PROLOG

203 21 0
                                        


Aku menyukaimu pada pandangan pertama memang bukan salahmu. Aku mencintaimu selama ini pun bukan salahmu. Bahkan ketika Aku pergi, lagi-lagi bukan salahmu.

Ini Aku dan sepenggal penyesalan-penyesalanku yang masih tersisa di dalam diriku.

Tidak, bukan Aku menyesal menyukaimu saat Kamu tersenyum padaku. Bukan juga karena Aku yang terus-terusan mencintaimu selama itu.

Mungkin, karena Aku yang masih tak bisa memaafkan kesalahanku,

pergi darimu...

Aku menghela napas, berusaha menahan air mata yang sepertinya masih mau mengalir tiap kali berbicara tentang Kamu.

Apa kabarmu? Rasanya ragu untuk menulis lagi tentang Kamu setelah selama ini Aku berusaha menjauhi kabar tentangmu. Tapi, jarak yang semakin jauh justru membuat ruang yang memaksa untuk diisi segala hal tentang Kamu.

Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu hari ini. Ya, memang Aku baru menulis surat ini. Dan beberapa jam lagi Kita, bisa saja, akan bertemu setelah bertahun-tahun lamanya tidak berkabar. Semoga pesawat ini cepat mendarat agar malam ini Aku bisa bertemu denganmu.

dan semoga Jakarta tidak memberikan macetnya di Malam minggu ini.

Aku kembali menyelesaikan surat yang Ku buat untukmu di Kabin.

Langit diluar tidak bersahabat akhir-akhir ini, seakan tahu hatiku juga bergemuruh rasanya karena harus bertemu denganmu lagi. Semua memori Kita terputar seiring jam berlalu dengan cepat.

Kita, murid SMA yang waktu itu sedang dimabuk asmara. Lucu rasanya ketika waktu itu Kita menghayal terlalu tinggi tentang masa depan yang ternyata lebih rumit dari bayangannya. Kamu, yang ramah dengan semua orang tapi dingin denganku, dan Aku, yang selalu Kamu tunggu dengan senyummu di depan gerbang, tiap pulang sekolah. Aku ingat jatuh cinta, karena senyumanmu.

Aku tersenyum sendiri, memandangi jendela pesawat yang lambat laun memperlihatkan gemerlap lampu kota Jakarta.

Semoga Kamu tahu hari ini Aku pulang, Dipta.

DIARUNAWhere stories live. Discover now