“Aku cinta banget sama kamu, Natta. Selama ini aku selalu mandangin kamu diam-diam.
Merhatiin kamu dari jauh. Kamu mau kan jadi pacarku?” Mata tajam Nanda menatap lurus
ke mata Natta. Jantung Natta langsung bermambo cha cha cha... Mati akuuuuu...
Natta membalas tatapan Nanda dengan memasang wajah seimut mungkin. Siapa juga yang
nggak mau jadi pacar Nanda? Pangeran impiannya sepanjang masa. Eh, nggak sepanjang
masa sih, maksudnya sejak hampir dua tahun lalu waktu dia masuk SMA 1 Bandung ini.
Natta menarik napas panjang. Masa depan cerah sudah di depan mata. Dia akan menjawab,
“Aku... aku... aku... ma... ma...”
“MATI! Mati! Eh mati!” pekikan Dona membuyarkan lamunan Natta.
Natta melirik judes. Baru juga mau nerima cinta Nanda. “Ck! Apaan sih?!” omel Natta sebal.
Tadi kan dia hampir aja dapat “ciuman pertama”-nya.
Sambil merengut Dona mengelap-ngelap roknya yang ketumpahan Cola akibat menabrak
punggung Natta tadi. Kayaknya ini udah yang kesejuta ribu kali deh Dona menabrak
punggung Natta gara-gara sahabatnya itu ngerem mendadak. “Kebiasaan sih berhenti
mendadak! Basah nih rok gue,” sungut Dona. “Ada apa sih?” Lalu ia menjawab
pertanyaannya sendiri waktu melihat Nanda yang berjalan ke arah mereka dari ruang guru.
“Yaaah... pasti ngelamun lagi nih. Berkhayal lagi... gara-gara liat Nanda, kan?” tebak Dona
tepat sasaran.
Maria si kutu buku dan Dewi si oriental yang hobi nyanyi ikut mengangguk-angguk. Untung
mereka berada dalam jarak aman, jadi mereka nggak tabrakan beruntun.
Natta nyengir. Dona yang amat sangat mengenal Natta, tahu persis kebiasaan Natta
yang dalam waktu sepersekian detik bisa tiba-tiba berada di “dunia lain” dalam khayalannya.
“Gue baru aja mo nerima cintanya, dodol! Buyar deh.” Natta mengembuskan napas pelan.
Tuh, arah jalannya bener-bener ke sini,” bisik Natta sambil mengatur ritme jantungnya
yang makin heboh. Siapa tahu kali ini dream comes true alias mimpi jadi kenyataan. Natta
bakal bersyukur banget kalau akhirnya dia punya pacar. Dari SMP semua kecengannya kabur
waktu tahu dikecengin Natta. Cap “aneh”, “tukang mimpi”, “agak-agak kurang sesetrip”
sudah menempel sejak Natta SMP. Waktu SD sih belum. Kalau anak SD melamun sampe
melantur sih masih wajar. Lewat dari SD?! I’m sorry goodbye deh.
Ya ampun! Tuh, kan! Betul, kan! Bener, kan! Tuh, kan, tuh, kan! Natta mendadak panik
waktu Nanda mengangkat tangan dan melambai ke arah mereka sambil mengucapkan “hai”
tanpa suara. Natta tersenyum lebar sok akrab membalas lambaian Nanda. Ternyata yang ada
dalam khayalannya betul! Mereka memang nggak saling kenal, tapi Nanda memerhatikan dia
diam-diam. Yes! Yes!
Nanda semakin dekat. Langkahnya semakin cepat. Kayaknya dia nggak sabar pengin cepat-
cepat menghampiri Natta.
Natta harus menyapa Nanda duluan! Hitung-hitung balasan buat Nanda yang melambai duluan
di depan orang banyak tadi. “Hai, Nan...”
“Hai, ...”
Ik? IKut? IK-i? Lho? Emangnya mereka sekarang ada di keraton Yogyakarta apa pake bahasa
Jawa segala! IKan?! IKat?! Kok IK siiihhh?!
Terasa Dona menyikut pinggang Natta. “Maksudnya Silvia...” bisik Dona membaca pikiran
Natta.
Via! Via? Oh ya, Silvia, si cantik ketua kelas 2D. Setelah mengendus-endus ala marmut, Natta
semakin yakin memang ada Via di sekitar mereka tepatnya di belakang mereka dari
wangi parfumnya yang muahaaal ituuu... Gosipnya salah satu faktor dia terpilih jadi ketua
kelas ya karena kekayaan orangtuanya. Agak-agak bermanfaat bagi teman-teman sekelasnya
(termasuk wali kelasnya), tapi Via hepi-hepi aja karena berasa penting. Huh!
