1. Hery petroleum Group (HPG)

10 3 0
                                        


"Elion ayo bangun!" Teriak Rina. Membangunkan anak perjaka satu-satunya itu memang pekerjaan yang paling sulit dipagi hari.

"Iya ma, aku bangun," saut Elion tanpa sedikitpun membuka kelopak matanya.

"Dasar anak pemalas! Kamu lupa ya hari ini kamu kan ada janji dengan Ayahmu untuk pergi ke HEC,"

Elion membuka matanya seketika, "sialan aku lupa!"

"Heh jaga ucapanmu itu," ucap Rina sambil mencubit lengan Elion. Elion hanya meringis kesakitan.

Rina kemudian meninggalkan Elion dikamarnya untuk segera bersiap-siap. Elion dengan secepat kilat menyiapkan dirinya serapih mungkin untuk pergi dengan Ayahnya tersebut. 'Sialan! Kenapa aku bisa lupa sih kalau hari ini ada janji dengan Ayah!' Pikir dirinya. Selama bersiap-bersiap ia terus menggerutu. Pasalnya, jika ia telat sedikitpun, Ayahnya itu akan terus membahas tentang 'kedisiplinan' sampai nanti petang. 'Huh malas!'

"Elion! Sudah berapa kali Ayah bahas tentang kedisiplinan pada kamu?!" Ucap Dalton.

Yahh, benar saja. Kalimat tersebut merupakan kalimat pertama yang ia dengar begitu menuruni tangga.

"Semalam aku begadang Yah," jawab Elion sambil mengambil sepotong roti dimeja makan.

"Main game terus sih!" Teriak Vanessa kepada kakanya itu.

"Heh! Anak kecil lebih baik diam. Belajar sana yang benar! Biar bisa masuk universitas bagus," saut Elion.

"Kalian ini tidak bisa ya sehari tidak bikin kepala Mama pusing?" Ucap Rina. Elion dan Vanessa akhirnya terdiam.

Elion kemudian bergegas memanaskan mobil di garasi. Ayahnya sudah mulai menggerutu sedari tadi. Sebenarnya, Elion sama sekali tidak bersemangat untuk ikut Ayahnya ke gedung HEC atau juga biasa disebut dengan Hery Electricity Company yang merupakan Salah satu anak perusahaan dari Hery Petroleum Group kepunyaan kakek buyut Elion.

"Yah, kita disana tidak akan lama-lama kan?" Tanya Elion dalam perjalanan untuk memastikan.

"Memangnya kenapa? Kamu ada acara?" Tanya Dalton sambil menyetir.

"Tidak sih, tapi hari ini aku mau ke kampus," jawab Elion.

"Untuk Apa? Sebentar lagi kan kamu lulus,"

"Iya, aku harus mengurus beberapa hal,"

"Ayah tidak menyangka anak yang punya otak udang sepertimu bisa lulus di umur 22 tahun dengan nilai sempurna," ucap Dalton sambil menggelengkan kepala.

"Aku tidak tau apakah ucapan Ayah itu pujian atau bukan," jawab Elion. Ia sedikit bingung karna Ayahnya tidak pernah memujinya sama sekali bahkan dalam seumur hidupnya.

"Ya intinya begitu kau lulus dari universitas, tanggung jawabmu jadi semakin besar,"

Elion kemudian terdiam setelah mendengar perkataan Ayahnya tersebut. Ia tidak pernah menyukai percakapan semacam ini. Dalton selalu saja membahas tentang masa depan, perusahaan atau hal-hal lainnya yang menurut Elion begitu membosankan dan membuat kepala pusing.

"Begitu sampai disana bersikaplah dengan sopan," ucap Dalton sambil memarkirkan mobilnya didepan gedung utama.

Terlihat beberapa orang sudah tersenyum dan berdiri di lobby untuk menantikan kedatangan mereka.

"Selamat pagi Tuan Dalton!" Teriak seorang pria sambil menjulurkan tangannya untuk bersalaman.

