Prologue

68 7 2
                                        

Di sana tinggal seorang gadis kecil bernama Riviana Starium.

Dia baik, rajin, namun dia seorang bodoh.

Tak banyak yang dapat ia lakukan hingga ia selalu ditertawakan oleh orang-orang sekitarnya.

Hingga hari itu tiba. Dimana semuanya berubah.

Dan itu berawal dari..

...

"Idiot kau, bodoh! Memang salah menyuruhmu membawa denah! Kau taukan, kita masih baru di sini! Bagaimana kita bisa pulang kalau denahnya hilang?!" bentak Silva, kakak Riviana, sembari memukul punggung Riviana.

Riviana hanya menundukkan kepala.

"Maaf, Kak. Aku... aku tadi tidak tau kalau itu denah," ucapnya bersalah.

Silva memutar mata.

"Apa? Apa katamu? Maaf? Aku butuhnya denah! Dari tadi jelas itu denah! Kau kira itu apa? Kertas bekas? Hah? Idiot!"

Silva menatap wajah Riviana muak. Rasanya ingin sekali dibunuhnya Riviana saat ini juga.

Entah bagaimana bisa seorang Riviana ada? Seharusnya Riviana tidak perlu hidup! Dia sama sekali tidak berguna.

Silva menarik nafas panjang.

"Baiklah, Riva. Kau merasa bersalah?"

Riviana menganggukkan kepala.

"Sekarang kau curi roti dari penduduk kampung ini. Aku lapar! Kita sudah terlalu jauh dari rumah. Cepat!"

Tanpa pikir panjang Riviana berlari ke jalan sebaliknya. Setelah berjalan tak menentu arah dan amat jauh jaraknya, Riviana sampai pula ke sebuah pasar.

Gadis bodoh itu berjalan melambat-lambat. Matahari di atas kepalanya perlahan-lahan mulai turun.

Itu sudah sore.

Menjelang malam.

Dia menatap sekelilingnya.

Orang-orang sibuk menyusun barang-barang yang belum terjual.

Mata Riviana terus mencari.

Roti.

Dimana roti?

"Itu dia!" serunya riang sembari berlari ke sebuah toko roti.

Toko roti itu ramai.

Riviana yang bodoh dan tak berpikir panjang berjalan santai dan dengan ringannya mengambil sebuah roti terbesar dan termahal di sana.

Lalu berjalan keluar dengan tenangnya.

"Hey, kau belum bayar roti itu!" teriak sang penjaga kasir.

"Pencuri!!" teriak lainnya.

Mata Riviana membulat. Dia terkaget-kaget.

Kenapa orang-orang berlari mengejarnya?

"Pencuri! Ada pencuri!" teriak warga lainnya.

Entah lagi pintar atau apa, Riviana pun ikut berlari ketakutan.

Seluruh warga mengejar Riviana penuh kemarahan. Tentu saja, sudah seminggu ini mereka kecurian terus.

Mereka menduga bahwa Riviana seorang pencuri yang telah mencuri barang-barang mereka selama seminggu!

Riviana berlari kencang.

Tep.

Seseorang menarik Riviana ke balik semak-semak.

Orang itu seorang wanita.

Sangat cantik dan menawan.

Ia memakai jubah hitam legam.

Orang normal akan bertanya;

"Siapa kau?"

Namun berbeda dengan Riviana yang pikirannya penuh dengan roti.

"Apa kau mau memberiku roti?" tanyanya polos.

Wanita itu menarik seringai tajam yang tak lazim saat kau menolong seseorang.

Jari kukunya yang tajam mengusap kedua pipi Riviana.

"Cantik.. cantik sekali," gumamnya.

Riviana menatap wanita itu heran. "Maksudmu.. roti ini cantik? Tunggu, kau tidak mau memberiku roti?"

Wanita itu menatap mata Riviana dalam-dalam.

"Aku akan memberi banyak roti yang kau mau. Ikutilah aku maka kau akan mendapat apapun yang kau mau," bisiknya manis.

Riviana mengerjapkan mata. "Benarkah? Kau akan memberiku roti? Baik! Baik!" teriaknya girang.

Wanita itu menatap Riviana dan menarik tangannya. "Ikuti aku.." bisiknya.

...

Riviana dan wanita itu berjalan bergandengan tangan. Hari malam dengan terang bulan yang indah menyinari mereka.

Seolah-olah dua orang adik-kakak tengah berjalan di tengah malam dengan roti di tangan sang adik.

Namun jika pandang disorot beberapa meter di belakang mereka.

Tampak pemandangan yang mengerikan.

Belasan mayat tampak mati mengerikan. Kepala, badan, bahkan isi dalam tubuh berceceran seolah-olah ditabrak oleh puluhan mobil.

Mayat para warga yang mengejar Riviana mati dengan sempurna.

Jauh di depan sana, wanita itu menyeringai puas. Digandengnya Riviana semakin kuat.

The Sleeping Beauty GirlGeschichten, die süchtig machen. Entdecke jetzt