"Senyum lo emang berkah buat gue, tapi jangan kebanyakan senyum nanti gue bisa mati"
• • • Amora Kalestin • • •
SEBUT saja Zoe sedang sial. Sudah bangun terlambat, tugas belum di kerjaiin, telat ke sekolah dan lebih parah lagi motor matic berwarna putih kesayangannya kini lecet parah di bagian belakangnya.
Rasanya Zoe jadi pengin nangis terus peluk papa karena kebanyakan sial hari ini. Ah, Zoe jadi kangen papa. Sudah sebulan papa belum pulang karena sedang mengurus anak cabang perusahaannya di London dan mengharuskan Zoe tinggal sendiri bersama Rafael-- kakaknya.
Zoe turun dari motor lalu mengecek motornya yang sudah lecet parah akibat di tabrak dari belakang. Untung saja Zoe tidak lecet parah, hanya saja bagian tangan dan lututnya tergores.
Setelah itu, Zoe berbalik dan menatap seorang cowok di belakangnya yang masih setia berdiam diri di samping motor besarnya tanpa niat sedikitpun datang membantu Zoe.
"Punya mata nggak sih?" ucap Zoe kesal sambil memasang gaya berkacak pinggang, "jalan berasa punya nenek moyang lo ya."
Cowok itu tidak menjawab dan membuat Zoe semakin kesal. Zoe sedikit meneliti cowok itu dan mendapati sebuah badge sekolah yang sama dengannya.
"Lo gagu?" tanya Zoe.
Cowok itu lagi-lagi tak menjawab. Hingga beberapa detik kemudian cowok itu melangkah mendekatinya. Langkah cowok itu terhenti satu meter di depan Zoe. Ia membuka helm full face yang sejak awal masih di pakainya dan memperlihatkan wajah asing yang belum pernah Zoe lihat.
"Sorry," kata cowok itu, "gue enggak sengaja."
Zoe menghela napasnya dengan kesal hendak marah namun ia malah berkata sebaliknya.
"Enggak pa-pa. Gue maafin, tapi gimana caranya gue ke sekolah kalo motor gue gini? Bannya juga kempes nih," ujar Zoe sambil menatap miris keadaan motornya.
Dihadapannya, cowok itu menghela napasnya pelan lalu menghembuskannya juga dengan pelan. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan menatap Zoe dengan pandangan tidak yakin.
"Kok lo nggak marah?" tanya cowok itu.
Zoe mengernyit dan menoleh. Meneliti kembali cowok itu dan mendapati sebuah nama yang tertera pada name tag di baju seragamnya.
Zeikhel A. Z
Beh, udah ganteng, namanya keren pula, batin Zoe.
"Gue nggak marah asal lo senyum. Perasaan dari tadi muka lo datar mulu deh," ucap Zoe.
"Hah?"
Dengan senyum mengembang, Zoe menyodorkan telapak tangannya pada cowok itu. Tak ada respon hingga dengan seenak hati, Zoe menarik tangan cowok itu dan meletakkan tangannya dengan tangan Zoe, bersalaman.
"Nama gue Amora Kalestin, panggil aja Zoe. Nggak perlu banyak nanya kenapa nama panggilan gue nggak nyambung sama nama panjang gue, intinya cukup panggil gue Zoe karena gue lebih suka di panggil gitu," kata Zoe panjang lebar, "kalau lo?"
Antara bingung dan heran dengan cewek di hadapannya. Cowok itu hanya bisa diam namun kembali Zoe bertanya menyuruhnya memperkenalkan diri, akhirnya ia membuka mulut.
YOU ARE READING
Z&Z : Zei dan Zoe
Teen Fiction"Seperti matahari yang begitu mencintai bumi, menjauh untuk menjaga."
