Holding onto you for so long
Will do you no good
I know, so I struggle to get you out
The times we had together, our memories
I let go, let go, let go
So you can smile someday
DAY6 - Letting Go
••
Handphone yang kugenggam terasa bergetar. Kedua mataku melirik sekilas caller id yang terpampang di layar.
“Halo—“
“Kamu pergi naik kereta sendirian, Ra? Kenapa nggak bilang, sih? Aku kan bisa batalin acara aku sama Dikta biar kamu nggak sendirian kesana.”
Serentetan kalimat langsung keluar dari mulut Manda satu detik setelah aku baru saja mengangkat teleponnya.
Ah, perempuan cerewet ini. Selalu saja memotong sebelum aku menyelesaikan kalimatku. Dia sendiri juga sama sekali tidak mengucapkan salam pembuka satu katapun.
Dasar, kebiasaan.
Dan apa maksudnya dengan ‘membatalkan acaranya dengan Dikta’? Aku tidak sejahat itu untuk membuat Manda membatalkan acara dengan tunangannya itu hanya untuk menemaniku.
“Aku nggak akan lama disana, Man. Cuma jalan keliling sehari terus juga langsung balik, kok.”
“Rifky kemana memang?”
Pertanyaan Manda seketika membungkam mulutku.
“Jangan bilang kamu nggak kasih kabar ke dia?”
Aku masih diam.
“Astaga, Ra, dia kan pacar kamu. Harusnya kamu—“
“Aku putus, Man.”
“…hubungi dia kalau—hah? Putus? Kamu sama Rifky?”
Refleks, aku memejamkan mata dan menjauhkan handphoneku dari telinga. Ternyata, waktu 5 tahun yang kuhabiskan selama bersahabat dengannya sejak awal menjadi mahasiswa sampai sekarang kita berdua bekerja di tempat yang sama masih belum cukup untuk membuatku terlatih mengantisipasi suara melengkingnya.
“Kok bisa, sih? Dia selingkuh?”
Bahkan dengan handphone yang berjarak hampir 10 cm ini pun aku masih bisa mendengar dengan jelas suara Manda yang terlampau nyaring.
“Awas aja kalau dia beneran selingkuh. Aku cincang-cincang dia, terus aku jadiin sop buat sarapan orang sekantor!”
Aku terkekeh pelan mendengar perkataan Manda. Kalau sudah kesal atau marah, dia memang bisa merubah cerita apapun menjadi adegan dalam film thriller.
“Atau jangan-jangan Rifky nggak selingkuh, tapi ada alasan yang lain?”
Manda diam memberi jeda.
“Pasti gara-gara dia, kan?”
Seketika, senyum di wajahku memudar dengan sendirinya.
“Sumpah ya, Ra. Ini udah 5 tahun, kalau kamu lupa.”
Aku menghela napas. Suara peluit kereta berbunyi dengan nyaring mulai memenuhi telingaku. Pandangan mataku terarah ke samping, melihat bagaimana kereta yang aku tumpangi bergerak perlahan meninggalkan tempat semula.
Lalu bagaimana?
Sudah tak terhitung berapa kali aku mencoba untuk menghapusnya, namun tetap saja gagal.
Lalu aku harus bagaimana?
Harusnya semua orang sadar, jangan pernah memberi terlalu banyak cabai. Karena bagi sebagian orang, menghilangkan rasa pedasnya itu bukan perkara yang mudah.
Begitu pula dengan kenangan.
ВЫ ЧИТАЕТЕ
Scabiosa
Подростковая литератураScabiosa: Ketika Cintamu Tidak Beruntung. 5 tahun menghilang dan dia muncul begitu saja hanya dengan kalimat: "Maaf, tapi aku nggak pernah lihat kamu sebelumnya." Dedicated for #ValentinesContest2018
