untuk menunggu angkot.
***
Bel masuk berbunyi, untungnya aku sudah sampai disekolah. Segera aku memasuki ruang X IPA 3.
Aku celingukan mencari bangku yang kosong.
"Permisi, boleh saya duduk disini?" Tanyaku pada seseorang yang tengah duduk sendirian.
"Oh iya boleh, silahkan." Dia mempersilahkan ku duduk. Tak lama kemudian ada guru yang masuk.
Bu Titi namanya, dia guru kimia sekaligus walikelas X IPA 3. Dia memberi nasihat-nasihat yang cukup lama. Karena banyak wajah teman-temanku yang terlihat bosan.
Setelah 3 jam mengobrol membahas tentang organisasi kelas, perkenalan, juga diberi petuah oleh walikelas. Bel istirahat pun berbunyi. Mengubah wajah masam menjadi ceria seperti sedia kala.
"Namamu Azzahra kan?" Tanya teman sebangkuku.
"Iya, panggil aja Zahra. Nama kamu siapa? Maaf saya jadi lupa." Aku tertawa canggung.
"Nama saya Nur Widiya Hasanah, biasa dipanggil Nur." Jawabnya.
"Kamu mau ke kantin?" Tanyaku, karena aku sedang mencari teman untuk ke kantin.
"Aku bawa bekal, tapi gapapa aku temani." Jawabnya sambil tersenyum ramah.
"Terimakasih Widi." Ucapku sambil tersenyum sumringah.
"Ih kamu, namaku Nur bukan Widi." Ucapnya sambil menyenggol bahuku pelan.
"Aku suka Widi. Mungkin itu nama spesial yang Allah kirim lewat saya." Ucapku bercanda, kami pun tertawa.
Setibanya dikantin aku merasa sedang berada dipasar. Sesak sekali, dulu saat aku SMP tidak separah ini. Entah kantin nya yang kecil atau orangnya yang terlalu banyak.
"Madet banget Wid." Keluhku.
"Kita ke Koperasi aja yuk. Disana juga ada nasi goreng sama nasi kuning."
Aku menyetujuinya.
***
Sudah pukul 16.30, dan aku masih disekolah. Padahal, sekolah bubar pukul 15.30. Tetapi ada kumpulan ekskul jadi semua murid kelas X pulang terlambat. Untungnya aku sudah mengabari Ibu.
Aku dan Widi berpisah saat perkumpulan ekskul. Karena aku ikut ekskul Pramuka, sedangkan Widi ikut ekskul Rohis.
Perkumpulan ini membahas tentang persyaratan ekskul , dan kegiataannya dimulai minggu depan. Syukurlah, masih banyak waktu untuk mempersiapkannya.
Tepat pukul 17.00 perkumpulan dibubarkan. Aku segera berlari menuju gerbang karena Ayah sudah menjemputku.
Tiba-tiba aku menabrak seseorang. Aku meringis menahan sakit karena jidatku terkena bahunya.
"Maaf." Ucapku dan langsung berlari ke arah Ayah. Bukan karena aku melarikan diri. Tetapi karena Ayahku sudah menunggu daritadi. Kasihan jika disuruh menunggu lebih lama lagi.
***
"Assalamualaikum." Ucapku dan ayah bersamaan.
"Waalaikumussalam." Jawab Ibu dan Adikku. Mereka sedang menonton televisi.
"Katanya sakit, kok bisa nonton tv." Aku sengaja menyenggol adikku.
"Ya emang apa salahnya?" Dia bertanya dengan nada kesal.
"Salahnya, kamu pura-pura sakit supaya ga sekolah." Godaku. Niatnya hanya bercanda, eh dia malah menangis. Aku langsung kabur karena pasti Ayah dan Ibu menasihatiku habis-habisan.
Menurutku seru menggoda adikku. Karena dia cengeng, meskipun laki-laki. Dia juga menyebalkan, selalu mengganggu, cerewet, dan sangat berisik. Tapi dia juga bisa menjadi teman saat jiwa baik sedang merasuki kita berdua.
***
A/N : assalamualaikum temen-temen. Terimakasih buat kalian yang rela buang waktu untuk baca tulisan ini :). Maaf kalo ada yang ga nyambung or something like that, karena aku masih amatiran:D
Oh iya, dont forget to vote and coment ya. Karena itu akan membantu membangkitkan semangat saya, hehehe.
KAMU SEDANG MEMBACA
CALON IMAM?
Fiksi Remaja[#14 Sahabat] [#33 Religi] (*TAMAT*) Namaku Azzahra Salsabila Fatiha, biasa dipanggil Zahra. Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Ini adalah kisahku. Kisah tentang bagaimana aku menemukan titik terang dalam hidupku. Kisah dimana aku bertemu dengan s...
