CHAPTER 1

9.2K 240 2
                                        

Rara

"Ra, ketemu klien jam berapa?"

"Hmm?" Aku menjawab tanpa mengalihkan pandanganku pada layar laptop.

"Klien yang maksa pengen beli pemukiman yang bersengketa itu loh. Lo bukannya mau ketemuan sama dia?"

Aku mengalihkan mataku pada Sofie, salah satu teman marketingku.

"Bukannya itu klien lo?" Aku bertanya, dan menghentikan semua pekerjaanku di laptop.

"Yes, that's my client. But i am forgot, i have a date for this night." ucap Sofie.

"Ooh kabur lo." Dengusku, aku dan Sofie sudah terbiasa saling membantu. Kadang aku yang menangani klien Sofie, atau mungkin Sofie yang menangani klienku.

Walaupun kami sama-sama marketing dan bersaing, tapi bagi kami rezeki itu sudah ada yang mengatur. Jadi tidak perlu iri dengan rezeki orang, tetap saling bantu, dan rezeki tidak akan pernah tertukar.

Dan aku bersyukur, aku bisa bermain fair dengan Sofie dalam hal ini. Aku percaya padanya, dan dia juga percaya padaku.

"Pemukiman yang bersengketa itu ya? Aku udah pelajarin datanya, pemukiman itu memang bermasalah. Jadi pemerintah dan warga sama-sama mengklaim pemukiman tersebut. Disaat warga dan pemerintah bersengketa, tiba-tiba ada seorang pengusaha yang berminat untuk membeli pemukiman tersebut." Aku mengambil jeda sejenak sambil memutar-mutar bolpoin di pelipis kananku.

"Sorry Fie.. Kayaknya pengusaha itu nggak bisa maksa beli pemukiman yang nggak dijual sama masyarakatnya. Sengketanya belum selesai, kita belum tau siapa yang punya hak atas pemukiman tersebut. Kalau kita teruskan, nanti malah kita ikut tersandung dalam masalah mereka. Kasusnya terlalu ribet, hak kepemilikannya nggak sehat. Kita cuma bantuin jual properti-properti yang memang sehat secara hukum." lanjutku.

"Iya gue tau Ra, tapi masalahnya yang mau beli ini katanya dia adalah salah satu pengusaha terkaya di Indonesia. Kita ikutin aja ya untuk kali ini. Aku denger gosip, dia bisa main kasar loh, kalau kita nggak ikutin kemauan dia."

"Masa sih? Dia terkenal?" aku mengernyit heran, sebesar inikah pengaruh si pengusaha tersebut.

"Dia cuma terkenal di kalangan pengusaha dan pejabat pemerintah. Lo nggak bakalan tau. Makanya gue bingung, aduh kalo gue nggak berani ngehadepin orang macem gituan. Lo aja ya?" Sofie memamerkan gigi putihnya.

"Nggak, gue juga nggak berani." jawabku tegas.

Aku tidak mau berurusan dengan pengusaha yang bermain kotor. Dan aku juga tidak mau berurusan dengan pengusaha yang melakukan cara apa saja untuk mendapatkan yang dia mau. Sudah pasti banyak yang tunduk akan kuasanya. Bahkan sampai sekelas para pejabat pemerintahan juga tidak berani untuk melawan pengusaha ini. Jelas, pengusaha ini bukan orang yang tepat untuk diajak bermain-main.

"Terus kita gimana dong?" Sofie menunjukan wajah cemasnya. Dia masih terlihat cantik walau cemas. Pantas saja banyak laki-laki yang memacarinya. Sedangkan aku? Satu pun belum punya. How pathetic.

"Ra.. Kok malah bengong sih?"

Kenapa aku malah memikirkan nasib jombloku.

Aku mengerjapkan mata berkali-kali lalu menggeleng lemah.

"Ya udah, gue aja yang hadepin. Tapi gue nggak bakal ikutin permintaan dia."

"Tapi lo nggak apa-apa kan?"

"Apa-apa lah, tapi ya mau gimana lagi. Gue jalanin aja, ini sudah jadi resiko pekerjaan."

"Kalau lo yang hadepin, gue yakin dia bakalan mundur. Lo kan punya wajah innocent kayak gitu."

Fighting With The Bastard [Tangled Series #1]Stories to obsess over. Discover now