Namanya Michael Jackson. Iya, Michael Jackson. Kalian gak salah baca kok. Mata kalian masih baik-baik aja, tenang. Gak perlu sampai pergi ke optik terdekat untuk periksa mata segala. Enggak! Itu berlebihan.
Oke, Back to Jackson. Tapi dia bukan mendiang Michael Jackson yang penyanyi itu. Bukan. Sekali lagi, bukan. Michael Jackson yang satu ini beda. Namanya aja yang sama. Panggilannya Jackson, Jack, atau Michael. Kalau gue lebih sering manggil dia Jacky atau Jack, biar lebih simpel.
Asli keturunan Indonesia. Ibunya asli Bandung, dan bapaknya asal Manado. Namanya emang kebarat-baratan gitu. Entah emak bapaknya yang ngefans berat dengan Michael Jackson, atau sebenernya dia anak yang tertukar kayak di sinetron-sinetron yang menjamur di Indonesia.
Tapi gue berani jamin dia anak kandung emak bapaknya. Gue udah buktiin sendiri waktu gue duduk di kelas empat SD. Jackson yang punya tampang dengan nama gak sinkron itu pernah jatuh dari sepeda dan tertabrak mobil gara-gara ngejar gue--si bocah ingusan--karena ngatain dia jelek, dan sempat kehabisan darah yang kata dokter membutuhkan donor darah. Akhirnya gue percaya Jackson emang anak kandung emak bapaknya. Karena berkat orang tuanya gue masih bisa lihat Jackson dimuka bumi ini. Dia selamat, dengan donor darah orang tuanya.
Padahal gue sendiri emang nggak cantik juga. Gimana gue gak ngejek dia, waktu kecil Jackson itu kulitnya hitam, pendek, kepala botak, dan cungkring, pokoknya gak jelas bentukannya.
Kalau sekarang? Kalian bisa lihat sendiri. Cowok yang sering jadi teriakan histeris para kaum hawa saat ini tengah berpeluh keringat mendribel bola basket ditengah lapangan. Iqbal Diafakhri Ramadhan tokoh Dilan di dunia Film juga kalah ganteng. Fix, yang ini gue gak melebih-lebihkan. Jackson emang ganteng. Semenjak masuk masa putih abu-abu dia berubah total. Jadi lebih maskulin, badannya yang dulu bahkan lebih pendek dari gue malah udah kayak tiang listrik tingginya sekarang, dan kulitnya emang gak putih kayak definisi cowok ganteng kebanyakan. Tapi buat postur tubuh, warna kulit, dan wajahnya cocok.
Gue udah sahabatan dengan Jackson sejak orok sampai sekarang kami duduk dibangku SMA kelas akhir. Rumah kami bersebelahan, dan selalu berakhir disatu sekolah yang sama. Semacam takdir gitu nggak, sih?! Iya, takdir yang selalu mempertemukan kami tapi takdir juga sebagai friend zone-nya Jackson.
Ngenes!
Jackson baru saja selesai dengan pertandingan basket dan berhasil melumpuhkan tim lawan. Seorang siswi berambut hitam panjang terurai menghampiri Jackson dengan sebotol air mineral ditangannya. Fanya, gadis itu menyodorkan botol air mineral pada Jackson. Tanpa melihat adegan selanjutnya, gue udah keburu gerah hati duluan menyaksikannya. Jadi, gue langsung menggamit tangan Nia--sahabat gue--mengajaknya pergi dari bangku penonton.
"Acha!" Jackson meneriaki nama gue, dan sekarang sedang berlari ke arah gue dan Nia berada.
Dengan seenak bulu keteknya, Jackson merangkulkan tangannya dengan baju basket tanpa lengan yang masih menempel ditubuhnya kebahu gue. Sedangkan keringat bukti kerja kerasnya dipertandingan tadi masih melekat mesra ditubuhnya.
