Story Of His Life

28 9 1
                                        

Dia, Satria Danu Wijaya.

Pemuda tinggi dengan ukiran wajah yang tampan. Ia mempunyai mata elang tajam yang siap mengintimidasi siapa saja yang menatapnya. Ia memiliki hidung mancung dengan pahatan sempurna, alis tebal yang menghiasi atas matanya, rahang tegas dan tubuh tegap yang menambah poin fisiknya. Tampan.
Ia memiliki fisik yang mendekati kata sempurna. Namun sayang, ia sangatlah dingin, miskin ekspresi dan sikapnya yang kasar membuat poin kesempurnaannya menurun sangat drastis.

Dengan bentuk tubuh yang seperti itu, tidak ada perempuan yang dapat menolak pesonanya, namun setelah mengetahui perilakunya, membuat orang-orang enggan untuk berkenalan atau bahkan sekedar untuk berpapasan dengannya.
Jika mereka ingin mendekatinya, maka mereka harus berpikir ulang sebanyak seribu kali. Jadi, mereka hanya dapat mengagumi Satria dalam diam.
Berbeda dengan ketiga sahabatnya, sifat mereka cenderung lebih ramah, sehingga tidak sedikit anak-anak perempuan yang mengagumi mereka secara frontal.

Kembali lagi kepada Satria.

Orang-orang biasa memanggilnya Anak nakal, Anak tidak bermoral, dan sebutan lain yang berinti Anak yang memiliki sifat seperti yang sangat buruk.

Tidak. Sungguh bukan itu sifat sesungguhnya.
Sebenarnya ia hanyalah anak remaja yang masih duduk di bangku SMA yang hilang akan kasih sayang orang tua.

Ibunya sudah 2 tahun terakhir ini meninggalkannya dan ayahnya karena penyakit yang sudah ada ketika ibunya lahir. Sedangkan ayahnya, ayahnya hanyalah seorang penggila kerja. lelaki paruh baya itu menempati mansion yang berada tak jauh dari kantornya semenjak kematian ibunya.
Meninggalkan ia seorang diri terlebih ia adalah anak satu-satunya dikeluarganya dan hanya ditemani beberapa pekerja dirumahnya yang terbilang sangat luas untuk ukuran sebuah rumah.

Satria muak. Muak dengan hidupnya. Ia masih mempunyai seorang ayah, Namun dengan sifat ayahnya itu, ia merasa seperti tidak mempunyai orang tua dan hidup sendirian di dunia ini.
Dulu, ia pernah meminta kepada sang ayah untuk tetap memperhatikannya walau sudah tidak adanya sosok ibu diantara keduanya. Pertamanya sang ayah menuruti permintaan Satria, tetapi itu hanya berlaku hanya beberapa hari saja dan selebihnya, ayahnya kembali seperti semula yaitu diam, dingin dan seperti menganggapnya tidak ada. Bahkan untuk menyapanya saja, ayahnya hanya melakukannya ketika Satria sedang dibutuhkan saja. Satria muak dengan itu semua.

Sepi, dingin, sunyi dan terasa mencekam. Itulah yang selalu dirasakan Satria ketika ia menginjakan kakinya dirumah. Padahal dirumahnya tersebut terdapat pekerja rumah yang tidak bisa dikatakan sedikit. Namun, tetap saja ia merasa seperti tidak ada orang disana.

Tok Tok Tok

Baru saja Satria membaringkan dirinya di ranjangnya, Suara ketukan pintu menginstrupsi kegiatannya yang tengah menatap kosong dan lurus di balkon kamarnya.

Satria melirik sekilas pintu kamarnya. Ia menghela napas berat.
Tanpa perlu membukanya ia sudah tahu siapa yang mengetuknya. Yang sudah pasti para pembantu dirumahnya.
Lalu siapa lagi? Hanya mereka yang ada dirumah besarnya itu. Jika sahabat-sahabatnyapun, pasti mereka akan memberitahukan dirinya terlebih dahulu.

Satria melangkah dengan berat menuju pintu. Ia memandang lantai kamarnya sejenak sebelum membuka pintu.
"kenapa mbak?" tanya Satria ketika pintu terbuka kepada pembantu rumahnya, Mbak Sari.

