Uno🌷Satu. (editing)

24 0 0
                                        

"Apa kau sudah siap, sweetie?" Gabriel merangkul putrinya yang sedang memandangi rumah putih minimalis di depannya.

"Aku tahu ini berat. Maafkan Dad," Lelaki bermata coklat itu menatap anaknya dari samping.

"Tak apa. Aku tahu pekerjaan Dad lebih penting," Sonya menoleh sambil tersenyum manis.

Gabriel tersenyum lalu mengambil alih koper yang gadisnya genggam.

"Yuk berangkat," ajaknya menggandeng tangan Sonya. Mereka berjalan beriringan menuju mobil putih grand livina Gabriel.

Sonya langsung duduk di bagian tengah sedangkan Gabriel membuka bagian belakang untuk menaruh koper anaknya.

"Sudah di dalam semua?" Tanya seorang wanita cantik menghampiri Gabriel.

Gabriel mengangguk lalu menutupnya. "Sudah, kau masuk duluan saja," katanya tersenyum mencium kening istrinya.

Jess masuk ke dalam mobil dan segera menempatkan dirinya pada kursi di samping pengemudi. Karna Ia harus menemani Gabriel agar tidak mengantuk dalam perjalanan panjang mereka kali ini.

Wanita itu memasangkan sabuk pengamannya disusul dengan Gabriel yang memasuki kursi pengemudi.

Matanya melirik ke arah gadisnya yang sedang menatap ke arah luar jendela. "Sayang, kalau kamu lelah tidur saja ya, ini akan memakan waktu lumayan lama," ucapnya lembut saat Gabriel mulai melajukan mobilnya.

Sonya mengangguk lalu menyenderkan kepalanya pada sandaran kursinya yang sudah di buat senyaman mungkin oleh Gabriel. "Iya, Mom,"

*****

"Itu akan bagus," Jess tersenyum sambil memegang lengan suaminya.

"Kuharap kau dan dia akan suka," ucap Gabriel melirik sekilas sembari tersenyum senang mengelus tangan istrinya dengan tangan kirinya.

"Hmm," erang seseorang di belakang mereka. Wanita itu menoleh ke belakang saat suara anaknya masuk ke dalam indra pendengarannya.

Terlihat anaknya sedang mengucek ngucek matanya dengan memeluk sebuah bantal awan di pangkuannya.

"Sweet? Kau sudah bangun?" Panggil Jess menatap anaknya.

Sonya menatap Ibunya dan mengangguk pelan. "Pukul berapa sekarang, Mom?" Tanyanya masih sibuk dengan matanya.

"Pukul lima, kau haus?" Tanpa menunggu jawaban, wanita itu memberikan botol bening bertuliskan 'my bottle' pada anaknya.

"Terima kasih, Mom," katanya lalu meneguk sedikit air putih itu. Dia menaruh botolnya di samping kanannya.

"Kapan kita akan sampai?" Tanya Sonya menatap jalanan di sekitarnya.

"Mungkin pukul sembilan nanti paling lama," jawab Gabriel tersenyum menatap anaknya lewat kaca tengah.

Sonya mengangguk mengerti kembali menatap jalanan di sampingnya.

Dia tidak tahu dia ada dimana. Jalanan ini terlihat lurus dan sangat panjang. Di tepinya pun hanya ada pasir kuning seperti yang ada di gurun dengan sedikit pohon kecil.

Mungkin ini jalanan pembatas antar kota.

Gadis itu mengecheck ponselnya.

05.26 pm

Cahaya kuning terang matahari menembus kaca mobil yang mereka tumpangi kali ini membuat Sonya mengabadikan pemandangan pasir kuning yang menyala terpantul sinar Sang Surya yang begitu indah.

It's You.Stories to obsess over. Discover now