Nostalgia

193 8 9
                                        


Malam itu, lagi-lagi dingin.

Aku terdiam menatap langit-langit kamarku, sambil mendengar sebuah percakapan yang mengiris-iris gendang telinga ini.

Aku tak tau apa yang orang lain akan rasakan, namun bagiku yang belum hidup belasan tahun kala itu, aku sakit.

Ketika ayah mengakui ketidaksetiaannya dan ibu berkata memang cinta itu tak pernah ada darinya sejak awal.

Lalu sejenak aku berfikir, apakah seseorang yang tak terlahir karena cinta akan melahirkan anak-anaknya kelak tanpa cinta pula?

Lalu kenapa ibu mendorong ukiran itu sampai terdengar suara hempasannya ke setiap lorong kamar? Apakah bukan karena ia cemburu? Atau ia hanya dipenuhi amarah karena merasa harga dirinya telah diinjak-injak?

Kenapa ayah menendang setiap pintu kokoh rumah mewah nan besar ini?

Apakah karena ia menyesal atau karena ayah hanya tak mau kalah dengan ibu?

Dan kakakku, dan aku, menangis. Apakah hanya karena kami tak bisa menerima kenyataan ini?

Mengapa semua begitu rumit?

Pun akhirnya ibu rela kehilangan semua harta yang dulunya sampai tak tau akan disimpan dimana lagi hanya untuk bertahan dengan ayah. Mengapa?

Aku pun kehilangan semua, dari rumah besar yang dulunya ditinggali puluhan orang, barang-barang mewah itu, dan kenyamanan yang kufikir akan kudapatkan hingga aku besar nanti.

Masih beruntung aku masih memiliki keluarga yang utuh walau tinggal sisa serpihannya saja karena sudah hilang dongeng ibu menjelang tidur atau Sholat berjamaah yang dilakukan bersama tiap malam.

Semua pulang larut, aku sendiri.

Aku marah, kubilang pada diriku suatu saat aku yang pergi.

Maunya berdoa, tetapi bingung karena ku anggap Tuhan yang mana.

Sebab ayah mulai ingkar, ia tidak lagi bersama Allah yang dulunya kami sembah bersama-sama.

Kakak juga ingkar, mereka mengatup tangan dan menyembah Tuhannya dengan bunga dan dupa-dupa.

Hanya Ibu yang masih bersujud seperti yang kami semua lakukan bersama dahulu kala.

Kataku, "Tuhan, biarlah kusembah dirimu dengan caraku sendiri".

Bertahun-tahun aku hampa. Mencari-cari sesuatu yang rasanya seperti hilang walau cuma se-persepuluhnya.

Aku telah lupa bagaimana rasanya dicintai atau mencintai.

Dan seluruh kebahagiaan yang fana ini tergambar dari kisah-kisah yang dilantunkan orang tentang diriku.

Aku adalah tokoh yang orang lain ciptakan dibenak mereka.

Dan setiap kali aku mulai meluruskan tentang siapa diriku, apa yang aku rasakan, mereka bilang aku tidak bersyukur.

Ingin sekali rasanya aku bilang "Anda tidak mengenal saya tuan", namun orang-orang lebih percaya akan apa yang ia lihat tentang diriku tidak dengan mendengarkan apa yang ada dalam fikiranku.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 10, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

TerjebakStories to obsess over. Discover now