♥mobil bekas

5.6K 329 56
                                    

malam itu dirumah aku banyak merenung. memikirkan tiap perkataan eyang. aku cuma bisa diam dan menyesal. apa yg aku lakukan ke sarah sudah diluar batas. sangat egois bila harus melepas apa yg selama ini kusebut 'kutukan' supaya bisa ganti mengikuti sepanjang hidup nya dan anaknya kelak.

" len". panggil sarah saat aku duduk dalam gelap diruang tamu.

" km ga tidur?". tanyaku terlebih dulu.

" aku yg seharusnya tanya begitu". katanya balik.

" belom bisa...". jawabku melihat pintu ruangan eyang masih tertutup. dari tadi haris masih didalam sana.

" belom selesi juga ya?". tanya sarah melihat kearah pintu yg sama.

" belom.. ". jawabku males malesan.

" matiin lagi lampunya ..". pintaku saat sarah mau mendekat kearahku.

' klek' ruangan menjadi gelap dan hanya diterangi cahaya dari luar yg masuk melalui jendela kaca besar disamping ruang tamu.

" len.. itu..". kata sarah tergagap saat melihat bayangan seseorang duduk disofa.

" biarkan.. ". kataku males. sarah duduk dismpingku dan menggenggam tanganku.

" maav yaa.. sekali lagi aku minta maav". kataku menyesal. dia mengangguk.

" aku tau km lelah.. itu wajar". katanya sangat memahamiku.

" tidurlah sar.. udah malem.. ". pintaku saat dia makin merapatkan tubuhnya. terasa dengan jelas gerakan bayi diperutnya.

" km jangan begadang.. besok kan kejakarta". katanya mengecup pelipisku lalu beranjak masuk kekamar, sesaat dia menoleh kearah bayangan seseorang yg duduk disofa pojok.

" udh gpp.. km tidur sana". pintaku lagi.

aku berpindah duduk, hingga terlihat jelas bayangan seseorang yg td duduk disofa pojok ruang tamu dengan muka tanpa ekspresi. hanya diam dan kadang menatapku dingin.

'deg' saat ku menoleh lurus sekarang disofa didepanku duduk seseorang yg lain  tanpa gerak dan juga tanpa ekspresi. jika biasanya kita melihat seseorang duduk meski dalam gelap akan terlihat gerakan tubuhnya karena bernafas, tapi ini hanya diam.

" huufffffhhhhh...". aku menghela nafas panjang. tetep aja kalo muncul tiba tiba gini masih bikin sentakan kecil didada karena kaget.

terlihat dari ruang tamu tempat aku duduk kamar lutfi menyala. ada bayangan seorang anak kecil berdiri dibalik tirai dan hanya diam. aku beranjak dari sofa dan mendekat ke jendela kaca besar. ku kerutkan dahiku lalu kufokuskan pandanganku kearah kamar lutfi dilantai dua.

lampu kamar itu mati.. lalu menyala lagi. bayangan itu masih disana. lampu mati lagi.. nyala lagi .. aku makin mendekatkan tubuhku kepinggir jendela kaca. lampu kamarnya mati dan sekarang sangat lama.

'deg' saat lampu kamar itu menyala bayangan anak kecil itu gak lagi berada disana melainkan berdiri dibalik jendela kaca didepanku.

" hhaahggg!!". pekikku tertahan. aku mundur beberapa langkah.

" jangan ganggu aku". ucapku lirih.

aku berbalik dan berjalan kearah saklar lampu. silau dari suatu benda yg terletak tak jauh dari tempatku berdiri menarik perhatiannku. saat aku menoleh kearah jendela kaca itu sudah gak ada lagi bayangan anak kecil td.

terlihat pedang katana pemberian dari orang terdekat eyang dr jepang terbuka beberapa sentimeter dari selongsongnya. perlahan kuraih dengan kedua tanganku dan dengan cepat kututup kembali. bahaya pedang kayak gini ditaruh diruangan terbuka. aku kayaknya kecapean. jadi makin ga karuan apa yg aku liat.

The Final ChapterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang