(1) ~PROLOGUE~Ferris Wheel

147 4 0
                                        

Hari itu tidak bisa lebih sempurna lagi. Bagaimana tidak? Tidak salah lagi, seorang Kim Namjoon sedang mendekapku di dalam pelukannya, tepat di puncak sebuah Ferris Wheel, di mana kami bisa menikmati pemandangan kota Seoul sepuasnya. Saat itu, matahari sudah seharusnya akan tenggelam tetapi warna kebiruan menghiasi langit kota kelahiran kami. Persis seperti impian semua fangirl di dunia. Demi apapun, hari itu sempurna!

"Gomawo, Joon.", ucapku pelan. Dia menatapku tepat di mata.
"Ne? Untuk apa?"
Astaga, tatapannya membuatku enggan menatapnya lagi. Itu terlalu indah, bisa bisa aku meleleh. Dia mengenakan kaos pollo putih dan jaket kulit hitam beserta jeans selutut dan sepatu hitam biasa. Jujur saja, dia luar biasa ganteng.

"Ahh... itu... mmhhm"

Tuh kan, jadi melantur. Sialan kau Namjoon, tatapanmu membunuhku (eaq). Aku melepas diri dari pelukannya dan tertunduk menatap kosong sepatuku.

"Kamu ini selalu begitu kalau gugup. Kenapa sih?" Tanpa rasa bersalah, cowokku ini mengacak acak rambutku dan mengincar tatapanku. Akhirnya aku cuma bisa terkikik melihat tingkah imutnya. Sambil merapikan rambut, aku berkata padanya,

"Bisa bisanya kamu mengajakku jadian, oppa. Aku merasa.. bukan apa apa dibandingkan dirimu. Aku... kadang merasa tidak pantas jalan denganmu. You're Kim Namjoon, that worldwide superstar. Aku cuma diriku. Aku bukan siapa-siapa."

Lengang sejenak.

"Aah, mian, jadi akward gini suasananya. Lupakan lupakan", duhh malunya... ini seharusnya kencan pertama yang romantis, kenapa aku mengungkit-ungkit hal aneh macam itu?

..

Eh, tak disangka, pacarku itu malah terbahak-bahak. Aku cuma bisa menatapnya bingung. Namjoon terbahak begitu lepasnya sampai sampai pengunjung Ferris Wheel di bawah kita menoleh heran. Gila nih orang, gimana kalau identitasnya terbongkar? Aku bisa mampus tercyduk Dispatch (eh salah :p)

Tak tahan lagi, aku bergegas mendekap mulut besarnya. "Aduh, kenapa sih kamu ini? Malu maluin."
Dia berhenti sejenak, lantas menarikku ke dalam pelukan eratnya. Aku dibuatnya sesak nafas.

"Aku tidak salah ternyata mengajakmu jadian. Aduh, Lee Eun Jae!" Namjoon malah tertawa lagi, enggan membiarkanku bernafas lega. Lalu, dia malah mengacak acak rambutku lagi. Beneran deh, heran punya pacar kaya Namjoon, serius. Untung sayang. Diapun akhirnya melonggarkan pelukannya dan mengatur ulang nafasnya. Dengan tatapan penuh makna, ia berkata,

"Coba ingat ingat lagi sewaktu aku bekerja sendirian menghadapi cowok cowok sialan yang susah diatur itu di sekolah, Eun Jae. Bayangkan apa jadinya jika kamu tidak menawarkan diri untuk membantu. Bisa hancur lebur mimpiku itu.

"Ingat waktu Hoseok tak sengaja menindih Jimin saat dia main apa tau sama TaeTae? Si cengeng itu bisa jadi menangis sampai kedengeran satu RW jika kamu tidak di sana memberikan pertolongan pertama. Bayangkan seberapa besar malunya aku sebagai leader waktu itu."

Mau tak mau, aku tertawa sambil mengenang kejadian itu.

"Jodoh emang gak kemana ya Joon"

Dengan sayang, aku mengelus pipi kemerahan Namjoon. Saat ia tersenyum, aku bisa merasakan lesung pipinya itu. Aaahh kiyowoo ^^
Diapun balas mencubit pipiku. Kami tertawa lebar. Sambil mengelus pipinya cowokku ini, aku terlambat menyadari bahwa rambut Namjoon ini terlalu sempurna. Jadinya, ya, aku tak bisa menahan tangan gatalku ini untuk tidak mengacaknya.

"Aaaaahhh! Ya! Eun Jaee! Aku berlama lama di kamar mandi sampai sampai Suga pipis di celana karna menungguku tau! Ini semua demi tatanan rambut yang udah rapi jika kamu nggak nakal!" Dia berusaha menarik tanganku lepas dari rambut kecoklatannya, tapi itu malah membuatku makin semangat untuk menghancurkan tatanan rambut itu.

Kami tertawa untuk kesekian kalinya dan baru berhenti saat pacarku terlihat kaya orang baru bangun tidur. Aku kasihan melihatnya merana seperti itu. Apalagi setelah ia memperlihatkan puppy facenya. Aku mengalah sih, tapi tetap saja, mukanya bikin ngakak. Jadi aku menghindari tatapannya dan membiarkan dia menata kembali rambutnya.

Sambil mengatur nafas, aku memandangi langit Seoul. Sambil menarik nafas, aku bernostalgia. Kuingat kembali bagaimana perjuanganku dengannya sampai momen indah ini tercapai...

BANG! TAN!Where stories live. Discover now