Bela melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia benar benar apes hari ini. Hari senin, dan ia terlambat.
Bagi sebagian siswa pasti sangat takut jika terlambat dihari senin. Begitu juga dengan Bela. Ia yang hobi terlambat di hari senin dan selalu mempunyai alasan yang berbeda dan tidak masuk akal.
Bela sampai di Supermarket dekat sekolahnya untuk memarkir mobil, karena kalau ia memarkir disekolah, pasti akan ketahuan oleh guru. Ia menyebrangi jalan raya dengan terburu buru dan hampir saja tertabrak. Apes!.
Bela berlari ke gerbang samping yang jarang didatangi guru. Tapi, digerbang itu tetap dijaga oleh Pak Bowo, satpam yang sangat gampang di sogok.
Dengan bayaran 20.000 saja, Pak Bowo sudah membukakan gerbang sekolah untuk Bela. Bela tersenyum ke arah Pak Bowo, lalu berlari ke kelasnya.
Hari senin adalah hari paling ketat di SMA Garuda. Karena guru guru akan berjalan jalan mengawasi setiap kelas. Benar benar Monster Day.
Kelas Bela, XI-3, yang terletak di lantai 2. Dengan nafas terengah engah Bela menaiki tangga. Dan... Finally, Bela sampai dikelasnya dengan selamat, dan tanpa sepengetahuan guru.
Bela menaruh tasnya di bangku. Dan segera duduk, karena ia benar benar lelah.
"Bela Graciva?", panggil seseorang dari arah pintu. Bela tersentak kaget. Dan langsung melotot menatap laki laki itu, karena ia minus dan tidak memakai soflents, ditambah lagi ia tidak membawa kacamata, lengkap sudah.
"Iya? Kenapa ya?", tanya Bela.
Laki laki itu mendekat, dan Bela langsung kaget. Benar benar kaget.
Dylan Bramantya, Kakak kelas XII-5, batin Bela. Salah satu anggota osis. Padahal ia adalah murid paling nakal dan playboy, tapi entah kenapa, ia bisa menjadi anggota osis dengan gayanya yang sok cool itu.
"Lo telat lagi?", tanya Dylan. Bela hanya mengangguk. "Ikut gue!", ajak Dylan.
Lagi lagi Bela melotot. "Lo mau ajak gue kemana kak?", tanya Bela. Dylan tersenyum, "Ke lapangan lah. Pak Rafi harus tau kalo lo telat ketiga kalinya", ucap Dylan santai.
"Gak mau gue! Gue lagi sakit kak. Gue gak mau dihukum", tolak Bela dengan alasannya yang biasa.
"Gak bisa gitu", ucap Dylan sambil menarik tangan Bela.
Dengan sekuat tenaga Bela menolak, tapi Dylan sangat kuat. Mau tak mau, Bela harus mengikuti Dylan ke lapangan upacara. Sebenarnya bagi Bela, berjemur ditengah lapangan dengan teriknya sinar matahari adalah hal biasa. Karena Bela sudah dua kali merasakannya dan pingsan sekali.
Dylan mengajak Bela ke lapangan. Pak Rafi yg melihat Bela bersama Dylan pun hanya bisa menggelengkan kepala. Lagi lagi anak ini, batin Pak Rafi.
Bela hanya tersenyum, lalu berdiri tepat disamping Pak Rafi. Sedangkan Dylan berdiri dibelakang Bela.
"Bela! Kamu ini ya, gak kapok apa telat!", bentak Pak Rafi. Bela hanya menunduk. "Senin bel masuknya ke pagian pak", jawab Bela.
Para siswa yang sedang berbaris pun hanya bisa menonton Bela yang lagi lagi akan dijemur di lapangan basket.
"Dylan. Ajak dia kelapangan basket", suruh Pak Rafi. Dylan hanya mengangguk, lalu menarik tangan Bela.
Sampainya di lapangan basket, Bela berjemur tepat ditengahnya. Dylan hanya tersenyum kecil, melihat adik kelasnya itu sedang diberi hukuman.
"Lo diem disini, jangan kemana mana", ucap Dylan.
Bela hanya menoleh dan melihat kepergian Dylan.
Beberapa menit berjalan.
Hingga menit berubah menjadi jam.
Yup! Tepat 1 jam Bela dihukum, wajah Bela yang putih itupun mulai dibasahi oleh keringat. Bela merasa sedikit pusing. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya itu. Sudah pukul sembilan. Sebentar lagi bel istirahat, dan hukuman Bela selesai.