"Anu, ada Papa mas, mas disuruh turun kebawah," tutur Mbak Sari, Mbak Sari adalah pekerja rumah yang sudah mengabdi kepada keluarganya semenjak ia masih bayi. Wanita itu sendiri, sudah Satria anggap sebagai orang terdekatnya setelah Ibunya meninggal.

Satria mengerutkan keningnya, bingung dan terkejut.

Ia berpikir keras. Ayahnya pulang kerumah? Bahkan repot-repot memanggilnya? Ada apa? Batinnya.

Sedikit lama ia berpikir sebelum akhirnya menangguk pelan tanda mengerti "iya, nanti turun."

Mbak Sari mengangguk, "Mas sudah makan?" tanya Wanita setengah paruh baya itu.

Satria menggeleng, "belum." jawabnya singkat.

"Makan mas," pinta Mbak Sari seraya mengelus sayang lengan atas Satria.

Satria mengangguk singkat.

"Yaudah, Saya turun dulu ya mas," pamitnya. Satria tersenyum tipis menanggapi ucapan wanita yang sudah merawatnya sejak kecil itu.

Satria menuruni tangga menuju lantai dasar dengan langkah pelan sembari menatap sang ayah yang tengah membaca lembaran kertas ditangannya dengan jas kerjanya yang masih melekat ditubuhnya.
Ketika dirinya sudah menapaki lantai dasar, sang ayah menyadari kehadirannya lalu menatapnya dengan tatapan serius.
Sedangkan Satria menatap ayahnya tanpa minat.
Lagi pula, ia juga tidak berniat untuk memulai percakapan atau sekedar menyapa laki laki yang berstatus sebagai ayahnya itu.

Abraham- ayah Satria menatap Satria dengan tatapan penuh arti yang tidak bisa dibaca "kamu apa kabar?" ujarnya memulai pembicaraan.

Satria memandang patung yang berada tak jauh dari abraham. Ia lebih memilih memandang arah lain dari pada bersitatap dengan ayahnya.

"Papa mau liat keadaan kamu," tutur Abraham.
Satria diam, tidak mengatakan apapun.

Abraham menghela napas berat, bukan maksudnya untuk tidak peduli pada Satria. Jauh didalam relung hatinya, ia sangat menyayangi sang anak. Namun, meninggalnya sang istri membuatnya hancur dan lupa akan tanggung jawabnya kepada Satria sebagai seorang ayah.
Menjadikannya menyibukkan diri bekerja bahkan ia menganggap hidupnya hanya untuk bekerja.

Abraham tahu, sangat tahu malah kalau anak tunggalnya itu marah yang sangat teramat, namun untuk bangkit dari keterpurukan meninggalnya sang istri terasa sangat sulit. Membuatnya untuk menutup diri bahkan dari Satria sekalipun.

Dulu, Satria adalah seperti anak remaja pada umunya, yang baik hati dan selalu melempar senyum kepada semua orang. Namun, semenjak meninggalnya sang ibu dan berubah drastisnya sikap sang ayah membuatnya menjadi pendiam, dingin, dan cenderung kasar kepada semua orang. Itu adalah pandangan Abraham.

Jika kalian tanya apakah Abraham tidak memperdulikan Satria, maka kalian salah besar.
Laki-laki setengah paruh baya itu sangat memperhatikan Satria. Hanya saja, ia punya cara sendiri untuk memperhatikan anak semata wayangnya itu dengan menyewa beberapa orang untuk memantaunya lalu memberitahukan kepadanya. Tidak pernah ia mengatakan itu sekalipun kepada Satria. Entah kenapa.

Abraham menghela napas berat.
"tadi ka-"

"mau apa?" Ujar Satria dingin memotong ucapan Abraham.

Sang ayah terdiam begitu saja setelah mendengar ucapan Satria yang sangat terlihat kalau anaknya itu tidak ingin membuang waktu dengan basa-basinya.

"If you don't want to say anything, I go." Satria bangkit dari duduknya dan beranjak pergi menuju kamarnya.

Abraham menghela napas berat untuk kesekian kalinya sembari menatap Satria yang kini tengah menaiki tangga menuju kamarnya.

Rough LifeDonde viven las historias. Descúbrelo ahora