Jilid 17

3.8K 47 0
                                    

"Omintohud, perkataan sicu terlampau serius!" kata Hui-in taysu sambil merangkap tangannya didepan dada, "ayah mu telah memberikan kebahagiaan bagi umat persilatan, budi kebaikannya tersebar sampai dimana-mana, bagaimana mungkin lolap sekalian akan berpeluk tangan belaka dalam peristiwa ini? Asalkan dapat membalaskan dendam bagi kematian Kakel malaikat, meski lolap sekalian harus mengorbankan selembar jiwapun kami bela......"

Sekilas warna semu merah menghiasi pula wajah Han-sian-hui-kiam Wici Bin, agaknya diapun agak emosi.

"Saudara Nyoo, mari kita berangkat sekarang juga ke ibokota!" serunya.

Seraya berkata dia lantas melompat bangun.

"Wici lote," kata Cui-sian siangjin sambil tertawa, "apakah kau akan pergi tanpa pamit dulu dengan tuan rumah?"

Wici Bin tertawa dingin.

"Taysu, apa sih maksud kedatagnan kita kemari? Memangnya kita datang untuk memberi muka kepada manusia malaikat berpenyakitan Lamkiong Ceng? Berapa besar sih pamor dari Lamkiong Ceng tersebut .....?"

"Tentu saja, pamornya tak pantas untuk kita hormati," sambung Bwee Kun-peng sambil tertawa.

"Yaa, rasanya pinto sekalian memang belum perlu untuk mencari muka dengan mereka!" sambung Hiang-leng tootiang sambil tertawa pula.

"Itulah sebabnya aku rasa lebih baik kita tak usah berpamitan lagio dengan mereka"sambung wici Bin cepat sambil tertawa dingin.

Cui-siun sanjin memandang sekejap kearah Hui sin taysu, kemudian setelah tertawa getir dia berkata :

"Bila pergi tanpa pamit, apakah perbuatan ini tidak akan menurunkan derajat sendiri?"

"Kalau begitu tinggalkan saja beberapa tulisan?" ucap Hui-sin taysu kemudian sambil tertawa sedih.

Baru selesai dia berkata, Wici Bin telah menyambar pena yang berada di meja dan menulis beberapa huruf besar di atas dinding ruangan :

"Kami hatuskan banyak terima kasih atas pelayanan anda !"

Kemudian sambil tertawa dia berseru:

"Ayo berangkat !"

Tanpa mengucapkan sesuatu lagi berangkatlah ke enam sosok bayangan manusia itu meninggalkan tempat tersebut.

Kepergian ke lima ciangbunjin dan majikan muda gedung Sian-hon-hu pedang kilat naga sakti Nyoo Ban-bu tanpa pamit sama sekali tidak menggemparkan tuan rumah maupun para tamu yang berada di perkampungan Siu-ning-ceng.

Perjamuan yang meriah berlangsung terus menerus sampai setengah bulan lamanya.

Kian hari pari jago persilatan yang menghadiri perjamuan pun semakin bertambah kurang.

Tapi jago-jago dari golongan rimba hijau justru makin hari semakin bertambah banyak.

Ketika mencapai hari yang ke lima belas, satu-satunya jago persilatan yang belum pergi dari situ hanyalah Pat-huang-it-koay kakek setan berhati cacad Siau Lun seorang.

Mungkin gembong iblis tua ini ingin berkumpul lebih lama lagi dengan sobat lamanya yang mengangkat nama bersama-sama dia, si kakek pelenyap hati Hui Lok, oleh sebab itu dia tetap tinggal disitu.

Kit Hu-seng, Ciu It-ceng dan Leng Seng luan telah berpamitan pada hari ke empat.

Oh Put-kui dan Lok Sin-kay berpamitan pada hari ke sepuluh.

Sewaktu hendak pergi meninggalkan tempat, secara khusus Jian-lihu-siu (kakek menyender) Leng Siau-tian menghantar mereka sampai sejauh sepuluh li.

Leng lojin minta kepada Oh Put-ui agar seusainya melakukan pekerjaan sudi mampir di Bu-lim-tit-it-po (Beteng nomor wahid dunia persilatan), karena tempat itu tak jauh letaknya dari Ci-lian san, sedang Oh Put-kui hendak pergi ke bukit Ci-lian-san.

Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) - Gu LongTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang