SURAT MERAH MUDA

231 19 0
                                        

Burung-burung berkicauan, mentari pun mulai menampakan diri dengan gagahnya. Pagi itu Senja, gadis berambut panjang sepunggung dengan wajah cantik berdarah sunda sedang sibuk memasukan buku-buku ke dalam tas coklat miliknya. Setelah selesai memasukan semua perlengkapan sekolahnya, ia keluar dari kamar seraya menuruni tangga dengan tergesa-gesa untuk bergabung di meja makan bersama Dadi, ayahnya pria paruh baya yang berbadan tegap itu sedang membaca korannya ditemani secangkir kopi hangat. sedangkan Neni, bundanya yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah memasuki kepala empat itu sedang sibuk menyiapkan bekal untuk Senja dan Dania, adik perempuannya yang kini berusia delapan tahun.

Ngomong-ngomong mengenai keluarga Senja, saat ini ayahnya berprofesi sebagai Kepala Sekolah, walaupun bukan di tempatnya bersekolah Senja tetap bangga dengan profesi ayahnya tersebut. Sedangkan bundanya, berprofesi sebagai ibu rumah tangga, seperti kebanyakan ibu lainnya.

"Selamat pagi semuaaa" sapa Senja dengan riang.

"Pagi kak enjaaa" timpal Dania sama riangnya dengan panggilan akrabnya terhadap Senja.

"Pagi anak kebanggaan ayah" ucap Dadi yang sedang membaca korannya, Senja tersenyum mendengar ayahnya berkata seperti itu, seperti ada kebanggaan tersendiri baginya.

"Sudah bun?" tanya Senja pada bundanya yang sedang menyiapkan bekal untuknya dan Dania.

"Sedikit lagi" timpal Neni seraya tersenyum.

"Biar senja bantu bun" ucapnya seraya menghampiri Neni yang sedang memasukan beberapa potong sandwich ke dalam kotak bekal milik Senja dan Dania.

"Udah nggak usah, kamu sarapan dulu gih, bunda udah buatin susu coklat kesukaan kamu tuh" tutur Neni.

"Susu nya udah nia abisin" celetuk Dania dengan polosnya.

"Nia! Itu kan punya kak enja, nia udah bunda buatin dua gelas loh, ngga cukup?" ucap Neni kesal dengan kelakuan anak bungsunya itu.

"Susu nya enak bunda" timpal Dania membuat Senja terkekeh geli dengan tingkah polos adiknya itu.

"Nia, putri kecil kesayangan ayah, dengar ayah baik-baik ya, jangan seperti itu lagi, tidak baik sayang." ucap Dadi lembut seraya melipat koran yang telah di bacanya. Dania menunduk, kemudian ia mengangguk mengerti. Lagi-lagi Senja hanya tersenyum geli melihat tingkah gemas adiknya tersebut.

"Buatkan yang baru saja bun" sambung Dadi kemudian.

"Susu nya habis, bunda lupa belanja, biar bunda buatin teh manis aja ya?" katanya, Senja mengangguk tersenyum.

"Terimakasih untuk sarapan yang udah bunda buat pagi ini." ucap Senja, ia tak pernah mengeluh dengan apa yang bundanya berikan untuk dia santap. Baginya, setiap hal yang terjadi dalam hidupnya perlu di syukuri.

Senja menyantap roti dan segelas teh hangat yang telah di sediakan oleh bundanya bersama ayah dan juga adiknya. Pagi itu cuaca sangat dingin, tetapi bagi Senja cuaca dingin itu dapat terkalahkan oleh kehangatan yang diberikan keluarganya melalui iringan canda dan tawa.

****

Saat tiba di kelas, keadaan kelas tampak ramai, sebagian di akibatkan oleh gurauan beberapa temannya, sebagian lagi di akibatkan oleh keributan beberapa temannya yang tidak sempat mengerjakan tugas yang seharusnya mereka kerjakan di rumah. Sepertinya itu karena kemalasan mereka, bukan karena ketidaksempatan mereka.

Senja berjalan menuju tempat duduknya, di sana sudah ada Rana, sahabat sekaligus teman sebangkunya.

"Pagi senjaaa" sapa Rana setelah Senja duduk di sebelahnya.

SENJA DAN SEPUCUK SURATWhere stories live. Discover now