Jilid 22

3.3K 49 0
                                    

"Konon orang itu adalah Tiga padri dari See-ih!" bisik Wan Sam dengan wajah agak takut.

"Apa? Tiga orang hweesio pelindung hukum dari kuil Bhudala-si?" seru pengemis sinting terperanjat.

"Yaa, hambapun mendengar hal ini dari anggota Pay-kau!"

"Aneh sekali, kenapa padri dari See-ih itu jauh-jauh datang ke Tionggoan hanya berniat membegal barang milik Pay-kau? Betul-betul suatu kejadian yang aneh sekali."

"Wan Sam," kata kakek latah kemudian sambi tertawa, "apakah ketiga orang hweesio yang kau maksudkan itu benar-benar berasal dari wilayah Tibet?"

"Boanpwee mendapat kabar ini dari anggota Pay-kau, rasanya tak bakal salah lagi!"

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... kalau begitu pasti akan ramai sekali!" seru kakek latah awet muda sambil tertawa tergelak.

Sebaliknya Oh Put Kui bertanya dengan kening berkerut :

"Ban tua, siapa sih ketiga padri dari See-ih itu?"

"Aku sendiripun tidak tahu, aku cuma tahu ilmu Tay-jiu-eng dari para lhama Tibet merupakan semacam ilmu silat yang betul-betul luar biasa, hanya saja mereka amat jarang berkunjung ke daratan Tionggoan dimasa lalu, sehingga aku sendiripun belum sempat menyaksikan kehebatan dari ilmu silat mereka!"

"Ban tua, selama dua puluh tahun belakangan ini, mereka sudah beberapa kali berkunjung kemari !"

"Benarkah itu? Apakah ilmu Tay-jiu-eng masih bisa ditandingkan dengan ilmu Hud-im-hian-hong-jiu?"

"Selisih jauh sekali!"

"Waaah, kalau begitu tiada sesuatu yang istimewa..." gairah kakek latah segera berkurang setelah mendengar perkataan itu.

"Cuma saja..." pengemis sinting segera menambahkan sambil tertawa, "jagoan yang kujumpai tempo hari hanya golongan kelas tiga dan empat saja."

"Kalau begitu, bukankah ilmu Tay-jiu-eng terhitung cukup hebat juga?" seru kakek latah cepat sambil tertawa tergelak.

"Sudah barang tentu begitu, aku tahu ilmu silat dari golongan Mi-tiong termasuk ilmu silat tingkat atas."

"Bagus sekali, aku ingin sekali mengetahui sampai dimanakah kelihayan dari kaum lhama tersebut."

"Ban tua, besok kita harus melanjutkan perjalanan," Oh Put Kui segera menyela dengan kening berkerut.

"Eeeh... kau tak usah terburu napsu," seru kakek latah sambi lmenggeleng, "keramaian semacam ini harus kuhadiri untuk turut menyaksikannya..."

----------------------

"Ban tua, kalau begitu terpaksa boanpwee harus berangkat seorang diri lebih dulu," ucap Oh Put Kui kemudian dengan perasaan apa boleh buat.

Kakek latah awet muda menjadi tertegun tapi sejenak kemudian serunya lagi sambil tertawa tergelak :

"Kau berani?"

"Mengapa boanpwee tak berani?" Oh Put Kui balas berseru setelah sempat tertegun sejenak.

"Sebelum memperoleh persetujuanku, kau harus tetap tinggal disini secara baik-baik."

Sebetulnya Oh Put-kui hendak membantah ucapannya itu, tapi diapun mengerti bahwa berdebat hanya berarti membuang tenaga dengan percuma, sudah pasti kakek tua yang kolot ini tak akan memberi ijin kepadanya.

Terpaksa ujarnya sambil tertawa getir:

"Ban tua, aku harus menunggu sampai kapan lagi?"

"Aku sendiripun tidak tahu!" sahut si kakek latah sambil tertawa senang.

Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) - Gu LongTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang