Menunggu adalah sebuah pilihan satu-satunya yang harus dilakukan meskipun tahu itu pasti akan sangat membosankan.
Apalagi yang harus dilakukan? Teriak? Ditengah hujan gini? Tidak akan ada yang mendengar.
Satia cowok bertubuh kurus ini sejak 10 menit yang lalu sudah duduk dibelakang kemudi mobilnya. Ia sudah mulai geram dengan tingkah lamban adiknya yang sejak tadi tak kunjung keluar.
Tin..tin..
Satia terus memainkan klakson mobilnya bagai sebuah nada baginya, hingga sang adik keluar dengan seragam sekolahnya yang terlihat buru-buru masuk mobil.
"Gak usah pake lama bisa gak sih?," omelnya kemudian.
"Tadi juga udah cepet-cepet kok,"
"Gak usah ngebantah bisa gak sih,"Kali ini dengan nada lebih tinggi lagi.
Tak butuh waktu lama, sekitar 10 menit kemudian mobil yang dikemudi Satia berhenti didepan gerbang sekolah adiknya. Cewek dengan rambut tergerai itupun segera keluar dengan santai, berjalan di tengah rintik hujan menuju ruang kelasnya.
Sania...!!!,
Teriak seseorang yang sejak tadi berdiri didepan pintu menunggu kedatangannya.
"Ada apa sih?", setibanya didepan kelas.
Menghela nafas panjang. "ck..ck Hujan-hujan begini kok jalannya santai banget sih? Gak takut kebasahan apa? dasar masa kecil kurang bahagia,"
"Biasa aja sih" jawabnya cuek seolah tak peduli dengan rambut dan bajunya yang lepek, kemudian berlalu menuju bangku miliknya.
"Bener. sistem imun dalam tubuh kitakan kebal, gak kayak lo letoy," tambah cewek tomboy yang sudah lebih dulu duduk disebelahnya.
"Gak heran sih, emang lo berduakan cewek-cewek aneh," celetuk cowok itu lagi sebelum keluar kelas dengan gaya tengilnya.
Sania dan sahabatnya Gea hanya senyum-senyum mendengar pendapat Dannis ketua kelas juga ketua osis itu. Ketua osis yang aneh, gak tau kenapa dia bisa kepilih, padahal dari sekian siswa pasti ada yang lebih becus dari dia.
Sania menatap dua bangku kosong dibelakang. "Mana Arisa? Belum pada dateng mereka?,"
"Gak tau, paling juga gak masuk," jawab Gea menengok sebentar kemudian kembali menjilati es krim coklat kesukaannya.
Cewek ini emang hobi banget makan es krim, gak kenal iklim memang, mau pagi kek, mau siang kek, mau hujan, mau panas. Kalo mau, ya makan aja, begitulah jawabnya tiap kali ditegur.
***
Jam pelajaran telah usai dan semua murid yang sejak tadi bergelut dengan buku pelajaran kemudian berhambur keluar ruangan. Juga dua sahabat yang sejak tadi sudah keluar sebelum bel berbunyi. Alasannya karena pengen ketoilet biar keluarnya cepet taunya beli minuman dikantin.
"Eh lo pada tadi kemana aja sih? Ketoilet kok lama banget?," tanya Dannis menghampiri dua cewek yang tengah bertengger dikoridor.
"Udah lah Dan, biasa aja kenapa sih," sahut Gea cewek yang gak pernah lepas sama snapback dan rompi denimnya.
"Cewek-cewek kayak lo harus sering ditegur tau gak, biar gak dicontoh sama ade kelas kita,"
"Iye tau. Tapi, kalo Sekali-sekali kan gak masalah?," tambah Sania.
"tiap hari dibilang sekali-sekali, lupa apa ya," ujarnya kemudian berlalu. Rupanya cowok itu sudah kewalahan meladeni dua cewek tengil ini. Merubah kebiasaan orang kan memang susah, apalagi bila sudah mengakar.
YOU ARE READING
S for S
Teen FictionNamanya Sania. Remaja biasa yang bisa-bisanya dibuat jatuh cinta berkali-kali bahkan hanya pada tulisan karya seseorang bernama Galang. Perasaannya semakin dalam semenjak Galang benar-benar hadir dalam hidupnya. Namun apa jadinya bila ia harus memil...
