Decitan ban yang bergesekan dengan aspal terdengar sangat mengerikan di telinga seorang gadis kecil yang kini hanya bisa berteriak di posisinya saat benda itu menghantam tubuh kecilnya hingga terseret. Darah merah segar terlihat keluar mengucur dari kepala juga hidungnya. Gadis kecil malang itu tergeletak begitu saja dekat bahu jalan.
"Lunaaa!" Teriaknya kencang. Kejadian itu kembali terngiang di kepalanya ia mengusap wajahnya kasar ternyata ia bermimpi lagi. Ia melirik jam di atas nakas ternyata sudah pukul 7 pagi itu artinya ia terlambat lagi hari ini.
Tanpa mau tergesa gesa ia berjalan dengan santai nya ke dalam kamar mandi. Ia sudah terbiasa begini ia memang selalu datang terlambat. Tak butuh waktu lama ia sudah siap dengan seragam putih yang di biarkan terbuka kancing nya hingga memperlihatkan kaos putih polos miliknya.
Dengan wajah datarnya ia mendengarkan malas ceramahan guru BK yang berbicara panjang lebar di depan nya ia memutar bola matanya malas. Meski begitu ia tetap setia mendengarkan ocehan guru BK yang sudah bosan menghadapi dirinya yang selalu terlambat hingga berakhir ia mendapatkan hukuman mengepel seluruh koridor sekolah.
"Jangan ulangi lagi kesalahan kamu!" Ucap Pak Edi guru BK
Ia mengangguk tanpa bicara lalu pergi untuk melaksanakan tugas. Melaksanakan tugas? Itu tidak akan mungkin karena ia tak akan melakukan itu sebaliknya ia pergi ke tempat paling tenang menurutnya yaitu taman belakang sekolah yang sudah tak terurus lagi di sana ada bangku besi yang sudah berkarat di sana lah ia biasanya tidur sejenak.
"Lukas Demitrio!" Panggil Bu Maya yang tengah mengabsen.
Hening..tak ada yang menyahut.
"Kaya gk tau dia aja bu palingan bolos!" Sahut Deny yang memang ketua kelas di kelas itu.
Terlihat guru dengan perawakan tinggi itu menggelengkan kepalanya. Tak hanya sekali murid yang bernama Lukas Demitrio itu tak masuk kelas pernah ia tak masuk sekolah hampir 1 minggu lama nya.
"Permisi bu!" Tak lama seorang laki laki dengan tubuh jangkung itu berdiri di ambang pintu dengan wajah datar.
"Kamu baru masuk jam segini"tanya bu Maya tak percaya
Ia hanya diam tanpa mau menjawab karena percuma saja ia memberikan alasan yang pasti tak akan di terima guru killer itu.
"Masuk!" Ucap bu Maya dengan wajah sangar nya namun hal itu tak pernah membuatnya takut sedikitpun.
Namun sebelum itu terlihat seorang gadis mendengus kesal melihat bu Maya mempersilahkan laki laki itu masuk yang notaben nya terlambat lebih lama darinya sedangkan dirinya masih berdiri di sini.
"Bu kok dia masuk?" Tanyanya tak terima dengan sikap gurunya. Tanpa menjawab bu Maya menatap tajam gadis itu sebagai kode agar tidak banyak protes lagi.
Laki laki itu berjalan begitu saja sambil tersenyum sinis ke arah gadis itu.