"Pagi Rio! Bagaimana kabarmu?" Jawab Dalton yang kemudian diikuti dengan basa-basi lainnya.

"Oh ini Elion kan? Anakmu yang dulu kau ceritakan paling nakal itu?" Tanya pria bernama Rio. Elion hanya tersenyum dengan wajah masam.

"Elion, perkenalkan ini namanya Rio. Dia yang akan membantu kamu selama kamu dilatih menjadi bagian dari perusahaan ini," ucap Dalton.

Elion kemudian menjabat tangan Rio. Tak lama kemudian, mereka bertiga pergi berkeliling gedung. Rio menjelaskan beberapa hal yang ada di gedung tersebut. Mulai dari ruangan-ruangannya, jobdesk dan juga orang-orang penting yang ada disitu. Elion tidak punya pilihan lain selain mendengarkan.

"Jadi bagaimana Elion? Kelihatannya kamu tidak tertarik ya kerja disini?" Tanya Rio sambil menepuk pundak Elion.

"Iya aku sama sekali tidak tertarik," jawab Elion jujur.

"Yah tapi mau bagaimana lagi kan? Ayahmu itu orang yang keras kepala dari dulu, haha," ucap Rio sambil tertawa.

"Kau ini, tidak bisa ya bersikap baik kepadaku?" Ucap Dalton yang juga kemudian tertawa. Elion lagi-lagi hanya tersenyum dengan wajah yang masam.

"Inikan hanya sebentar saja, kamu masih punya pilihan untuk melanjutkan bekerja disini atau tidak," ucap Rio.

Yang Rio ucapkan memang betul. Sebulan lalu Dalton bilang bahwa Elion tidak perlu menetap untuk bekerja diperusahaan. Tapi setidaknya Elion bisa mendapatkan ilmu dari masa-masanya bekerja disini. Jika Elion sama sekali tidak tertarik dengan pekerjaan itu, maka ia boleh keluar dan melanjutkan hidupnya tanpa terikat menjadi 'anak penerus perusahaan'

"Elion, Ayah harap kamu memiliki keinginan untuk terus bekerja disini. Tapi semua pilihan berada di tanganmu. Ayah tidak mau menjadi seperti Kakek yang terus memaksakan pekerjaan ini pada anak-anaknya dan bahkan tidak memberi kesempatan untuk memilih," ujar Dalton.

"Tolong jangan pernah menaruh harapan yang besar padaku," jawab Elion enteng.

"Iya, Ayah paham. Sekarang mari kita pergi ke ruanganmu," ucap Dalton.

Elion, Rio dan juga Dalton kemudian berjalan ke sebuah ruangan. Ruangan itu begitu besar dan juga bersih. Bahkan kalau ditilik-tilik, ruangan ini besarnya 2 kali lipat dari kamar tidur Elion.

"Ini ruanganku?" Tanya Elion memastikan.

"Iya, besok kau sudah bisa pakai ruangan ini," jawab Rio.

"Apa tidak terlalu berlebihan? Apa semua karyawan biasa disini memiliki ruangan sebesar ini?" Tanya Elion lagi.

"Eh? Kalau karyawan biasa sih ruangannya tidak seperti ini," jawab Rio yang kemudian kebingungan.

"Lalu kenapa aku diberikan ruangan semewah ini? Apa karna aku anak Ayah? Aku tidak mau diperlakukan istimewa sampai seperti ini," ujar Elion sambil menatap Rio.

"Loh? Sepertinya Ayahmu lupa memberitahu ya? Tidak ada yang isitimewa ko. Semua direktur utama memiliki ruangan yang seperti ini," jawab Rio.

"APA?! DIREKTUR UTAMA?!"

-----

Halo semua! Welcome to my new story hehe. Jadi cerita yang aku buat kali ini genrenya adalah gabungan dari drama, fiksi dan juga romance.

Semoga kalian enjoy alurnya ya! Jangan lupa vote cerita ini!

Ps: cerita ini slow update

Underworld UndercoverWhere stories live. Discover now