LAVANYA AHZARAKA
"kasus korupsi yang melibatkan beberapa orang pejabat tinggi negara yakni Mahru Ahzaraka dan Budian Kurnia memasuki babak baru. Setelah ditetapkan sebagai tersangka, keduanya dibawa ke Polres Pagarjati untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut terkait hal ini."
Hujan deras yang mengguyur kota tempatku tinggal seakan dapat merasakan apa yang aku rasakan. Pembawa berita cantik itu memberikan ekspresi kaku sembari membaca topik berita pilihan hari ini.
"menariknya, Mahru Ahzaraka membantah bahwa dirinya terlibat korupsi dana pembangunan sebuah rumah sakit."
Mataku masih terpaku pada televisi layar datar yang menyiarkan berita malam. Rasanya ingin sekali aku berteriak di hadapan semua orang bahwa hal itu tidak benar, namun apa yang bisa diharapkan dapat berubah dengan hanya kata-kata emosional belaka? Tanpa bukti yang cukup?
"meskipun begitu, sejumlah saksi yang tak dapat kami sebutkan identitasnya memberikan bukti tak terbantahkan mengenai keterlibatan Mahru Ahzaraka dalam kasus terse-"
Layar televisi dihadapanku berubah menjadi gelap.
Kuletakkan remote tv yang kugenggam dengan erat itu di atas meja kaca yang menompang sebuah vas bunga dengan bunga mawar warna-warni yang indah di atasnya. Sebenarnya remote tv itu tidak memiliki kesalahan apapun hingga harus menerima luapan kemarahanku atas hal yang baru saja aku dengar.
Rasanya sakit melihat orang yang tidak bersalah menanggung beban para orang yang bersalah, apalagi saat orang itu adalah ayah kita sendiri. Sejak minggu lalu saat Mama menelfonku dengan nada panik yang tak pernah ku dengar sebelumnya, aku tahu hidupku tak akan pernah sama lagi.
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam saat aku akhirnya beranjak naik ke kamar. Langkah kakiku terhenti saat mendengar suara isak tangis halus yang berasal dari kamar mama dan papa. Beberapa hari ini aku sering mendapati mama menangis saat dikiranya aku dan Deva sudah tidur. Ada rasa menusuk di dada ketika menyadari bahwa aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikan apa yang sedang terjadi dan tak dapat mengubah apa yang sudah terjadi.
Tentu saja, mendengar Mama menangis menghancurkan hatiku. Ia adalah wanita yang berjuang antara hidup dan mati demi aku dapat lahir ke dunia. Dan hatinya terluka karna sebuah hal yang bahkan tidak dilakukan Papa.
Pada akhirnya aku hanya bisa menghembuskan nafas panjang, mengumpulkan lagi kesabaran yang telah habis hari ini untuk digunakan lagi di hari esok. Aku percaya bahwa ini hanyalah badai yang menghampiri hidupku, yang akan membasahiku dan memunculkan beberapa kilat untuk sementara waktu. Aku yakin, setelah badai berlalu pelangi akan muncul dan hidupku akan kembali seperti dahulu.
DARY KRISNA HARAWAN
"sudah kubilang jangan bawa perempuan itu ke rumah! Hargai rumah tangga yang kita bangun dari 0 ini dan hargai aku sebagai istrimu, Gusman!!"
Suara melengking ibu ketika marah terdengar menakutkan di telingaku, tapi tidak di telinga laki-laki yang darahnya juga mengalir dalam tubuhku. Suara petir yang menggelegar seakan berusaha melerai pertengkaran mereka yang entah sudah berapa kali terjadi sejak ibu mengetahui bahwa ayah memiliki wanita lain. Entah sudah berapa banyak pula barang pecah belah yang menjadi korban dalam pertengkaran mereka.
Tak banyak yang dapat kulakukan, karna mereka tidak akan menghentikan pertengkaran itu walaupun aku melakukan orasi besar-besaran di hadapan mereka berdua.
"diam kamu!! Jangan berani-berani mengaturku jika semua yang kau miliki itu adalah hasil dari jerih payahku!"
Aku bergidik ngeri ketika mendengar ucapan itu keluar dari bibir ayah. Hal yang barusan diucapkannya benar-benar bukan terdengar seperti...ayah. Ucapan itu terlalu angkuh, terlalu congkak, terlalu arogan.
Suara pukulan keras terdengar samar di sela hujan yang mulai turun. Walaupun badan ibu kecil, ia tidak sungkan-sungkan melepaskan pukulan pada ayahku yang badannya jauh lebih besar.
"DASAR LAKI-LAKI BRENGSEK!! AKU AKAN PERGI DARI RUMAH INI DAN JANGAN COBA-COBA UNTUK MENGHUBUNGIKU LAGI!"
Kupejamkan mataku lebih erat. Bagaimana bisa hidupku berubah menjadi mengerikan seperti ini.
Suara langkah kaki dan pintu yang dibanting menandakan bahwa ibu sedang berkemas di kamarnya, mengambil baju yang bisa ia bawa dan benda-benda kesayangannya. Tidak ada suara tangis yang terdengar. Ibu telah berhenti menangis sejak sebulan lalu.
Tidakkan mereka sadar bahwa apa yang mereka lakukan juga menyiksa anak mereka? Atau mereka berdua sudah lupa bahwa anak mereka tidak tuli?
Entahlah. Hanya Tuhan yang tahu.
Aku mengurungkan niat untuk menahan ibu pergi, karna beberapa hari lagi ayah pasti akan membujuknya untuk pulang, meminta maaf berkali-kali hingga membuatku merasa muak mendengarnya. Bukankah permintaan maaf diucapkan sebagai janji bahwa kita tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi?
Kuraih handphone yang sedari tadi menganggur di meja belajarku. Kutekan nomor yang akhir-akhir ini sering kuhubungi. Beberapa saat aku berpikir apakah aku menganggunya jika menelfon tengah malam seperti ini? ah tapi jika aku tidak berbicara dengannya, aku tidak tahu harus bagaimana meluapkan apa yang aku rasakan sekarang.
Akhirnya kuputuskan untuk menelfonnya saja. Tak sampai lima kali nada sambung berbunyi, ia mengangkat telfon dariku.
"ibu ayah bertengkar lagi?" suara dari seberang terdengar mengantuk namun menenangkan di telingaku.
Aku mengangguk pelan. "iya.. bang. Abang kapan pulang? Bi Humairoh sama pak Jalil udah kangen abang tuh."
YOU ARE READING
Sugar Rush
Teen Fiction[Previously tittled Our Trails In Train] Indahnya dunia selalu dinikmati oleh Lavanya Ahzaraka, baik dalam suka maupun duka. Entah bagaimana, ia selalu berhasil menemukan sisi positif dari hal sekecil apapun. Bahkan ketika ia merasa hidupnya sudah h...
