0.0

51 4 0
                                        


Suara​ riuh penonton terdengar dari dalam arena futsal. Lagi-lagi, pemain dengan Nomor punggung lima itu mencetak skor untuk timnya dan tentu saja membuat tim lawan merasa kewalahan.

Di antara banyak penonton ada 3 perempuan sedang menyaksikan pertandingan tersebut dengan wajah tegang, nampaknya mereka kecewa karena tim dari sekolah mereka harus ketinggalan skor untuk kesekian kalinya.

"Gue mau ke toilet dulu" Seorang Perempuan dengan rambut sebahu yang dibiarkan terurai itu berdiri.                   
Belum sempat melangkah, tangan perempuan itu sudah ditahan oleh salah seorang temannya "Eh buset dah, tunggu bentar aja kenapa sih sha? Ini juga mau selesai pertandingannya"

"KAN GUE UDAH BILANG GUE MAU KE TOI--" mulut perempuan itu ditutup oleh telapak tangan temannya dan membuat ia harus mendengus kesal.

"Gilsha Amara ku sayang, ini tempat umum. Jadi, Lo jangan bikin malu gue dengan mulut spiker lo itu"

"Ayunda Intan ku sayang, gue kebelet, gue mau ke toilet, gak bisa ditahan ini, lo mau gue buang air di sini? Lagian di sini juga masih ada Amel" Kini raut wajah Gilsha tampak kesal, ditambah dengan matanya yang melotot kearah Intan.

Tanpa perlu mendapat jawaban, Gilsha segera meninggalkan temannya lalu menuju toilet. Perutnya sudah sangat mulas dari tadi, ditambah dengan kekalahan tim sekolahnya yang membuat perut mulas Gilsha semakin menjadi-jadi.                                    
                     ***
Gilsha sudah selesai berurusan dengan perut mulasnya. Ia berjalan keluar toilet. Pertandingan sudah selesai sepuluh menit yang lalu, itu berarti kedua temannya sudah menunggunya di depan pintu keluar. Gilsha yang merasa tidak enak dengan temannya itu kemudian mempercepat langkahnya.

*Buggg*

Gilsha terjatuh karena seseorang dari lawan arah telah menabraknya. Sambil meringis kesakitan, Gilsha berusaha meredakan rasa sakit dengan memijit kakinya.

Sekuat tenaga, Gilsha berusaha berdiri dan di hadapannya sudah ada laki-laki dengan tubuh tegap jika dilihat dari parasnya jelas saja hanya orang yang penglihatannya terganggu yang akan mengatakan jika laki-laki itu jelek, hidungnya sangat mancung, kulit putih, ditambah dengan keringat yang menetes di pelipisnya semakin menambah ketampanan laki-laki itu.

Gilsha mengerutkan dahi, ia seperti pernah melihat laki-laki itu namun ia lupa di mana. Maklum, kadang Gilsha suka lupa dengan hal-hal yang baru ia temui. Bukan, Gilsha tidak pikun ia hanya acuh dengan sesuatu ataupun seseorang yang tidak dikenalnya

"Maaf, saya tidak sengaja" Laki-laki itu nampak seperti menghindari tatapan mata Gilsha.

"Oke gak masalah, gue juga gak kenapa-kenapa, lagian ini juga kesleo biasa bentar lagi juga sembuh" Gilsha menatap laki-laki itu dengan senyum ramah. Sayang, laki-laki itu hanya menundukkan pandangannya.

"Saya permisi, assalamualaikum" Laki-laki itu meninggalkan Gilsha seorang diri.

Baru beberapa langkah, laki-laki itu kembali menengok ke belakang, menatap Gilsha dengan teduh walaupun sesaat kemudian ia menundukkan pandangannya.

Gilsha merasa hanyut dengan tatapan laki-laki tadi, detak jantungnya semakin memburu. Kemudian ia menampar pipinya sendiri untuk menyadarkan diri.

Merasa belum menjawab salam dari laki-laki tadi, Gilsha mengeluarkan kekuatan super milik mulut spikernya.

"Waalaikumsalam"

Thanks For YouOpowieści tętniące życiem. Odkryj je teraz