Prolog

144 26 29
                                        

"Aku mau udahan"

" Udahan nontonnya? Kamu mau main aja? " ucap nya santai.

" Aku tahu kamu paham betul apa maksud aku" ucapku tersenyum sendu.

" apa ini karna Oca? Lot, kamu tau kan hati ku cuma buat kamu? Masalah kaya gini tuh untuk memperkuat hubungan kita. Kamu jangan nyerah ya sama aku? Karna aku ga akan pernah nyerah untuk mempertahankan hubungan kita" Jelasnya diiringi tatapan mata nya yang paling ku suka.

Aku pun memalingkan wajah, takut pendirian ku runtuh. Aku menjauh sedikit darinya.

" Aku lelah. Aku lelah berperan sebagai kekasih yang sangat pengertian. Seolah aku mengerti saat dia menghubungi kamu terus, seolah mengerti kalau kamu membalas pesan singkat dia karna kamu ingin bersikap ramah, dan mengerti saat kamu telfonan sama dia disaat aku sudah terlelap? Dan sekarang giliran kamu yang mengerti kalau aku ingin mengakhiri semua ini" Jelasku.

" Aku gamau nganggep ini serius dulu, karna kamu kalau mood nya lagi buruk. Cara berfikir kamu lagi ga jernih. Kamu bobo dulu aja ya... walaupun ini masih siang sih"

" Aku ga bercanda, Hezu. Aku udah mikirin ini semalam an. Oh iya, aku juga mikir kalau yang lebih butuhin kamu itu dia bukan aku. Jadi kamu sama dia aja, lagipula aku udah bosen  4 tahun sama kamu terus.  Aku gamau cerita masa remaja aku pemeran utama nya cuma kamu aja?"

" Hah? Kamu nyerahin aku seenak nya ke Oca? Udah kita omongin ini besok aja ya. Aku mau jemput Aik dulu. Nanti aku telfon kalau udah sampai rumah" ia bangkit dari karpet dan menarik tanganku menuju halaman rumah ku.

Tentu aku masih tau sopan santun, aku tak membantah.

" Pikirin baik baik ucapan kamu tadi ya Lota. Aku sayang kamu dan kamu pasti tau itu" ucapnya dari atas motor lalu meninggalkan ku berdiri sendiri. Sepi. Tetapi, tak seperti keadaan dalam fikiranku. Otak ku berkecamuk memikirkan hal apa yang harus aku lakukan.

Bertahan?

Atau

Melepaskan?


Serpihan HatiWhere stories live. Discover now