PROLOG

3.6K 167 0
                                        

23 Oktober 2018.

Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara.

14.20 WIB.

Terlihat seorang pemuda berperawakan tinggi, berkulit sawo matang sedikit putih, mata yang tidak terlalu besar, ber alis mata tebal, memakai kaca mata bulat yang tergantung di pangkalan hidung. Sedang berada di antara barisan kursi tunggu di sebuah Bandara di kota Bandung, yang sedang membaca sebuah buku bertuliskan Bersabarlah, yakin Allah selalu berada bersamamu.

Kehadiran nya sejak beberapa menit yang lalu setelah landing dari Negri Turki ini rupanya sedang membunuh waktu dengan membaca sebuah buku yang beberapa waktu yang lalu didapatkan dari sang ayah.

Drrrttt, drrrttt.

"Assalaamu'alaikum, halo bunda. Iya bun, kakak udah landing beberapa menit yang lalu. Sekarang kakak lagi nyari taksi, Iya kakak bisa kok ke rumah bunda. Jangan lupa kasih alamatnya biar kakak gak nyasar hehehe, siap bunda. Yaudah ya bun sampe ketemu di rumah assalaamu'alaikum."

Terlihat sosok laki-laki itu membawa kopernya keluar dari area Bandara dan tak lupa buku yang masih di genggamnya.

Diberhentikannya sebuah taksi, tak lupa tersenyum sebagai sapaan untuk sang bapak sopir, lalu memberi tahu arah tujuannya kepada bapak supir taksi.

Dilihatnya daerah-daerah yang sudah lama tak ia lihat itu. Kota Bandung, kota kelahirannya, sudah lama tak terlihat di mata lelaki ini.

Rindu melihat suasana ini, sepanjang jalan hanya ia habiskan melihat lihat suasana dan pemandangan dengan jendela yang terbuka.

Tak terasa waktu yang dihabiskan, kini lelaki ini sudah berada di depan rumah tujuannya.

Tok! Tok! Tok!

"Assalaamu'alaikum, Bunda! Kakak udah nyampe ni. "

"Wa 'alaikumus salam, anak Bunda udah nyampe juga di rumah. Syukur alhamdulillah. " Terdengar sahutan dari balik pintu.

Terlihatlah seorang perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik dengan hijabnya, di peluk erat oleh lelaki ini. Mungkin rasa rindunya sudah tak bisa ditahan saat melihat sosok yang sudah melahirkannya ini.

" Bunda sehat kan? Gimana adek?? Dia baik baik aja kan sekolahnya? Nanti kakak bakal sekolah di sekolah yang sama bareng si ade!. "

"Astagfirullah, satu-satu nak. Ayo masuk dulu nanti Bunda jawab satu satu ya. "

Lelaki ini hanya berharap semoga dengan ia tinggal disini ia akan lebih merasa bahagia tinggal bersama sang bunda dan adiknya.








To be continued

We Not Have Much Time [For My Sister]Stories to obsess over. Discover now