Hari ini adalah hari kamis, rutinitas biasanya adalah aku akan bertemu dengnnya malam ini. Aku tak tahu kenapa juga dia memilih malam jumat , untuk bertemu denganku? Kenapa dia memilih malam sesakral itu untuk menemuiku. Aku menunggunya di sebrang pusat perbelanjaan sehabis pulang bekerja, biasanya dia akan muncul sekitar 20/45 menit kemudian, jujur aku marah, ya, sebagai perempuan seperti tak wajar menunggui lelaki selama itu di sebrang pusat perbelanjaan. Seperti bukan wanita baik-baik. Tapi aku hanya bisa menggerutu disaat dia tak ada.
Tetapi malam itu , dia seperti berbeda dari biasanya, tak seperti malam jumat yang lalu-lalu. Sebelum aku sampai di tempat biasa aku menunggu, dia sudah memarkirkan mobil hitamnya itu, aku takzim menatap keberadaan nya. Sesaat aku membuka pintu depan mobil dan duduk santai. Dia menatapku lamat-lamat. "Hai cantik" Sapa lelaki bercambang itu lembut, lalu tangannya langsung mengelus rambutku , mendekatkan keningku pada wajahnya lalu mengecupnya dengan halus. Ah, aku selalu suka dengan caranya memperlakukan aku seperti ini.
Jika aku sedang kesal menunggunya, dengan caranya bersikap padaku saat bertemu semua itu akan memudar sendiriya, kekesalan atau kemarahan itu semua berubah menjadi rindu yang sangat menggebu. " Apanya yang cantik , aku malah kucel, cape abis pulang kerja" Ucapku. "aku suka lagi kalo liat muka lelah kamu kayak gini, itu artinya kamu sudah mampu melewati satu hari dengan baik, dan siap dengan hari esok yang mungkin lebih melelahkan" Ucapnya bijak.
Kenapa lelaki ini hari ini begitu bijak dan sangat terlihat menyenangkan? Bukan, bukan hanya hari ini dia seperti itu, tapi setiap aku bertemu dengannya, dia teramat menyenangkan, dia slalu mampu menghiburku dengan berbagai jokes-jokes konyolnya. Dan itu membuatku tertawa, membuatku lupa akan rasa lelah akibat seharian bekerja.
"Hari ini kamu ikut aku ya?" ajak lelaki berwajah tenang itu. aku hanya mengangguk, meng-iya-kan ajakannya. Tak seperti malam-malam sebelumnya kita bahkan bingung menentukan kemana kita akan pergi, tapi malam ini seperti sudah ter-rencana-kan olehnya. Mobil itu melesat meninggalkan jalanan di seberang pusat perbelanjaan. Sebelum kita sampai ketujuan , dia menepikan mobil nya di pinggir jalan, menjulurkan kain hitam , seperti kain penutup mata. "Pakailah, tutup matamu dengan kain itu" Ucapnya meminta. Aku seraya mengambil kain itu, dengan wajah bingung, tapi aku mengikuti keinginannya. Mobil kembali melesat membelah jalanan kota bogor.
Lima belas menit berlalu setelah menepi, dan dua jam berlalu sejak kita meninggalkan jalan diseberang pusat perbelanjaan itu, aku tahu dia mengajakku kemana ( Walaupun aku hanya menebak), tapi aku tidak tahu tepatnya dimana aku dan dia akan menghabiskan waktu bersama, malam semakin larut, akhirnya kita berhenti di tempat yang belum aku ketahui, tapi saat aku turun dari mobil, udara sejuk langsung menghantam tubuhku, membuat sekujur bulu kuduk berdiri kedinginan, ya aku tau ini kawasan puncak yang ada di kota bogor.
Dia membimbing tanganku yang masih ditutupi kain hitam itu, aku menaiki anak tangga setapak demi setapak, samar-samar aku mencium aroma wangi bumbu-bumbu dan wangi buah-buahan segar. Nampak seperti orang berlalu lalang membawa gelas-gelas kaca menuruni tangga. Tak lama langkahnya berhenti, aku pun ikut berhenti. " sekarang, aku akan buka kain penutup mata kamu, tapi kamu jangan buka mata sebelum hitungan ketiga ya" Ucapnya meminta. Aku hanya mengangguk meng-iya-kan.
"1 ... 2..... 3, sekarang buka mata kamu" Pinta-nya. Aku tertegun melhiat hamparan hutan yang begitu sejuk di sebelah kiriku, sangat indah menurutku, aku berada di atas, menikmati angin yang bertiup lembut meyusuri telingaku. Dia memeluku dari belakang. Aku memegangi pipinya lembut, dia hanya menicumi pipiku lalu tersenyum. "Apa kamu suka pemadangan seperti ini? Ini akan terlihat lebih indah jika matahari belum tenggelam" ucapnya "aku suka, sangat. Iya, sayangnya kita tak bisa menikmati senja itu, dia sudah tenggelam di kaki cakrawala beberapa jam yang lalu" Jawabku. Dia melepaskan pelukannya dan mangajaku duduk , entah malam ini aku seperti ratu. Aku melihat para koki dan pekerja lainnya sedang sibuk, memasak dan baristanya berlalu lalang ke bawah untuk mengantarkan makanan.
YOU ARE READING
Seperti inikah jadi yang dirahasiakan?
RomanceKisah ini hanya fiksi belaka, hanya pemanis buatan bukan untuk dibawa perasaan.
