|Chapter One|

482 13 7
                                        

Hai! Aku Alexis Sorensen! Aku blaster Jerman-Indonesia. 
Tapi sekarang aku tinggal di Jakarta :)


Alexis

1995

Aku masih duduk di Taman Kanak-kanak.

Pertama masuk TK, aku ketemu sama orang Indonesia, namanya Billy. Pertama kali aku ketemu, aku langsung bener-bener, secara instan, aku tertarik sama dia.

Mungkin karena dia keren, dia lucu, dia imut, dia ganteng.

"Oke, anak-anak, ayo kita perkenalan satu-satu." Di kelas saat itu hanya ada dua puluh orang. Aku orang kelima yang ditunjuk untuk memperkenalkan.

"Hai, aku Alexis Sorensen. Aku imigran dari Jerman, Mamaku orang Indonesia, Papaku orang Jerman. Aku nggak suka timun, aku suka apel. Aku nggak suka ayam, aku suka ikan. Sayuran favorit aku buncis sama wortel."

"Oh, wow, Alexis, oke, makasih perkenalannya." Ucap guru. "Billy. Sekarang kamu." Aku akui, Bu Syifa adalah guru yang baik dan sangat ramah. Dia selalu tersenyum.

"Halo, aku Billy Antariksa. Aku tinggal hanya beda dua blok dari sini, makanan favorit nasi goreng Mama, makanan yang paling aku benci itu acar."

Dan terus sampai anak terakhir yang diperkenankan untuk mengintrodusi.

Saat jam main, aku menghampiri Billy yang sedang mengobrol dengan Fauzi, Ikhsan, dan anak-anak laki yang lain.

Aku mencolek bahu Billy. "Hai!" Sapaku.

Billy bukan anak yang ramah sepertinya, dia menanggapi aku dengan senyuman kecil, yang menurutku juga terpaksa.

Sementara itu, aku melihat Fauzi dan Ikhsan nahan ketawa.

"Eh... um... bukannya kamu harusnya menjawab sapaanku?" Aku tersenyum kecil. "Aku Alexis. Kamu bisa panggil aku Alex, atau Lexis, atau Lexi. Siapapun. Atau Lex." Aku mengulurkan tangan sebagai sapaan.

Billy menyambut uluran tanganku, dan kami berjabat tangan. Tangannya sedikit lebih kecil daripada tanganku saat itu. "Billy." Ucapnya singkat.

"Semuanya! Alexis pegangan tangan sama Billy!" Teriak Fauzi. Suaranya ternyata cempreng, nggak seperti yang aku kira.

Akibat teriakan Fauzi, semua orang jadi merhatiin kita—aku dan Billy. Aku sih senang, aku justru tersenyum sekaligus terkikih. Semua orang mengejek-ejek kita, tapi aku senang.

Billy justru sebaliknya, dia buru-buru melepaskan tanganku, dan berlari kedalam ruang kelas. Aku tersenyum ke kerumunan, tapi Billy enggak. Dia justru memasang tatapan resah padaku. Dia sangat pemalu.

Tapi itulah yang membuatnya terlihat imut.

Nggak lama, aku dengar kabar kalau Billy akan pindah. Aku merasa sedih, Billy adalah anak yang baik, dan lucu, dan dia adalah orang pertama yang membuatku berwarna.

"Ma, Billy mau pindah." Aku mengeluh pada Mama.

Mama tersenyum, kemudian menarikku ke pangkuannya, dia membelai rambutku. Aku sangat senang kalau Mama sedang melakukan itu. Menenangkan hatiku. "It's okay, sweetie." Ucap Mama. Terkadang, Mama menggunakan bahasa inggris dalam kesehariannya. Tapi aku mengerti. Mama sudah membiasakan aku berbicara dengan bahasa Inggris, dan Indonesia. "Kalau takdir, kalian pasti akan bertemu lagi."

I'm Chasing YOUMga kuwentong kahuhumalingan mo. Tumuklas ngayon