Flat

368 34 5
                                        

Sebelumnya gue minta maaf buat yang dulunya baca cerita Flat. Gue unpublis gara-gara ada masalah di part sebelumnya. Maaf banget ya:)

•••

Hembusan nafas panjang terdengar dari seorang gadis yang tengah berdiri di perempatan sebuah komplek yang tidak berada jauh dari rumahnya. Kedua tangannya saling meremas, berharap angkutan umum segera melintas di depannya. Sudah dua puluh menit lebih ia menunggu sendirian tanpa ada seseorang yang berbaik hati untuk memberi tumpangan kepadanya.

Matanya memandang jam yang berada di pergelangan tangannya gusar, ia tidak mau sampai di sekolah dengan membawa keterlambatan. Hanya dua cara yang ada di fikirannya kali ini, yang pertama ia harus tetap menunggu tanpa adanya kepastian soal kapan angkutan akan lewat atau yang kedua ia harus berjalan menuju sekolahnya seorang diri tanpa ada yang menemani.

Apapun yang ingin ia lakukan, ia tetap melirik jam tangannya dan memandang jalanan dari arah selatan berharap semoga angkutan cepat memperlihatkan dirinya. Lupakan opsi kedua, ia tidak suka sendiri di tempat yang ramai.

Tin tin

Senyum lebar tercetak begitu jelas pada wajahnya yang begitu manis, ditambah pipi tembemnya yang membulat seperti bapao itu. Dari arah selatan sana, sesuatu yang ia tunggu-tunggu semenjak dua puluh menit lebih tadi kini telah berada di depannya. Tanpa komando lagi ia langsung memasuki angkutan orange itu dan duduk tepat di belakang sopir.

"Nunggu lama ya, Nduk Raya?" ucap sopir itu yang langsung menancapkan gasnya dengan kecepatan rata-rata. Gadis tadi mengangguk

"Iya, Emangnya kenapa baru berangkat, Pakde?"

"Tadi nganterin Bu'e ke pasar dulu."

"Ooo...," sahut gadis tadi tidak ingin membahas topik saat ini

Raya Arinda, atau kerap dipanggil Raya. Gadis berpawakan tinggi dengan tubuh yang lumayan berisi, rambut sebahu berwarna hitam kecoklatan, hidung tidak mancung dan tidak pesek, mata bulat, bibir tipis dan pipi tembem itu, mulai bersandar pada jendela angkutan yang tidak dibuka dengan earphone yang sudah terpasang di kedua telinganya, menghilangkan suara kendaraan yang berlalu lalang disekitarnya.

Tidak sampai lima belas menit angkutan orange tersebut sudah berhenti tepat di depan gerbang SMA PELITA. Raya pun langsung membayar dan bergegas masuk ke dalam sekolah sebelum gerbang di tutup. SMA PELITA merupakan sekolah yang terkenal dengan anak didiknya yang aktif, wajar saja jika setiap Senin saat upacara bendera berlangsung banyak siswa yang berdiri di depan bersama pembina upacara dengan alasan penerimaan penghargaan. Ketenaran para siswa pun membahana, terlebih lagi kepala sekolah SMA PELITA yang sangat disiplin dan bijaksana dalam bertindak.

Raya sedikit berlari ketika menaiki tangga menuju kelasnya yang terletak di lantai dua pada gedung berlantai tiga di sekolahannya itu. Nafasnya terengah, belum lagi tasnya yang begitu berat mengingat hari ini merupakan Hari Senin.

"RAYA!!"

Raya yang baru saja sampai di ujung tangga pun langsung menoleh ke asal suara, tepatnya pada seorang gadis berambut hitam tebal yang kini tengah melambaikan tangan ke arahnya. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman yang begitu manis.

"Gue udah lama nungguin lo tauk, gue kira lo ngak masuk. Padahal kurang lima menit lagi mau bel, kok baru berangkat sih?"

"Nungguin angkot," balasnya sembari masuk ke dalam kelasnya dan langsung diikuti oleh gadis tadi

"Pasti lo tadi kesiangan kan? Makanya ngangkot nya baru nyampe? Ya kan? Ngaku aja kalik,"

"Kata si Lisa juga gitu, dia nya tadi juga naik angkot tapi lo nya ngak ada, biasanya lo naik yang awal-awal." Raya mendengus lalu mendudukkan diri di kursinya.

FlatWhere stories live. Discover now