Part 15

1 0 0
                                    

Sudah dua jam Jessy mengunci dirinya di dalam kamar tidurnya. Ia memikirkan apa yang di tanyakan oleh Zedd soal hubungannya dengan Austin. 'Apakah ia menyukaiku atau hanya sekedar bertanya saja ?' Batin Jessy di dalam hatinya. Perempuan tersebut terkejut saat seseorang mengetuk pintunya.

Jessy membuka pintu dan melihat Austin berada di depan kamarnya. "Ada apa lagi Austin ?" Tanya Jessy dengan nada kesal kepada pria itu. 'Ada apa lagi dia datang ke rumahku ?' Pertanyaan itu terbesit di pikirannya saat melihat Austin. "Aku kesini hanya untuk meminta maaf kepadamu, Jessy." Ucap Austin dengan nada menyesal.

-Jessy POV-

Aku terdiam saat Austin mengatakan kata maaf dari mulutnya. 'Apakah aku tak salah dengar ? Apakah aku harus memaafkannya ?' Aku memikirkan apakah aku harus memaafkan dia setelah ia hampir memperkosaku dengan menciumku di atas kasur. 

"Baiklah aku akan memaafkanmu." Jawabku setelah terdiam cukup lama. Austin mulai tersenyum senang dan hendak memelukku sebelum aku menahannya dan melanjutkan kata kataku, "tapi jika kau menciumku tanpa izin lagi, aku akan memusuhimu." Lanjutku dan ia hanya mengangguk. "Baiklah. Kalau begitu, aku akan pulang. Aku kesini hanya untuk meminta maaf. Sampai jumpa di sekolah besok." Sapa Austin sambil berjalan menuju pintu rumahku.

-Jessy Pov end-

-Austin POV-

Sudah dua jam, Jessy mengurung diri di kamarnya. Aku sudah jenuh untuk menunggu ia keluar hingga aku putuskan untuk menyusul dia ke kamarnya. Awalnya aku ragu untuk mengetuk pintu karena ia pasti tak akan membuka pintu. Tapi aku beranikan diri untuk mengetuk dan ia pun membuka pintunya.

Reaksi yang pertama kali aku liat adalah terkejut. Pasti ia terkejut karena ia tak menyangka bahwa aku yang mengetuk pintu kamarnya bukan ibunya. "Ada apa lagi Austin ?" Tanya Jessy dengan nada kesal. Aku tau ia masih menyimpan rasa kesal kepadaku karena kejadian beberapa waktu yang lalu saat aku menciumnya tanpa sadar. 

"Aku kesini hanya untuk meminta maaf kepadamu, Jessy." Ucapku dengan nada menyesal.  "Kau tidak perlu memaafkanku. Aku hanya ingin mengatakan itu." Lanjutku kepadanya. Ia pun tampak berpikir sebelum ia mengatakan sesuatu, "Aku memaafkanmu tapi dengan satu syarat."

"Apapun syaratnya, akan aku lakukan untukmu. Asal kau benar benar memaafkanku." Ucapku dan Jessy pun tersenyum -yang aku tak tahu maksud dari senyuman itu-. "Aku ingin kau pergi dari sini. Itu yang bisa membuatku untuk memaafkanmu." 

Ucapan dari Jessy jelas membuatku kaget. Dia mengusirku ?. Aku sudah jauh pergi ke rumahnya dan dia menyuruhku untuk pergi dari hadapannya ?. Aku menghela nafas seraya berkata, "Baiklah jika itu maumu." Aku pun bergegas dari hadapannya dan aku berjanji tidak akan menemui Jessy kembali jika itu maunya.

-TBC-

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 18, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Triangle LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang