prolog

528 28 2
                                        

Febri berjalan menelusuri lingkungan sekolah. Ia sedang kebingungan mencari dimana ruangan kelasnya yang baru.

Setelah lelah menelusuri wilayah sekolah yang luas, Febri memilih menyerah dan dia juga memutuskan untuk bertanya kepada salah satu siswa di sekolah ini.

"Hai, permisi mau nanya." Ujar Febri kepada seseorang yang berperawakan pendek dan mempunyai kulit hitam.

Tetapi bukan lelaki itu yang berjalan mendekati Febri, melainkan seseorang di sebelah nya yang jelas lebih tampan.

"Ehh, b-bukan lo. Tapi dia." Febri memundurkan langkahnya sedikit, ia juga memalingkan wajahnya agar tidak melihat wajah lelaki tampan itu.

"Lah? Masa lo manggil dia sih, jelas gantengan gue kemana mana." Lelaki itu melihat Febri dengan kebingungan. Tanpa meladeni perkataan lelaki itu, Febri berjalan mendekati pria yang tadi sempat ia panggil.

"Hai, gua boleh nanya gak?" Tanya Febri.

"Hah? Lo ngomong sama gua?" Lelaki itu terlihat kebingungan dan juga senang. Ia tak menyangka kalau wanita cantik di depan nya ini sedang berbicara dengan nya.

"Iya, gue mau nanya. Kelas XII IPS 2 dimana ya?"

"Ooh..  Lo naik aja ke lantai dua, terus belok kiri. Kelas nya ada di pintu ke dua." Lelaki itu menjawab sambil menunjukan tangga yang harus Febri lewati.

"Oke, makasih-" Febri melihat nametag lelaki itu. "Sandi.." Lanjut Febri.

"Sama sama." Setelah itu Febri langsung pergi menuju tangga yang tadi sempat Sandi tunjukan.

Febri mengikuti arah yang Sandi tunjukan. Dan benar saja, dia sekarang sudah berdiri di depan pintu yang bertuliskan XII IPS 2.

Febri melangkahkan kaki nya masuk kedalam ruangan kelas. Saat Febri masuk, ruang kelas yang tadinya ramai mendadak menjadi sepi.

"Hai." Hanya itu yang bisa Febri katakan.

Seluruh penghuni kelas menatap kearahnya. Beberapa detik kemudian mereka kembali sibuk dengan kesibukan masing masing.

"Febri..." Febri menengok kearah sumber suara. Saat melihat siapa yang memanggilnya, raut wajah Febri berubah menjadi senang.

"Audii..." Febri berlari ke meja nya Audi. Setelah itu mereka berdua berpelukan selama beberapa detik.

"Lo pindah lagi ke sini? Btw, taro tas lo di sebelah gua aja. Kebetulan gua duduk sendiri." Febri mengiyakan perkataan Audi. Mereka berdua kemudian duduk dan memulai obrolan.

"Iya, orang tua gua pindah tugas lagi ke kota ini."

"Syukur deh, jadi gue gak sendirian lagi deh." Audi bersorak kegirangan.

"Kesian banget Audi, gak punya temen ya lo disini.." Canda Febri. Audi pun tertawa sejenak.

"Enak aja. Ada dong, tapi di kelas lain. Nanti gua kenalin ke lo deh."

"Asik..  Punya temen baru deh." Febri dan Audi tertawa bersama. Mereka melanjutkan obrolan untuk menghilangkan rasa rindu yang sudah lama tersimpan.

Febri dan Audi sudah bersahabat sejak kelas VII. Sayangnya setelah lulus SMP Febri harus pindah ke kota bandung karena tugas dari kantor orang tua nya.

Febri dan Audi masih asik mengobrol, hingga saat seseorang memotong obrolan mereka.

"Wedehhh Di, kenalin dong temennya." Ujar seorang lelaki yang berdiri di samping kursi Audi.

Walau lelaki itu berada di dekat Audi, Febri menggeser kursi nya ke sebelah kanan. Dia juga mengalihkan pandangan menatap atap kelas.

"Aidil.. Aidil, giliran ada cecan aja gercep." Audi berdecak, ia malas meladeni lelaki yang sekarang berdiri di sebelahnya ini.

"Hehe.. Namanya juga laki normal Di, siapa yang gak tertarik ama temen lu." Mendengar perkataan Aidil, Audi memutar kedua bola matanya. Memang ya, lelaki itu langsung gercep kalau ada cewek cantik. Batin Audi.

"Kenalan aja sono sendiri. Kalau bisa itu juga." Aidil menaikan sudut bibirnya. Ia jadi tertantang untuk menaklukkan hati sang murid baru.

Aidil berjalan menuju kursi Febri. Saat Aidil sudah berada di depan Febri, gadis itu langsung terkejut dan hampir melompat dari kursi nya.

"Santai, babang gak gigit kok." Febri menggeser kursi nya ke sebelah kiri. Ia juga mengalihkan pandangannya kearah lantai yang sedang dia injak.

Nafas Febri sudah mulai tidak beraturan. Febri juga mencengkram ujung kursi untuk menghilangkan rasa grogi nya.

"Nama lo siapa?" Febri tidak menjawab pertanyaan Aidil. Ia malah sibuk untuk mengatur nafasnya sendiri agar tidak sesak.

"Neng, lo gak tuli kan ya?"

"Sembarangan lo nyebut temen gue tuli." Audi memotong pembicaraan.

Baru saja Febri membuka mulut, seorang guru wanita masuk ke kelas nya diikuti bunyi bel yang berbunyi.

Saat Aidil pergi menuju bangku nya sendiri, Febri langsung membuang nafas lega. Ia mengelap keringat yang berada di dahinya dengan tangan.

Masalahnya tadi yang Febri hadapi itu seorang lelaki tampan. Jika saja Aidil buruk rupa, Febri tidak akan merasakan situasi seperti tadi.

***

HAI.. Sf aku revisi lagi gengs,  biar cerita nya lebih greget gt deh.. Wkwk.

Maaf kalau masih ada salah salah kata, atau typo, atau apapun itulahh

Vote and komen gais..  Thank you

She's Febriana (REVISI)Stories to obsess over. Discover now