"Aku mungkin tidak akan bisa mencari planet baru untuk menyelamatkan semua orang ketika bumi ini di ambang kehancuran tapi aku ingin bisa menyelamatkanmu dari takdir itu."
Di dalam sebuah lapangan bola basket indoor, gadis yang baru saja mengikutiku berlari keluar dari kelas ini tersenyum padaku dan kemudian mendekatkan keningnya hingga menyentuh keningku. Diriku dan gadis itu duduk di tengah lapangan bola basket dalam posisi yang sangat dekat satu sama lain. Tarikan dan hembusan nafasnya terngiang di telingaku. Aku menutup mataku, membiarkan apapun itu terjadi. Momen yang mungkin dianggap singkat oleh semua orang, terasa berlalu sangat lama olehku dan kontan, aku kehilangan kesadaran akan apa yang sedang terjadi saat ini, membiarkan diriku larut ke dalam pikiran mengenai banyak hal yang menurutku aneh di alam semesta ini. Mulai dari seorang kakek tua dengan wajah bak pelawak bernama Albert Einstein, misteri monster danau di Skotlandia hingga kota hilang bernama Atlantis yang tak kunjung ditemukan. Jika diilustrasikan dalam sebuah buku komik, mungkin sekarang kepalaku akan terlihat mengeluarkan asap sementara wajahku merah merona.
Kau mungkin berpikir bagaimana seorang anak kelas 4 SD bisa mengetahui semua hal ilmiah itu. Percayalah, aku hanya memiliki kemampuan lebih dalam mengingat nama-nama yang terpampang di channel televisi informatif kesukaan ayahku.
Kembali pada kenyataan, tentu saja sebagai seorang bocah kelas 4, aku sudah mengetahui apa itu rasa malu ketika menyadari diriku sedang berduaan dengan seorang gadis di sebuah ruangan tertutup dan melakukan hal yang tak seharusnya dilakukan. Wajahku memerah bagaikan buah tomat -ya, begitulah yang dikatakan orang-orang- sementara dia bangun dan menarik tanganku, berjalan kembali ke ruang kelas. Jujur saja, tangannya yang mungil, hangat dan lembut itu jelas berbeda dari tangan yang selama ini pernah aku genggam, dan itu membuatku tidak ingin melepaskan genggamannya. Aku pun hanya bisa memandang rambut hitam bergelombangnya yang indah dari belakang kala membiarkan diriku ditarik jalan olehnya.
"Ayolah, biarkan saja mereka tertawa sepuasnya! Tidak ada yang salah dengan memiliki impian seperti itu. Lagipula dunia ini terlalu bosan jika kita tidak bermimpi setinggi mungkin."
Wow!
Begitulah kira-kira responku saat mendengar perkataan bijak dari gadis yang membelaku ketika seisi kelas menertawakan impian konyolku. Diriku kagum membisu akan kata-kata indah itu walaupun sejujurnya, aku tidak terlalu mengerti apa yang gadis ini katakan. Mungkin karena pemikirannya yang terlalu dewasa atau mungkin pemikiranku-lah yang tidak sampai untuk mengerti syair indah yang keluar dari mulutnya.
Aku tidak tahu mana yang benar dan diriku pun tenggelam dalam kebingungan di pagi itu. Perasaan sedih, malu, hingga senang bercampur aduk di dalam hati layaknya program memasak di televisi yang kusaksikan pagi ini, ketika seorang koki mencampurkan bahan masakan menjadi sebuah makanan jadi yang terlihat enak. Namun saat ini, siapakah yang menjadi koki atas banyaknya perasaan aneh ini? Tentunya itu adalah gadis yang berada di hadapanku saat ini. Bagaimanapun, lupakan saja! tidak semua perasaan dapat dengan mudah dijelaskan dengan kata-kata bukan?
Tidak banyak yang terjadi di dalam hidupku. Sarapan pagi, berangkat ke sekolah, pulang ke rumah, menyaksikan film kartun kesukaanku, bermain bersama teman, makan malam dan tidur. Begitulah kegiatanku sehari-hari, cukup membosankan bukan? Memang membosankan hingga kejadian abnormal seperti sekarang ini terjadi, yang memberikan sedikit bumbu di dalam hidup ini supaya kita tidak mati dibunuh oleh kebosanan.
Dan....berbicara mengenai rasa bosan. Semua kejadian ini, mulai dari aku berlari keluar dari kelas dengan wajah penuh kesedihan, kemudian gadis yang mengejarku hingga di lapangan bola basket ini dan berakhir dengan hal-hal memalukan yang terjadi antara aku dan si gadis. Semuanya bermula dari usaha dan impianku untuk membuat hidupku terasa lebih berwarna.
YOU ARE READING
Ephemeral
General FictionFiksi Umum - Drama [ "The world that we live in is gentle yet sad, fun yet sorrowful, strong yet ephemeral." ] Manusia dan kehidupan ini tidak pernah berada dalam suatu pemahaman penuh. Tidak peduli bagaimana manusia ingin membentuk hidup mereka, ak...
