~HAPPY READING!~
~
~
~
Kini terlihat seorang gadis yang sedang menggunakan waktu libur produktif nya dengan cara berjalan-jalan mengelilingi lapangan yang luas dan di penuhi dengan banyak orang yang juga melakukan hal sepertinya, atau pun sedang menggunakan lapangan berumput untuk bermain bola.
Pagi ini cukup sejuk untuk orang-orang yang sedang melakukan aktifitas olaraga ringan dan seperti nya hal itu juga di rasakan oleh dirinya, walaupun sendari tadi terus-menerus menunjukkan wajah tanpa ekspresi.
Dengan menggunakan celana training, sweater dan tak lupa headset yang bergelantung di telinganya.
Ia terus berjalan dengan pelan menikmati udara pagi dan pemandangan yang membuatnya ingin merasakan hal itu lagi.
Di depannya berdiri. Ada keluarga kecil yang bahagia, yaitu seorang Ayah, Ibu dan Anak Perempuannya.
Sang ibu sekarang tengah memotret Suami dan Anaknya, sedangkan Sang Ayah tengah memegangi anak perempuannya yang sedang belajar memakai sepatu roda.
Tangan kecil yang berpegangan erat dengan kedua tangan sang Ayah, membuat ia mengingat masa itu lagi. Seketika masa itu kembali bersarang di pikirannya.
"Pelan-pelan sayang!" Perlahan-lahan sang Ayah mulai melepaskan pegangan tangannya pada Anak.
Anak perempuan itu dengan gembira akhirnya bisa memainkan sepatu roda dengan benar, tapi si Anak perempuan itu justru salah menggunakan sepatu roda itu dengan baik.
Ia terlalu cepat, sehingga membuatnya menabrak seorang Gadis yang sendari tadi memerhatikannya.
Dengan sigap Gadis tersebut langsung menahan pundak anak perempuan itu dan langsung jongkok menyesuaikan tingginya dengan anak itu.
"Maaf ya kak." Anak perempuan itu meminta maaf dengan nya sambil memasangkan wajah penuh bersalahnya.
"Kamu nggak papa kan sayang?" Ayah dari anak perempuan itu menghampiri mereka dan melihat keadaan anaknya.
"Maaf ya nak," ujar laki-laki paruh baya itu kepada nya. Ia pun hanya mengangguk kan kepalanya.
"Kamu belajarnya pelan-pelan ya," ucap nya sambil mengacak pucuk rambut kepala anak perempuan itu.
"Permisi." Ia berpamitan dengan sedikit menunduk kan kepalanya dan melanjutkan jalan paginya.
Saat berjalan pun ia masih memikirkan anak perempuan tadi, karena ia pernah berada di posisi itu.
Posisi di mana masa yang menyenangkan buat nya, masa di mana ia menjadi tuan putri dan Sang Raja yang menemaninya bermain.
Dan masa di mana menurutnya keluarganya sangat harmonis, sampai pada akhirnya Penyihir datang tanpa rasa bersalah membawa Sang Raja pergi dan merusak kebahagiaan Istana yang telah di bangun bersama.
~~~~~
Ada seorang laki-laki yang sekarang tengah berdiri sendirian sambil menggunakan tangan nya untuk menopang dagu di pembatas pagar.
Sendari tadi kebosanan sudah menghampiri nya, ia ingin sekali pulang. Tapi jika ia pulang, mungkin nyawa yang menjadi taruhannya.
Kaki nya sudah mati rasa berdiri selama hampir empat puluh lima menit, ia ingin sekali rasa nya duduk. Tapi niat nya sama sekali tidak bisa terwujud, di karenakan orang-orang juga sedang duduk sambil menunggu kerabat dekat nya datang.
Tuhan mendengar permohonan nya, penderitaan menunggu nya pun berakhir. Semua penumpang pesawat akhirnya sudah keluar dan sekarang ia bisa mencari seseorang yang sendari tadi ia tunggu.
YOU ARE READING
SENJA
Teen FictionTakdir sama sekali tidak bisa di ganggu gugat, jika itu ketentuannya maka itu lah yang terjadi. Mau menghindar pun tidak bisa, karena itu sudah seleksi alam. Kita bisa apa? Setelah menyusun skenario serapi mungkin agar berakhir 'Happy Ending'. Kita...
