First and End

4.8K 93 16
                                        

Your Last Touch

By Kuroyuki Ryu

.

.

.

Tetesan peluh membasahi seluruh tubuh, aroma khas percintaan menyerbak ke segala ruangan. Embusan napas yang memburu dengan desahan saling bertautan. Tanganku meremas bahunya kuat, kepalaku terdongak dengan tubuh menggelinjang.

Rasa sakit dan nikmat bercampur menjadi satu menggelapkan pikiranku. Aku tersentak beberapa kali di bawah kabut nafsu. Rasanya darahku mengumpul di satu titik, siap tuk melebur.

"Annghh~" desahanku kembali terdengar lebih keras ketika ia menyentak pinggulku dalam, melesakkan benda miliknya lebih dalam.

Kumenggigit bibir bawahku kuat hingga kumerasakan adanya rasa anyir di dalam mulutku. Iris sayuku menatap terengah pada sosok kokoh yang tengah menggagahiku.

Dia tidak berpaling, membalas tatapanku dengan tatapan menggebu dan nampak menahan sesuatu.

Aku tau dia tengah menahannya lebih lama.

Kedua tanganku merambat ke helaian hitam legam miliknya, meremasnya seperti yang kulakukan pada bahunya. Kulihat dia memejamkan mata.

Hei, apa kau menikmatinya?

Bola mata beriris jelaga itu kembali terlihat, terbayang dalam netra teduhku.

Aku menyukai netra itu.

Aku menyukai bagaimana dia menatapku.

Membuat tubuhku memanas drastis di bawah kukungannya.

"Sebut namaku," suara baritonnya mengalun memasuki indra pendengaranku. Aku tau ucapannya itu adalah titah untukku.

"Anhh, anhh~" aku hanya mendesah, tapi tidak menyebut namanya.

Ia menggeram, tatapannya menajam menatapku. Hingga detik selanjutnya aku merasa tempo permainan pun meningkat. Pinggulku menabrak pinggulnya tak terkendali.

"Akkkhhh~!" pekikanku terdengar keras. Aku tidak terkejut dengan hal ini, tapi tubuhku selalu terkejut dengan setiap gerakan dan sentuhannya.

Sepasang tangan merambat ke pinggangku, mengelusnya seringan bulu, menimbulkan rasa geli yang menggelitik tubuh.

Tubuhnya merendah, merapatkan dadanya dengan dadaku.

Ia menggigit daun telingaku.

"Sebut namaku atau ini tidak akan berakhir," bisiknya tepat di telingaku. Kalimat itu, ia tidak akan pernah bermain-main dengan kalimatnya sendiri.

"Mmnhh~ J-Jeffnh~"

Aku mendesahkan namanya. Kulumannya di telingaku semakin dalam, aku terlarut kembali untuk kesekian kalinya.

Dielusnya perutku dengan tangan besarnya, merambat naik secara perlahan. Gerakannya melambat secara konstan.

Astaga, dia menggodaku.

"Ughh..." aku mengerang tertahan, mengangkat pinggulku ke arah pinggulnya. Aku tidak ingin ia berhenti. Tidak untuk saat ini.

Segaris seringai tipis tertangkap mataku kala kumelirik dirinya.

"Kenapa? Kau ingin keluar?" tanyanya seraya berbisik. Ada nada sinis dalam pertanyaannya.

Gerakkannya benar-benar melambat, dan aku tidak menyukainya. Dia, benar-benar menyebalkan.

Your Last TouchDonde viven las historias. Descúbrelo ahora