Klarifikasi: Tadi Nanda melambai dengan semangat ke arah Via. VIA. Bukan Natta. Bukan
IKan bukan juga IKut atau IKat. Rasa-rasanya Natta jadi lemas. Matanya refleks
menerawang. Ngelamun lagi deh tuh.
“Eh, nama kamu Natta, kan?” Nanda yang sedang serius ngobrol sama Via mendadak
nyuekin Via dan menatap Natta.
Natta mengangguk pelan.
“Aku Nanda...”
Natta tersenyum super duper manis. “Kamu udah tahu namaku kan tadi?” jawabnya sok
flirting alias genit.
Nanda menoleh cepat ke arah Via. “Vi, lo duluan deh ke ruang OSIS. Gue pengin ngobrol dulu
sama...” Nanda menatap Natta lembut. “Natta...”
Ahhh, cara Nanda mengucapkan nama Natta seperti dewa memanggil...
“Toge!”
Toge?!
Oh, ternyata Dona ngatain dia toge. Nggak ada ledekan yang lebih keren, apa? Toge. Apa
nama sayur-mayur bakal booming jadi bahan ledekan? Sebentar lagi dia bisa dipanggil
brokoli, pete, atau daun bawang dong?! “Ngelamun lagi kan, lo? Masih lanjut aja terus satu
episode,” kata Dona sambil menyeret tangan Natta.
“Berharap kan boleh. Mimpi itu penyemangat manusia buat menggapai masa depan, tau!
“Keblinger tau, mimpi melulu,” sahut Dewi.
“Ya kalo kebanyakan mimpi kayak lo, masa depannya RSJ!” Tangan Dona terus menyeret
Natta menjauh dari Nanda dan Via sebelum kepala Natta bikin skenario baru. Kejadian apa
pun bisa jadi satu episode drama, sinetron, atau film layar lebar di kepala Natta. “Mendingan
kita ke kantin lagi. Minuman gue tumpah semua. Diminum aja belum. Gue masih haus, gila.”
Natta nurut aja. Bukan sekali Dona ngomel-ngomel dan ngeledek Natta soal hobi dan sifat
anehnya. Dikatain segala macem sama Dona, Natta nggak akan pernah marah. Dia tahu banget
Dona cuma bercanda. Dona itu orang yang paling care sedunia pada Natta. Nggak peduli Natta
aneh. Nggak peduli Natta suka berkhayal dan bengong mendadak, Dona selalu ada di samping
Natta sejak mereka masih kelas 6 SD. Dona itu sahabat pertama Natta. Sampai akhirnya
mereka ketemu Maria dan Dewi waktu SMP. Jadi deh geng mereka ini.
Biarpun Dona galak, judes, suka marah-marah, biarpun Natta kadang-kadang cemburu karena
Dona punya banyak teman lain, persahabatan mereka tetap jalan. Cuma karena semakin lama
Dona semakin supel, gaul, dan cantik, Natta cuma bisa berdoa semoga tak sekali pun tebersit
di kepala Dona untuk meninggalkan Natta. Maria dan Dewi juga. Biarpun nggak sesupel Dona,
mereka punya banyak teman lain. Di mata Natta, selain dunia khayalannya, dunianya
bersama Dona, Maria, dan Dewi adalah yang paling menyenangkan dalam hidupnya.
“Nih!” Fanta dibungkus kantong plastik disodorkan Dona ke arah Natta. Padahal Natta nggak
minta dibeliin. “Daripada lo ngelamun lagi, mendingan minum nih,” perintahnya galak.
Natta tersenyum dramatis. Tuh kan, Dona memang sahabat sejati. “Makasih ya...” Beruntung
banget Natta punya seseorang kayak Dona.
“Seribu lima ratus.” Dona menengadahkan tangan.
Hah?!
Ralat! Nggak sejati-sejati banget sih! Pelitnya amit-amit. Seribu lima ratus aja minta ganti.
“Kirain gratis.” Natta manyun merogoh sakunya, mengeluarkan seribuan lecek dan lima
ratusan karatan dari kantongnya. “Nih!”
“Nggak ada yang gratis di zaman sekarang ini, darling,” sahut Dona sebelum ngeloyor sambil cekikikan.
Sambil manyun Natta mengikuti langkah Dona.
#selesai juga untuk bagian pertama, mohon coment saran dan kritik yg membangun ya guyssss.
Karya pertama, hidup penulis indonesia!!!
Salam MRFernanda😁
YOU ARE READING
Natta
Teen FictionCerita cinta, persahabat, perselisihan di bangku SMA. Aku cinta banget sama kamu, Natta. Selama ini aku selalu mandangin kamu diam-diam. Merhatiin kamu dari jauh. Kamu mau kan jadi pacarku?" Mata tajam Nanda menatap lurus ke mata Natta. Jantung Natt...