"Woi, keringet lo tuh lap dulu. Bau tahu nggak?!" gue berjingkat melepaskan rangkulan tangan Jackson.
"Kata siapa bau, nih cium nih biar rasa. Enak kan?!"
Bukannya meregangkan dan melepaskan rangkulannya, Jackson malah membekap gue dengan menyodorkan ketiak basahnya kehadapan muka gue.
"Njirrr! Bau bego!"
Kalian pasti bertanya-tanya, kenapa gue bisa suka sama cowok nyebelin kayak Jackson. Selain berwajah tampan, digilai banyak gadis, jago main basket, dan masuk kategori cowok populer di Sekolah, Jackson emang nggak punya kelebihan khusus dalam bidang akademik. Sifatnya yang jahil, ngeselin, dan mudah bergaul dengan siapa saja mungkin jadi salah satu hal yang selalu bikin gue kangen sama dia kalau lagi bolos pelajaran cuma buat main PS sama teman-teman cowok gak mutunya itu.
Tapi sekali lagi gue tekankan. Jackson masih manusia biasa kok. Dia bukan sosok tokoh utama cowok dalam novel yang keren abis dengan segala tingkah ke-bad boy-an nya. Nyatanya, Jackson bukan cowok bad boy yang doyan tawuran, play boy, atau cowok dingin kayak di novel-novel favorit yang sering kalian baca. Dia cuma Jackson. Sahabat dari kecil yang gue suka.
"Eh Cha, katanya mau ke toilet. Ayo gue udah kebelet nih," ucap Nia yang hampir gue lupain keberadaannya karena sodoran ketiak Jackson.
"Gue pinjem Acha-nya bentar ya Ni. Ada yang pengen gue omongin nih," sahut Jackson.
"Yaudah, gue duluan ya."
Yang tersisa kini, hanya punggung Nia yang semakin menjauh meninggalkan gue dengan Jackson di lapangan indoor basket Sekolah.
"Cha."
"Apaan?" jawab gue tak acuh.
Padahal gue sedang mengontrol irama detak jantung gue yang tiba-tiba berpacu lebih cepat seakan ingin meledak. Oke, gak se-lebay itu. Tapi saat mendengar Jackson menyebut nama gue dan berdiri berdua berhadap-hadapan benar-benar buat gue mati kutu.
"Kaki lo nggak papa kan?"
Emangnya kaki gue kenapa?! Jatuh aja, enggak. Gue rasa, gue gak abis nginjek tahi ayam, atau kotoran kerbau. Dia gak nyium aroma tak sedap dari kaki gue kan?! Reflek, gue memandangi kaki bersepatu nike hitam dengan kaus kaki putih dibawah rok abu-abu yang gue kenakan.
"Enggak papa. Apaan sih lo, Jack. Emangnya gue kenapa?" sahut gue kesal merasa dipermainkan.
"Bagus deh. Berarti besok bisa kan, ketemuan di Kafe Lecker di ujung jalan gang Sekolah?" ucap Jackson sambil menaikkan satu alisnya dan tersenyum smirk.
"What's?!" sontak saja gue menautkan alis, dan mengerutkan kening. Antara terkejut, dan bingung tak mengerti.
"Oke, gue anggep lo setuju. Lanjut di message aja ya. Gue masih ada urusan nih. Dah Acha rehe!" Jackson mengacak-acak rambut dipuncak kepala gue, setelahnya berlalu begitu saja bersama teman-teman cowoknya.
TBC
❄❄❄
29.01.2018
Big Luv
Kim Alawra
YOU ARE READING
Terpikat Handai
Short Story[Selesai] Gue sering denger kutipan yang berbunyi 'Gak ada persahabatan murni yang terjalin antara cewek dan cowok tanpa diiringi rasa suka salah satunya' ya kira-kira begitu kalimatnya. Dan itulah yang gue alami pada sahabat gue. Ralat, kayaknya d...
