"Jika kau tidak pergi, aku mungkin tidak akan seperti ini.
Jika kau memang harus pergi, aku akan menunggu berapapun lamanya.
Jika kau ingin menyakitiku, aku harap bukan seperti ini caranya.
Andai aku bisa mengulang waktu.
Andai aku bisa membuatmu untuk tetap di sini.
Andai aku tak terjatuh terlalu dalam.
Hanya tersisa penyesalan.
Hanya jika dan andai yang terucap.
Menantimu adalah cara terakhirku."
Bila di dunia ini setiap orang memiliki nama yang berbeda, entah itu nama depan atau nama belakang. Mungkin saja aku tidak akan seperti ini. Ketika ada seseorang yang mengucap namamu, aku seperti tersengat. Wajahku langsung berpaling ke arah yang dimaksud. Aku pikir dia adalah dirimu, ternyata bukan.
Apa aku benar-benar rindu padamu?
Apa kau juga merindukanku?
Dimana kau sekarang?
Masih banyak lagi pertanyaan yang ingin ku sampaikan padamu. Jumlahnya tidak hanya tiga atau empat, tapi ribuan pertanyaan memenuhi pikiranku ketika terlintas dirimu. Orang-orang berkata aku ini seperti orang gila. Menunggu seseorang yang belum pasti keberadaannya dan tak tahu alasannya.
Dia bisa saja meninggalkanmu karena ada urusan penting. Dia bisa saja tidak mengabarimu karena ia sudah memiliki kekasih. Masih banyak lagi asumsi orang-orang yang entah itu benar atau tidak. Aku tidak akan memikirkan asumsi-asumsi itu. Aku hanya akan menantimu.
***
Asap tipis terlihat di atas cangkir bermotif bunga dan berisi air berwarna hitam. Kopi itu masih panas dan baru saja di letakkan lima menit yang lalu. Terdengar iringan lembut dari sebuah pemutar musik pada komputer, musik klasik dari Beethoven yang membuat Naira duduk bersandar termenung menghadap jendela yang ia buka tirainya. Sesekali ia menyesap minumannya untuk menghangatkan pikirannya.
"Sudah kuduga, ternyata kau berada di sini." Ucap seseorang berbadan tegap, tidak gendut, tidak kurus yang baru saja datang menghampiri Naira. Wajahnya begitu teduh dan selalu berpenampilan rapi. Ia lebih tinggi sepuluh senti meter dari Naira. Ucapannya itu telah menyadarkan Naira dari lamunannya yang terus merayapi pikirannya malam ini.
"Ada apa kau kemari?" tanya Naira yang seketika memutar kursinya sembilan puluh derajat ke arah pria itu berdiri.
"Ayo keluar, temani aku makan malam." Suara yang begitu tegas terasa terdengar di telinga Naira yang membuatnya tidak bisa menolak ajakannya.
"Baiklah, kita makan di dekat kantor saja ya!" pinta Naira. Mendengar Naira menyutujui ajakannya, Eriko Yudathma tidak punya pilihan lain untuk menentukan restoran mana yang harus di singgahi. Jika Eriko membuat pilihan lain, sudah sangat dipastikan Naira akan menolak ajakannya.
"Sudah dua hari kau tidak pulang. Apa orang tuamu tidak khawatir padamu?"
"Tidak, aku sudah menghubungi orang tuaku. Tenang saja." Jawab Naira.
Naira belum pulang ke rumah selama dua hari dan harus menginap di kantornya karena pekerjaan yang begitu menumpuk serta melelahkan.
"Kau pulang saja hari ini! Lebih baik kau istirahat sekarang!" pinta Eriko pada Naira yang terlihat kelelahan. Terlihat cekungan berwarna putih kehitaman di bawah mata Naira, wajahnya lesu dan seperti tertimpa beban yang sangat berat. Namun, Naira selalu menampik penampilannya dengan tingkahnya yang seolah-olah tidak apa-apa.
"Tidak! Pekerjaanku belum selesai, ko! Aku harus menyelesaikannya, tak banyak waktu yang dibutuhkan sekarang."
"Besok! Kau bisa mengerjakannya besok! Bagaimana jika kau sakit?" Eriko meletakan sendoknya di atas meja dan berhenti memakan makanannya.
"Iko! Kau tidak perlu khawatir! Aku akan menjaga tubuh ini agar tidak sakit. Oke?" Itulah jawaban Naira yang membuat Eriko terdiam tak menyangka begitu keras kepalanya wanita yang sedang duduk di hadapannya.
"Baiklah, jika itu maumu! Ingat! Jika kau sakit, kau harus mematuhi kata-kataku. Oke?" Eriko meyerah dan memberikan opsi lain agar Naira bisa memegang kata-katanya. Naira pun menyetujui opsi tersebut dengan menganggukan kepalanya.
Eriko sangat perhatian dan peduli pada Naira. Ia sudah dekat dengannya sejak di bangku kuliah dulu. Naira dan Eriko bertemu pertama kali pada saat semester pertama di kelas yang sama dan mereka juga memiliki hobi yang sama. Tak heran jika ia bekerja dalam satu lingkup dengan Naira. Banyak teman-temannya semasa kuliah bahkan pada saat mereka sudah memasuki dunia kerja mengira bahwa mereka sedang berpacaran, tapi Naira selalu membantahnya.
"Kau mau kutemani bekerja?" tanya Eriko pada Naira setelah makan malam berakhir dan berjalan menuju luar restoran.
"Tidak usah. Kau pulang saja!"
"Kalau begitu ku antar kau sampai depan kantor ya?" tanya Eriko pada Naira dan berharap Naira tidak menolaknya. Terlihat anggukan kepala Naira yang menandakan ia bersedia untuk di antar sampai depan kantor.
Sesampainya di kantor, Naira menghembuskan nafas panjang dan menjatuhkan diri ke kursinya. Ia menghidupkan kembali musik klasik yang berjudul Moonlight Sonata di komputernya. Lima menit berlalu dan terdiam tenggelam dalam iringan musik. Naira teringat ketika Eriko membersihkan sisa makanan yang menepel pada sisi mulutnya dengan menggunakan sapu tangan hitam keabu-abuan bermotif kotak-kotak. Tidak. Ia sama sekali tidak merona mengingat kejadian itu, tetapi ada ingatan lain yang ia sendiri hampir melupakannya.
-bersambung-
YOU ARE READING
THE LAST TARGET
Teen FictionMasa-masa SMA adalah masa yang tak akan pernah terlupakan. Begitupula dengan Naira, seorang gadis biasa yang berambisi untuk mewujudkan cita-citanya, namun tak di sangka ia menjadi target selanjutnya oleh sang raja bully. Dapatkah Naira menghindar d...
