Broken, With The Cherry On Top

3 0 0
                                        

Well, aku pernah patah hati. Beberapa kali. Kalau dihitung mungkin bisa sampai 5 kali dalam dua semester ini.

Aku benci patah hati. Siapa yang tidak, kan?

Aku ingat saat sedang duduk di kursi ini. Menangis sekeras-kerasnya, namun menahan suaraku agar tidak ada satu orangpun yang dengar.

Aku ingat juga saat sedang duduk di depan lapangan basket, termenung sambil menghubung-hubungkan semua yang kudengar dan kulihat agar semuanya terasa jelas.

Aku juga ingat sedang menangis di kelas. Semua temanku menghiburku dan lelakiku terlihat khawatir. Dia menggenggam tanganku dan melihatku dalam-dalam.

Aku ingat sedang duduk berhadapan dengannya di kelas. Lalu aku merasa terpukul saat mengetahui sesuatu, dan aku berlari keluar menuju kamar mandi dan menangis sejadi-jadinya.

Aku ingat melihatnya duduk bersama beberapa perempuan. Aku ingat aku merasa cemburu waktu itu.

Aku ingat rasanya. Dadaku terasa terbakar dan perutku melilit perih. Perasaanku tak rela dan aku harus berusaha menahan diriku untuk tidak menjambak rambut gadis-gadis itu.

Aku ingat rasanya menangis.
Saat aku harus memaksakan bibirku tersenyum agar airmataku berhenti turun.

Aku ingat aku pernah menjerit kesakitan karena rasa sakit itu.

Aku ingat intensitas sakitnya. Semakin berat dan semakin menyakitkan.

Ia tidak kehabisan cara untuk melukaiku. Dan aku selalu bertahan. Dengan bodohnya.

Dan aku masih berpikir bahwa kisah cintaku sangat indah.

Dan aku masih mengharapkannya.

Dan aku selalu memaafkannya.

Dan aku masih memimpikannya.

Dan aku masih ingin dia mengharapkanku.

Dan aku masih berharap semuanya hanya perasaanku saja. Aku masih merasa dia mencintaiku.

Aku masih mendoakannya.
Aku masih tidur dalam kenangan-kenangan samar.

Apa yang kutunggu?
Aku menghabiskan waktu hanya untuknya. Dan dia menghabiskan waktu bukan hanya denganku.

Janji-janji itu hanya potongan-potongan kalimat.
Aku kesakitan.
Dan dia selalu sanggup tertawa lepas.

Terkadang aku mengharapkan karma. Aku berharap dia mengerti.

Namun karma mungkin datang dengan sepeda. Mungkin dengan perahu kayu.

Karena ia selalu bahagia. Ada atau tanpa aku, dia bahagia.

Apa yang kutunggu? Harusnya aku pergi.

Tapi aku tak ingin pergi. Cinta memang tak bisa kupaksakan.

25 Februari
-Anindya

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Mar 01, 2018 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

The Hall of FateHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora