▫Chapter 1.▫

26 3 0
                                        

"Lo gimana sih? udah jam segini, jadi telat kan!", keluh perempuan itu.

Lelaki yang diajak berbicara terkekeh, "Ya, kita telat."

"Nyebelin."

Lelaki paruh baya berlari menuju gerbang sekolah, wajah nya terlihat datar, "Telat lagi, saya capek lari nya."

Lelaki itu terkekeh lagi, memang hobi sekali menganggap semua sepele, "Maaf pak, takdir."

Gerbang sekolah terbuka lebar, mereka masuk, tak lupa mengucapkan terimakasih. Mereka berlari --ralat, hanya perempuan itu yang berlari, jangan tanya lelaki dibelakang nya sedang apa.

"Buru-buru banget sih, Ra!"

Perempuan yang dipanggil menoleh, "Lo yang terlalu nyantai." setelah itu, perempuan itu kembali berlari meninggalkan lelaki dibelakang nya.

"Padahal lari gak lari juga sama aja, udah telat." ucapnya.

Ara, perempuan itu memberhentikan langkah nya, ia melotot, tampak musibah ada didepan nya.

"Aduh!"

"Namara Reody!"

Tubuh Ara seketika menegang, lutut nya terasa lemas, dan tangan nya mendadak menjadi dingin.

Perempuan berwajah sangar menghampiri, "Telat lagi. Ikut saya."

Tak ada yang bisa Ara lakukan selain mengekori guru tersebut, ia sesekali menengok memastikan apakah lelaki yang tadi bersama nya mengikuti nya atau tidak. Nyatanya nihil, Kemana ia?

Guru itu menghentikan langkah nya, diikuti Ara yang kebingungan. Pasti. Tidak lagi lain, ia harus merawat beberapa tanaman di Green House. Melelahkan.

"Tugas kali ini. Cabut rumput, siram tanaman dan rapi kan semua tanaman. Mengerti Namara Reody?!"

Itu nampak bukan seperti pertanyaan, namun sesuatu yang harus di-iya-kan segera. Tanpa basa-basi, Ara menaruh tas lalu mulai mencabut satu-satu rumput yang ada disana, hari yang melelahkan.

"Ra."

Ara mengusap peluh yang mengalir di dahi nya, ia sudah familiar dengan suara itu, tanpa di balas pasti orang itu tetap mengulangi sapaan nya.

"Ra."

Tuhkan

"Ra!"

Kali ini lebih menyentak.

"Namara!!"

Tak bisa dibiarkan.

"APA?!"

Lelaki itu justru terkekeh, "Gemes."

Ara memutar bola mata nya, "Lo darimana?"

"Kangen ya?" ia justru meledek, membuat Ara kembali melanjutkan pekerjaannya.

"Ra, tau gak perbedaan kamu sama tanaman ini." tanya lelaki itu sambil menunjuk bunga mawar.

"Enggak." balas Ara tanpa mengalihkan pandangannya dari rumput yang lebih enak dipandang dibanding lelaki disamping nya.

"Kalau mawar berduri tapi cantik, kalau kamu cantik banget." balas nya asal.

Ara menggelengkan kepala nya, "Lo bisa diem gak sih, Ref."

"Iyaiya."

Setengah jam mereka berkutat dengan urusan masing-masing, Ara kebingungan karena lelaki itu tiba-tiba berubah diam.

"Lo sakit?"

"Ekhem, makasih ya perhatiannya."

Kan.. baru saja dikata seperti itu, sudah kegeeran.

Tak jadi Ara mengajak lelaki itu berbicara, sudah malas.

"Kamu kenapa sih, PMS?"

Otomatis, lelaki itu menjadi sasaran empuk Ara, "Gue capek, Ref."

Lelaki itu berdiri, "Yuk, kantin."

Ara mengangguk, kerjaan nya pun sudah beres, tak mau berlama-lama kulit nya terjemur karena cuaca sedang terik sekali.

"Duduk dulu disini, Ra.", Ara menurut, dan lelaki itu berlalu menuju salah satu kios.

Setelah lima belas menit, Lelaki itu kembali dengan dua piring nasi kuning komplit, satu air mineral dan satu es teh manis.

"Ref, minum nya kok itu?"

Refin. Ya, namanya Refin.

"Ini mineral, Ra. Kalo ini, buat aku kok."

"Refin, kebiasaan."

Refin terkekeh, "Sebelum makan, minum ini, Ra." ia mengeluarkan satu butir obat berwarna hijau, yang langsung diambil alih oleh Ara.

"Selalu bawa, padahal gue yang sakit."

"Suami Siaga, Ra." Ara ikut terkekeh, mereka menghabiskan makanan dalam suasana hati Ara yang kembali menghangat.

"Balik ke kelas, Ra."

Ara memandangi Refin, sambil memasang muka melas ia menggeleng kuat-kuat.

"Mau disini,"

Refin menghela nafas, "Hei, lupa janji kamu?"

Dengan berat hati, Ara berdiri, mengambil tas nya lalu pamit pada Refin, "Lo juga janji."

Refin tersenyum, dan Ara tahu, bukan itu jawaban yang ia mau.

°°°°°

Untuk perkenalan aja kali ya? Aku ketik sampe sini, kalo emang lapak ini ramai, aku next.

Vote, Kritik dan Saran membangun diperlukan demi semangat penulis! xixi.

Gitu aja, Salam kenal semua!👋
Tebak, mereka pacaran atau friendzone ya?

FeelingsStories to obsess over. Discover now